
"lah tambah ngaco! jangan bilang ini gara gara Tita? lupain kak mendingan Lo tidur Besok ujian lagi!"
"hm"
Alma mengelus rambut Arlan dan menepuk pelan lengannya agar cepat tertidur.
"maaf kak" batin Alma lalu tertidur dalam keadaan memeluk Arlan.
ceklek-!
pintu terbuka.
"wah? mereka pelukan?" Yufi terkejut saat melihat Alma dan Arlan tertidur Dengan keadaan berpelukan.
Yufi menghampiri nya, dan menyelimuti mereka.
"Si Arlan malah di dada si Alma pula, yang langgeng ya Kalian. mama pengen kalian tetep bareng dan belajar saling mencintai" ujar Yufi dan mengelus rambut Alma dan Arlan lalu mematikan lampu dan Menutup pintunya.
~
Sinar matahari menembus kaca jendela dan menyinari wajah Alma. Alma membuka mata perlahan, dan sedikit bergerak.
"mmmhh" Arlan mengeratkan pelukannya.
"meh, bangun kak" Ucap Alma dengan suara beratnya dan melepaskan pelukannya
"apaan sih?!" protes Arlan menggaruk kepalanya.
"bangun, mandi, Sekolah, nyenyak amat tidur nya!" omel Alma.
"Lo nya ga pake Daleman di dada makanya empuk, ya nyenyak lah tidur gue" ujar Arlan mengucek matanya.
"gila!" Alma langsung beranjak dari kasur dan segera mandi.
"gila darimana? asli Al empuk banget!" teriak Arlan.
"diem lu setan!"
"dih gue jujur, tapi lumayanlah dapet empuk empuk pas tidur"
batin Arlan.
beberapa saat kemudian.
mereka berdua sudah siap untuk berangkat sekolah.
Alma dan Arlan turun bersama lalu duduk di meja makan bersama keluarga nya berserta Vanya dan ibu nya.
"morning!" sapa Alma.
"morning!" balas semuanya.
"Ar, nyenyak ga tidur nya?" tanya Yufi dan mengoleskan selai di roti.
Semua mata tertuju pada Yufi dan Arlan, mereka terlihat kebingungan dengan pertanyaan Yufi termasuk Arlan yang tak memahami pertanyaan mertua nya itu.
"nyenyak ma, emang ada apa" jawab Arlan.
"lupain, pasti nyenyak banget kan hehe" Yufi terkekeh lalu melanjutkan pekerjaannya.
"mamah ngomongin apaan? gue samasekali ga paham. masa mama join tidur semalem?" batin Arlan.
selesainya sarapan, Arlan Dan Alma bersiap untuk berangkat.
"bareng yuk Van" ajak Alma.
"ga usah Al" tolak Vanya.
"pliss, sesekali ikut gue Biar gue gak tertekan!"
"tapi ke tertekanan Lo bisa bikin kalian tambah Deket"
"lah jin, udah Ayo ikut aja!" Alma menarik tangan Vanya.
"assalamualaikum, kita bertiga berangkat!" pamit Alma dan menarik tangan Arlan lalu menarik kedua orang itu keluar.
"wait! mama ngomong sebentar sama kalian berdua!" ucap Yufi.
"hm apalagi mah?" tanya Alma.
"udah sini aja" ajak Yufi ke dapur.
saat di dapur, Alma, Arlan dan Yufi berdiri dan saling bertatapan.
"semalem kalian tidur nya nyenyak kan?" tanya Yufi pelan.
"iya mah Astagfirullah, emang ada apaan?" jawab Alma.
"Ar, empuk gak?" goda Yufi membuat Alma dan Arlan membelalakkan matanya.
"maksud mama? mama liat?" tanya Arlan.
Pak Toha sudah menyiapkan mobil nya.
"den, ini mobil nya udah siap pakai"
"iya pak makasih ya"
"sama-sama den"
Arlan memasuki mobil nya dan ternyata Alma bergabung dengan Vanya di kursi belakang.
"sorry nih ya, bukannya gue ga terima kalo Alma duduk di belakang tapi kalo gue disini serasa jadi supir!" protes Arlan.
"udahlah kak, tinggal nyetir mobil aja apa susah nya?"
