YOUNG | Unpublish

YOUNG | Unpublish
teror



GUBRAK!!!!!!


"AAAAAAAA!!" Alma terkejut dan spontan langsung memeluk Arlan.


"eh!!" kaget Arlan.


Ada sebuah batu lumayan besar yang memecahkan Jendela kamar Alma. batu besar itu seperti terdapat secarik kertas.


"kak! ada kertasnya!" ujar Alma gemetar melihat kertas yang sudah terikat di batu itu.


"iya,Lo gak usah takut! gue ada disini!" Arlan mencoba menenangkan Alma yang terlihat gemetar.


"Permainan bakal dimulai hari ini Al! besok sampai nanti gue bakal terus teror Lo!"


isi secarik kertas itu.


"apa kak?" ucap Alma ketakutan.


"udah Lo diem aja! biar gue yang urus!"


"apa itu Lidya?" tanya Alma.


"gak tau! ini bukan tulisan tangan tapi font komputer yang di lumuri darah segar!" jawab Arlan.


"kak! gue takut!"


"udah Lo tenang aja!"


Pintu kamar Alma pun langsung dibuka paksa.


"ada apa Al!!" Ucap Adhika terkejut saat mendengar suara barang pecah dari dalam kamar Alma.


"bang!" Alma langsung memeluk Andhika dan gemetar di pelukan Andhika.


"udah Al! Lo tenang aja! gue sama Arlan ada. kita bakal selidiki ini!" Andhika mengelus rambut dan punggung Alma.


"ada apa Ar?" tanya Andhika.


"ada orang yang ngelempar batu terus ada kertasnya bang. terus kaca nya pecah! tapi anehnya kertas nya ada darah yang sengaja di usapkan. dari bau-bau nya juga ini Daras asli" ucap Arlan.


"yaudah! Alma kebawah! gue sama arlan sholat Jumat dulu terus selidiki kasus ini!"


"iya bang!" ucap Alma lalu berjalan tertatih-tatih ke bawah.


_____


"Ar, apa ini ulah mantan pacar Lo?!" tanya Andhika.


"kalo itu gue kurang tau bang soalnya tulisannya itu tulisan font! cara supaya kita tau itu rekaman cctv daerah sini!" jelas Arlan.


"yaudah itu buat nanti aja! sekarang ayo ke mesjid!" ajak Andhika.


"iya!"


-dibawah


"mamah!" ujar Alma gemetaran dan duduk di pelukan Yufi.


"loh Alma? kenapa nak?" tanya yufi khawatir.


"kamu kena KDRT?"


"kepleset?"


"apa gimana?"


tanya Yufi.


saat Yufi melihat Arlan dan Andhika turun dari tangga, Yufi pun langsung bertanya.


"Andhika! Arlan! Alma kenapa kok gemeteran kek gini?"


"tadi, ada batu lumayan besar yang mecahin kaca jendela kamar Alma. terus di batu itu anda secarik kertas yang tulisannya 'Permainan bakal dimulai hari ini Al! besok sampai nanti gue bakal terus teror Lo!'


terus di kertas itu ada usapan darah segar!" jelas Arlan.


"astaghfirullah! emang kamu sering dapet begituan Al?" tanya Yufi.


"enggak ma, tapi Alma sering banget dapet SMS yang gak gelas.. padahal Alma udah ganti nomor. udah itu aja!" ujar Alma.


"oh! mungkin, semua itu ada hubungannya. Sekarang kalian cepet berangkat! Alma biar mama yang urus!"


"iya!"


Arlan dan Andhika pun pergi.


"Alma! kenapa SMS itu dianggep remeh?!" ucap Yufi.


"ya mau gimana lagi ma? dari awal juga aku udah panik tapi gak ada apa-apa jadi aku sepelein aja!" jelas Alma.


"keterlaluan! awas aja nanti kalo sama ada apa-apa!!"


Yufi merasa geram.


"iya ma!"


jam sholat Jumat pun selesai, Arlan dan Andhika yang baru saja sampai langsung Mengganti pakaiannya lalu Andhika mencari Alma.


"Al! sini dulu deh!" pinta Andhika yang melihat Alma sedang di gazebo samping rumah.


