
"kak , hati-hati" tutur Alma pelan.
"e-eh sorry Al"
jantung Arlan semakin berdetak kencang. amara masih memeluknya dengan erat dan ya, punggungnya yang merasa dada Alma pun membuat nafas Arlan tak karuan.
"tahan lan tahan, jangan disini"
sesampainya di sekolah, Arlan memarkirnya motornya dan menaruh helm nya.
"kak" Alma menarik seragam Arlan pelan.
"kenapa?" tanya arlan.
"perut gue sakit banget, ayo pulang. kayanya gue ga kuat nahan nya kalo di sekolah" ucap Amara dengan suara pelan dan terdengar seperti menahan sakit.
"kram perut? Yaudah pulang ya. kita naik taksi dulu nanti motornya gampang bisa di anter pulang sama temen"
"iya kak"
Arlan pun menuntun Alma ke depan gerbang sekolah, dan memesan taksi online. tak lama, sekitar 10 menit kemudian taksi itu datang
"sesuai aplikasi ya pak"
"siap mas"
taksi nya pun mulai berjalan, Arlan terlihat sedang mengetikan pesan ke Danish untuk mengirimkan surat izin hari ini.
"shhh" desis alma menahan sakit.
"sakit banget ya?" Arlan memegang tangan Alma yang berada di Perut.
"sakit lah, coba lo aja yang ngerasain"
"kalo bisa semua sakit yang Lo tanggung transfer ke gue aja Al"
"serah"
suasana hening sejenak, Arlan hanya menatap Alma dengan kasihan karena tak tega melihat Alma yang terlihat begitu kesakitan. Alma mendekat ke arah Arlan, dia duduk di duduk di pangkuannya lalu memeluk Arlan dengan erat.
"sakit kak" ucap alma sedang sedikit terisak.
"pak, mohon privasi ya" ucap Arlan untuk driver tersebut dan driver itu pun mengiyakan.
Arlan memeluk kembali pinggang Alma dan mengelus elus perutnya berharap agar sakitnya berkurang.
beberapa menit kemudian , taksi sudah sampai di tujuan. sekarang mereka ada di depan gedung apartemen Arlan.
Arlan menggendong Alma yang tertidur ala bridal style.
mereka sudah sampai di depan pintu , Arlan membuka kuncinya lalu membawa Alma masuk.
— di kamar
ia menidurkan Alma secara perlahan di ranjang , tapi tak sengaja Arlan pun ikut tertarik dan menindih tubuh istrinya itu.
"aduh buset ini gimana anjir" batin Arlan sembari mencoba melepaskan diri.
"kak sakit, lo disini aja" ucap alma pelan.
"iya gue disini, tidur yang nyenyak yah" Arlan membenarkan posisinya dan mendekap erat tubuh Alma agar dia kembali tidur. Alma pun membalas pelukannya itu.
"jangan kemana-mana" Alma berbisik kemudian mendongakkan kepalanya dan membuat bibirnya dan bibir Arlan menempel.
"hah? emang ngerti dapet bisa buat orang halusinasi kaya orang mabok? Gila ini kesambet apaan bini gue"
walaupun tak ada balasan, setidaknya dia bisa merasakan secuil hak nya yang membuat dia penasaran itu.
Arlan memperdalam ******nnya tersebut. tanpa disadari, Alma mulai terbangun karena nafasnya sesak. ia membuka matanya pelan-pelan dan ia terkejut.
"ini gue ngapain. kok jadi ******n gini?!"
Alma yang sudah tersadar pun mulai mendorong dada Arlan. namun Arlan yang sudah benar-benar menikmati itu hanya membuka matanya sebentar lalu melanjutkan lum*t*n itu.
Alma kembali memberontak, tetapi Arlan menggenggam tangan nya.
"biarin gue ngerasain bibir lo" tutur Arlan dengan suara berat.
"tap-" ucapan Alma terpotong karena Arlan menindihnya terlebih dahulu.
"gue ga salah kan? semuanya yang lo punya itu punya gue dan itu juga berlaku buat lo"
Arlan mengelus Surai rambut Alma, ia menatap Alma dengan tatapan sayu,dalam dan terlihat begitu berperasaan.
"gue percaya sama lo al dan mungkin ini juga kesempatan gue buat confess ke lo. jangan pikir ini cuma rayuan doang ya, gue udah nikahin Lo lebih dulu"
"gue sayang sama lo, ngelebihin gue sayang sama diri gue sendiri Al. terserah Lo mau percaya atau enggak, kalo bisa gue bakal nikah ulang biar lo percaya sama perasaan gue" jelas arlan.
Alma yang mendengar seluruh penjelasan Arlan pun sedikit terenyuh. Sepertinya dia tulus. Mungkin sekarang juga saatnya Alma membicarakan ini, mau seperti apapun itu yang namanya hubungan suami istri tidak ada istilah memendam perasaan satu sama lain.
"aku boleh jujur, kak?"
"boleh, jujur aja"
"aku juga ngerasain hal sama kaya kamu, jadi aku juga minta tolong jangan buat kepercayaan gue hancur ya?"
"seperti kemauan mu, sayang" bisik Arlan tepat di telinga Alma.
deg
Jantung Alma serasa sedang berlari.
"aduh al, jaga sikap. ini bukan waktu yang tepat buat salto"
"aku percaya sama kamu kak, tapi kita bisa bikin kesepakatan kan?" tawar Alma.
"kesepakatan apa?"
"kamu boleh lakuin apapun itu maupun sebaliknya terkecuali hmm karena aku belum siap"
"hmm? apa hmm?" Arlan berpura-pura tak tau.
"yaa ituu ih, ga mungkin banget ga tau orang kamu biang nya" kesal Alma.
"hahaha gue ga tau kedepannya Al. terkadang ***** juga ga bisa ke kontrol. tapi gue bakal berusaha"
"harus itu harus"
"i love u" ucap alma lirih.
"i love you too" balas arlan dengan senyumannya kemudian Alma memegang rahang Arlan dan mencium bibir nya.
Arlan tak mau kalah, ia langsung melahap bibir istrinya itu tanpa ampun. Walaupun ada yang terabaikan yaitu ***** Arlan. tetapi tak apa, segini saja dia sudah bersyukur.
𝐄𝖓𝖉
𝐁𝖊𝖗𝖘𝖆𝖒𝖇𝖚𝖓𝖌