
"mah , kaya nya kita mau punya cucu" ucap riko menduga-duga karena baru kali melihat Alma menggunakan daster.
"lah iya pah , si Arlan juga nemplok , mana pegang perut si Alma. kek nya bener nih kita punya cucu pahh " Tutur Yufi bahagia.
"siang mah , pah" sapa Alma lalu duduk di kursi.
"siang " ucap Arlan dan duduk di kursi kosong di sebelah Alma.
"makan yang banyak ya , biar sehat" tutur Yufi Sembari menaruh nasi di piring Arlan dan Alma.
"Alma udah ga mual kan ? atau lagi pengen apa gitu ?" tanya Yufi protektif.
"mual ? enggaa , ngapain mual?"
"ah syukurlah kalo gitu , makan yang banyak ya kalian. mama tinggal dulu ya , ayo pah !" pamit Yufi dengan cengar-cengir.
"hah oke mah"
Yufi dan Riko pun pergi , Alma Arlan hanya melihat mereka dengan tatapan kebingungan. entahlah apa yang terjadi dengan mereka.
"Makan Sono , bengong mulu lu Bagong "
"suapin" ucap Arlan manja.
"dih , tangan mu buat apaaan?" tolak Alma.
"lapor nih gw , lu pernah kabur" ancam Arlan.
"aihh , emang lu ya kak. tau dah" pasrah Alma kemudian mulai menyuapkan satu persatu suapan dan bergantian dengan dia makan sendiri.
"woyy masih siang udah suapΒ² an aja hahaha" ucap Vanya yang baru datang.
"nih orang stress , bukan gw " elak Alma malas.
"udah santai aja , btw tumben pake daster. udah bunting berapa bulan?" tanya Vanya melihat daster yang Alma pakai.
"sembarang , kaga ! gua kaga hamil paok "
"dia nya yang ga mau di buntingin , mungkin kalo udah gua tanem udah jadi dari dulu" ucap Arlan menyahut seruan Alma.
"au dah , besok ujian hari terakhir. fighting ! bye "
" Yoi " jawab Alma.
kemudian , Alma dan Arlan melanjutkan makan nya. jujur saja , Alma sedikit frustasi dengan manja nya Arlan. tetapi ancaman nya yang membuat mau tak mau harus mau.
selesai nya makan , Alma ke halaman belakang untuk bersantai sejenak dan Arlan kembali ke kamar dengan alasan mengantuk.
Alma duduk di kursi taman yang terletak di pinggir kolam renang , dia menatap kosong kolam dan melempari batu batu kecil ke arah kolam.
entah apa yang di pikirkan Alma tetapi sepertinya Alma begitu kalut dengan pikiran itu. Arlan yang iseng pun berjalan ke arah balkon kamar.
" loh ? itu alma ? ngapain ngelamut disana ? ntar kesambet begimana ini ! " batin Arlan .
Arlan beranjak dari kamar nya dan berjalan cepat ke arah halaman belakang untuk menghampiri Alma , saat sudah dekat dengan kursi yang di duduki oleh istrinya itu , dengan berjalan dengan mengendap endap.
greepp !
Arlan memeluk leher Alma dari belakang dan mencium rambutnya.
" ngapain ngelamun disini hm ?" tanya Arlan lembut.
Alma memegang tangan Arlan yang di lehernya dan menggeleng pelan sembari tersenyum tipis.
"ga , gapapa. tadi katanya tidur ? kenapa ga tidur kak ?"
Arlan melepaskan pelukannya dan duduk di sebelah Alma. merangkul pundak nya lalu menyenderkan kepala Alma ke pundak nya Sembari mengelu-elus rambutnya.
" dih ga mungkin , ada apa ? " tanya Arlan sekali lagi.
"gw takut kalo Lo ceritain semuanya Kak , apalagi kalo sampe Lidya tau. males banget punya urusan sama orang kaya gitu" keluh Alma.
"Alma takut kalah kah sama Lidya?"