"kenapa?" tanya Alma.


"udah gak takut lagi?" Ucap Andhika dan duduk di samping Alma.


"eumm mungkin mau dilupain dulu soalnya Besok Senin udah Ujian akhir kan. kalo mau diselidiki, Abang selidiki aja!" ujar Alma.


"yaudah, biar gue yang selidiki! Lo sama Arlan fokus ujian dulu!"


"iya bang"


***


Hari pun mulai berganti, sekarang saatnya ujian akhir semester dilaksanakan. Alma dkk, Arlan dkk, Ghavin, dan Danish sudah berkumpul di taman sekolah. dan duduk melingkar di atas rumput hijau.


mereka membaca buku masing-masing.


"hai Arlan!" sapa Lidya yang baru saja datang lalu langsung menempel genit ke Arlan.


"apaan sih!" Arlan menarik tangan nya paksa.


"Lidya! mendingan Lo pergi! Lo udah bukan apa-apa lagi buat Arlan, dan 1 lagi. jangan ganggu hubungan kakak gue sama Alma!" usir Danish.


"sayang, liat deh Adek kamu gitu banget!" ucap Lidya manja.


"elu tuh yang keterlaluan! Lo pergi dari sini! jangan ganggu gua lagi! gue tanya ke Lo lagi! yang ninggalin gue dulu siapa?! Lo cuma manfaatin status sosial papa Lo!" ucap Arlan dengan keras membuat Lidya tersentak.


"eh! apa Lo semuanya gak usah liat liat!" ancam Lidya.


"hidihh, justru Lo yang gak usah liat liat! pelakor kok sombong!" sinis Raina.


"eh Lo berani Sama gua!!" Lidya hendak menjambak rambut Raina tapi terhalang karena tangannya di pegang oleh Zain.


"Lo berani sentuh temen gue! Lo juga harus ngerasain itu!" ucap Zain.


"f*ck!" Ucap Lidya lalu pergi dari taman sekolah.


"pergi juga tu binatang!" ujar Raina.


"nyusahin ****!" keluh Roy


"diem lu host karma!" Farhan mencubit pelan Roy


"udah biarin aja!" ucap Alma.


"kok Lo gak marah sih Al?! gua liat aja udah pengen tak tendang perut nya?!" ucap Raina.


"sebenernya gua juga pengen keluarin jurus silat andalan gua. tapi nanti malah ketemu pak kifli di bk!" jawab Alma.


"astaga! jadi lo diem aja biar gak ketemu tu pak botak?!" sahut semuanya kecuali Arlan dan Alma.


"iya!" jawab Alma santai.


"astaga kadal! bang! jahat bet dah pasangan Lo ini! bisa-bisanya dia diem aja biar kagak ketemu pak botak bukannya diem karena gak mau betengkar!"


"Eh guys! emang ada ya kamus Indonesia-bekasi?" tanya Miko yang yang sedang fokus dengan bukunya.


"he?" semuanya terlihat kebingungan.


"ini, dari tadi gua fokus sama ini. dimana belinya?" Miko menunjukkan salah satu panel komik yang ia baca.


"jadi dari tadi ku baca komik mik?!!" Kaget Farhan.


"iya" jawab Miko seakan-akan dia tak pernah tersentuh dengan dosa-dosa.


"****, ga ada akhlak! tinggal tinggal! Miko mah ah!" kesal Roy lelah dengan tingkah Miko.


"sabar Napa! Miko juga bisa traktir in kita di resto bapak nya heheh!" kekeh Arlan.


"kak! gua bingung deh! kok bisa elu dapet temen se Genk kelakuan anak baru masuk paud" ujar Alma.


"tau tuh, soalnya bapak nya tu anak temen nya papa jadi kaya dari kecil sampe sekarang bareng ber 4" jawab Arlan.


"bentar! jadi kalian empat sekawan?" sahut Mya.


"hooh!"


"Oalah jadi pacar kamu ini udah kebiasaan sama kegoblok an bang Miko!" ucap Zain.


"iya, udah biarin aja biarin dia lanjut mikir!" ucap Alma.


𝐄𝖓𝖉


𝐁𝖊𝖗𝖘𝖆𝖒𝖇𝖚𝖓𝖌