
"Alma?!" ucap seorang laki-laki yang datang dengan pakaian rapi dan terkejut melihat sang pengantin wanita.
"hah??!!" Alma terkejut dengan kehadiran laki-laki yang selama ini selalu perhatian dengan Alma. menurut Alma, ia merasa bersalah jika harus menyakiti hati Danish dengan perjodohan ini. sebenarnya, Alma tau jika dia mencintai Alma karena salah satu teman Danish pernah mengirimkan pesan suara untuk Alma yang jelas-jelas Danish yang bicara jika ia menyukai Alma.
"Danish?"
"Alma?"
seketika, Danish langsung memeluk Alma yang duduk di sebelah Arlan tanpa melihat Arlan sekali pun. sebaliknya Alma juga membalas pelukan hangat dari Danish karena Alma tipikal orang yang sangat mudah tersentuh dan peduli sesama.
"kak, maafin aku ya.. aku gk bisa bales perasaan Kakak ke aku. hiks. maafin aku kak" tangis Alma pecah dan menumpahkan air mata di pelukan Danish.
"syukurlah kalau kamu sudah mengetahui perasaan aku Al. seandainya dulu aku menerima perjodohan itu. mungkin sekarang kita akan duduk sejajar disini. tapi dulu aku menolak perjodohan ini karena aku hanya ingin berkomitmen Dengan kamu Al." ujar Danish yang meneteskan air matanya.
Alma melepas pelukannya dan bertanya kepada Danish sembari mengacungkan jari kelingkingnya.
"mungkin kita bisa bersahabat?"
"tentu!" jawab Danish lalu mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Alma.
"terimakasih" sambung Danish lalu memeluk Alma lagi.
"iya kak sama-sama. terimakasih tetap peduli sama aku. semoga kita bisa menjadi sahabat yang baik" balas Alma.
tidak usah ditanya, para tamu undangan dan keluarga dari kedua mempelai terkejut dan meneteskan air mata karena peristiwa yang terjadi sekarang begitu menyentuh hati. bahkan salah satu tamu pun sampai terisak.
berbeda dengan Arlan, Arlan hanya menatap Alma dan Danish datar tanpa ekspresi apapun.
"yaudah, selamat ya Al atas pernikahan ku. Arlan itu kakak aku"
"kakak? kalian saudara kandung?" tanya Alma.
"iya" jawab Arlan dan Danish bersamaan.
"yaudah, sekarang aku sudah tua. seharusnya aku ini adikmu tapi sekarang kamu adalah adikku kak. hehhe" kekeh Alma supaya Danish tidak terlalu larut dalam kesedihannya
"iya bahkan aku malah tambah muda. hehe"
*aku kok miris ya liat Arlan. dia kan suaminya malah dijadiin obat nyamuk sama istri dan adiknya:( _-author
"Danish, sini nak sama mama" ajak Nilam.
Danish menjawab ajakan Nilam lalu duduk di sebelah Nilam " iya ma"
"maafin aku kak, seandainya aku disuruh memilih siapa yang akan menjadi suami aku. aku pasti akan memiliki kakak daripada kak Arlan. walaupun aku tidak mencintai kakak tapi sikap kakak lebih baik daripada kak Arlan" batin Alma.
"mungkin kita belum berjodoh Al, semoga kita bisa menemukan jalan kita masing-masing. tapi aku tau tipikal kak Arlan kaya gimana. sekali dia menyakitimu aku akan bersedia menjadi sandaran mu. jika memang kak Arlan tidak kuat dengan kehidupan rumah tangga. mungkin aku bisa menerima mu apa adanya" batin Danish.
acara berjalan dengan lancar walaupun ada sedikit peristiwa yang lumayan menguras air mata. tapi tidak menggangu acara pernikahan mereka. UU No. 16/2019 tentang Perubahan atas UU No. 1/1974 tentang Perkawinan telah menaikkan usia minimal kawin perempuan dari 16 tahun menjadi 19 tahun. tapi hukum akan mengizinkan jika orang tua meminta dispensasi dengan pengadilan. jadi tentang undang-undang itu, Riko dan Tino sudah mengurus semuanya tanpa menentang hukum.
Hari sudah mulai malam, Alma dan Arlan berjalan menuju kamar Alma. tapi alangkah terkejutnya Arlan melihat keadaan kamar Alma.
"hah?!" Arlan terkejut.
Arlan terkejut dengan kamar Alma yang dominan Dengan warna hijau khas warna Persebaya, bedcover Persebayandan ada gravity logo Persebaya di dinding. bola berlogo Persebaya yang dipajang di dalam etalase kotak. syal Persebaya yang terpampang jelas. spanduk, bendera, dan atribut lain yang bermakna Persebaya sudah tertata rapi di kamar Alma.
tapi di tembok juga ada polaroid Exo dan Blackpink yang menempel di dinding.
Arlan berkeliling melihat kamar alam, di rak buku Alma isinya bukan buku melainkan album dari Blackpink dan Exo sudah lengkap berjajar di rak. tak lupa lightstick yang terpajang. 2 foto besar yang menunjukkan foto keluarga Riko dan satunya adalah foto masa kecil Alma yang sangat imut.
"ini kamar Lo?" tanya Arlan.
"iya"
"kamar bang Adhika PUBG, kamar Lo Persebaya terus kamar arya apaan lagi dah? aneh-aneh aja kamarnya"
"kamar Arya Arema, emang kenapa? kita mempunyai idola masing-masing tapi kita saling menghargai karena hubungan yang baik akan terasa lebih indah daripada idola kita melebihi idola yang lain!"
"bodoamat!"
Alma segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan mengambil air wudhu. setelah itu ia mengambil mukena nya di lemari lalu menunaikan shalat Maghrib di sebelah kanan ranjang.
"dia begitu berbeda dengan yang gue kira. gue kira dia bocah barbar yang tidak terlalu memikirkan Agama. ternyata sebaliknya, dia begitu mementingkan agama dan imannya" batin Arlan.
usai shalat, Alma melipat Kembali mukena nya dan memasukkan nya ke lemari lagi.
"kak sholat dulu!" perintah Alma.
"ahh! nanti" jawab Arlan.
"apakah kegiatan untuk kesenangan pribadi lo kurang banyak sampe enggan menunaikan perintah Allah selama 5 menit saja!" jelas Alma.
"gue gk bisa sholat" lirih Arlan tapi tetap bisa terdengar oleh Alma.
"yaudah ayo gue ajarin" jawab Alma dan dibalas anggukan oleh Arlan.
Alma mengajari Arlan dari niat-niat Sholat fardhu dan Sunnah. doa iftitah dan bacaan sholat lainnya serta dia qunut.
sejujurnya, Arlan agak susah untuk diajari karena dia susah menghafalkan dan tidak terlalu serius untuk menghafalkan nya.
tanpa disadari, Tino dan Nilam melihat dari pintu yang agak terbuka sedikit. mereka merasa sangat bersyukur karena Alma bisa menuntun Arlan ke jalan yang lebih baik daripada yang dulu.
"terimakasih Al, kamu bisa mengubah Arlan. biasanya dia langsung keluar rumah jika mama memanggil guru untuk mengajari nya tentang agama. tapi kamu bisa langsung mengajari Arlan walaupun tidak terlalu memperhatikan" batin Nilam.
"yaudah pa ayo kita pulang" ajak Nilam.
"Alma enak ya langsung bisa ngajarin tu batu" sahut Tino.
"iya, yaudah makanya kita tinggal!" ucap Nilam yang sudah mulai kesal.
"iyaa" jawab Tino tanpa disadari Alma dan Arlan.
END
BERSAMBUNG~