"siapa yang takut ? cuma males kak"
"ga usah males , kalo lo yakin. lo bakal baik-baik aja"
"bodo , mendingan ganti baju. ga nyaman pake kek gini"
"pake itu aja , enak di liat nya Al"
"dih , gua pake baju haram mangapΒ² lu kak"
_______________________________________
keesokan harinya. . . .
heumm.
pagi yang cerah , Alma membatin.
dia melanjutkan mandi nya kemudian setelah selesai ia membangunkan Arlan.
"eeeuummmm" Arlan hanya membalas dengan raungan khas orang bangun tidur tapi tidak membuka matanya sama sekali.
karena malas , Alma mengambil membuka handuk yang melilit rambutnya kemudian menggosok muka Arlan dengan handuk basah itu.
"bangun , udah pagi !"
"heh ! heh Alma ! dingin gobl*k !" teriak Arlan menghindari diri dari handuk yang tengah menggosok muka tampan nya lalu terduduk.
"mandi sana , gua lagi males banget hari ini" ujar Alma lesu.
"mau gw mandiin emang ? ya udahlah ayo" jawab Arlan bersemangat.
"sinting ! ya kaga lah paok. udah lah snaa mandi gua mau ganti baju"
"aelah yaudah bye sj , gw mau mandi. kalo mau join masuk aja. pintu nya kaga di kunci"
"kak Arlan setres ! sinting !"
"sama suami ga boleh kaya gitu , di laknat malaikat tau rasa kau Al"
"elu nya yang buat gedek !
"kok galak sih ? lu datang bulan Al ?" tanya Arlan menyempitkan pandangan nya.
"hm , kenapa tanya tanya ? mendingan mandi sana dah"
"hadehh , yaudah lah pasrah gua" ucap lesu Arlan lalu masuk ke kamar mandi.
β
pukul sudah menunjukkan pukul set 7 pagi , Alma dan Arlan turun ke meja makan untuk langsung berpamitan saja.
"mah , pah. Alma sama kak Arlan langsung berangkat aja ya" pamit Alma sembari Salim ke semua keluarga nya termasuk ibu nya vanya.
"bang ? Lo jam segini masih kaya gelandangan aja. ga kuliah ?" Alma bertanya kepada kakak laki-laki nya itu.
"kaga , libur gw. males mandi juga"
"dih males ! , motor Lo gua pake ya"
"heem pake aja"
"nah gitu dong , thanks bang"
"Yoi"
setelah mendapat izin , Alma menarik tangan Arlan keluar rumah dan menariknya hingga sampai garasi.
Alma menaruh sebuah kunci motor di tangan Arlan , kemudian ia bertanya
"lah ? buat apa ini ?"
"berangkat sekolah kita pake ini" jawab Alma.
"Alma , Lo pake Rok heh. Lo juga lagi datang bulan. malah minta naik motor tinggi"
"mau nya pake ini aja kak !"
"aihh yaudah lah serah"
"nahh gitu dong kak"
"gua ambil jaket dulu Bentar"
" Iya kak "
Arlan pun segera kembali masuk ke dalam rumah dan mengambil dua buah jaket dari dalam kamar lalu membawanya keluar. tak lupa , Arlan juga memakaikan jaket itu ke badannya dan badan istrinya itu.
"ambil helm di sebelah Lo" pinta Arlan
"iya" jawab Alma kemudian mengambil helm nya dan memakaikan ke kepala Arlan.
senam jantung ? oh tentu saja. melihat muka Alma yang serius mengaitkan helm nya , bibir pink natural , dan hembusan nafas yang berbau manis membuat Arlan tak bisa menjaga ketentraman jantung nya.
"udah al" Arlan mencoba menghindar
"yaudah"
kemudian Arlan pun memundurkan motor nya dan memanaskan mesin nya sebentar. setelah dirasa cukup panas , Arlan menyuruh Alma untuk naik.
"oi , naik"
setelah siap , Arlan mulai menjalankan motornya perlahan karena masih di area komplek dan motor ini adalah motor yang berisik.
saat sudah masuk ke jalan raya , Arlan segera menge gas motornya dan membuat Alma reflek langsung memeluk nya sangat erat.
"kak , hati-hati" tutur Alma pelan.
πππ
ππππππππππ