"hust, gue disini malah serasa nyamuk. mendingan Lo kedepan Al" saran Vanya.
"ga ga ga ga, gue ga mau!" tolak Alma.
"udahlah!" pasrah Arlan lalu langsung Mengendarai mobil nya.
15 menit perjalanan, merekapun sudah sampai di sekolah. Arlan memarkirkan mobilnya dan segera keluar dari mobil disusul Alma dan Vanya.
"gue duluan ke kelas, bye" pamit Arlan dan pergi meninggalkan mereka.
"jangan lupa belajar!!" teriak Alma.
"yoi!" Arlan berbalik, mengacungkan jempolnya dan berkedip sebelah mata lalu kembali berjalan.
"dari tampang nya kaya buaya banget, ih gelayy" Cibir Alma.
"buaya buaya apaan?! suami Lo itu Al, dia udah setia ama Lo ya bersyukur. udahlah ayo masuk" ajak Vanya meninggalkan Alma.
"dari tampang nya doang Van, bukan dalem nya!" ujar Alma menyusul Vanya.
waktu terus berlalu, ujian 2 mata pelajaran sudah berlalu sekarang para siswa-siswi Keluar dari nya dan menikmati waktu istirahatnya. Alma sedang membereskan meja nya seorang diri di kelas, kemudian Arlan memasuki kelas Alma.
"gimana ujiannya?" tanya Arlan yang duduk di bangku sebelah Alma.
"ga susah-susah banget, Lo? susah ga kak?"
"Banget, untung gue dikasih contekan sama temen gue yang pinter"
"hah?! contekan?!" Alma langsung berdiri tegak dan menatap Arlan tajam.
"emang ngapa? Lo mau bunuh gua? liatin nya gitu amat"
"siapa yang ngasih Lo contekan?" Tanya Alma menyilangkan tangannya di dada.
"temen, depan bangku gue" jawab Arlan santai.
"oh cewe caper itu? kenapa Lo terima contekan dia?"
"nikmat mana yang di sia-sia in Al? lumayan lah"
"gue tanya sama Lo, kenapa Lo ambil contekan dari dia? udah tau tu cewe agak kaga bener malah Lo ambil contekannya. bagus? bagus ga kaya gitu?!" Emosi Alma mulai memuncak.
"emang kenapa? kenapa Lo Semarah ini sama gue?" kesal Arlan dan langsung berdiri tepat di depan Alma.
"kak, Lo tau ga? status Lo bukan temen gue, bukan musuh gue. Lo suami gue! gue mohon Lo, jaga diri jaga mata jaga ucapan jaga sikap! bagus kah Nerima pemberian cewe lain?, mana itu pemberian dengan tujuan jelek dari cewe yang suka sama Lo. gue ga marah kalo dia ngasih makanan atau apapun yang baik baik, kalo contekan? gue ga bisa toleransi kak!!" tekan Alma sembari menunjuk nunjuk dada Arlan pelan.
"gue tau Al, tapi gue sendiri juga kesusahan!"
"gue ga peduli, terserah Lo. Lo bebas" Alma menghapus air mata nya yang akan menetes dan langsung pergi meninggalkan Arlan.
"Al! Alma! tungguin gue!" teriak Arlan tetepi samasekali tak di gubris oleh Alma.
Alma POV||•
aku berlari kencang untuk menuju sudut belakang sekolah. air mataku yang terus menetes Ku sekap dengan cepat.
sampailah aku di tempat yang ku tuju.
aku terduduk lemas dan memeluk lutut kaki ku.
aku terisak di kaki ku sendiri, rasanya ingin sekali memukul anak perempuan yang memberikan kak Arlan contekan.
"seburuk itukah gue? Sampe pasangan sendiri ngambil Pemberian yang ga semestinya diambil, mana dari cewe caper pula akhh!" aku meremas rambutku kencang.
back to author POV||•
Danish yang kebetulan lewat tak sengaja melihat seorang perempuan meringkuk di Bawa pohon dan Danish berbatin.
"setan atau bukan? itu rambutnya berantakan mana di bawah pohon. samperin ga nih? masa ada setan siang bolong begini? samperin ah, lumayan juga kalo setan nya cantik"
𝐄𝖓𝖉
𝐁𝖊𝖗𝖘𝖆𝖒𝖇𝖚𝖓𝖌