YOUNG | Unpublish

YOUNG | Unpublish
sakit



***


"Uda udah, kalian bertengkar Mulu! ini rumah sakit gk bole berisik" Rara menegur mereka.


"iya maaf" Andhika dan Alma.


"iya ga papa" jawab Rara.


"Lo gk papa kan Ra?" tanya Andhika.


"udah gak papa kok. tenang aja" jawan Rara.


"syukur deh"


"mbak, bang ka ini donorin darahnya buat mbak. tapi dia itu takut sama harus suntik. pas donorin darahnya, bang ka mukanya kaya monyet hahahah" Alma tertawa Karena meledek Andhika padahal Alma tidak mengetahui saat Andhika mendonorkan darahnya.


"eh kapan gue kayak gitu?! lu aja gk tau kalo gue donor darah!" Andhika mulai kesal.


"Dhik, Lo donorin darahnya buat gue?" tanya Rara memastikan.


"ehm, Em iya" jawab Andika gugup.


Rara menggenggam tangan Andika dan mengucapkan


"terimakasih, terimakasih banyak"


"iya sama-sama"


"hekhemmm. gk liat disini jomblo nih?" Alma berdehem.


"eh lu udah nikah! kenapa jomblo? justru sini yang jomblo!!" kesal Andhika.


"ehh gk jadi Ding, Alma pulang dulu. mbak Rara sama bang ka disini baik-baik ya jangan kilap soalnya gue mau pulanh. besok tanding. byeeee" pamit Alma.


"ehh tu mulut gue tampol juga lu!"


"udah Udah, namanya juga adik ya pasti bakal gitu" ujar Rara menahan lengan Andhika.


"tau tuh!"


"udah, sabarr"


Alma memutuskan untuk pulang duluan karena takut jika ia akan kelelahan untuk pertandingan besok.


setelah melewati perjalanan selama 20 menit, akhirnya Alma sudah sampai di gerbang rumahnya. Alma sedang sendirian dirumah karena Arya beberapa hari ini akan menginap disekolah karena ada acara camping. Andhika? dia sedang bersama Rara di RS. mamanya sedang mengurus beberapa cabang toko kue nya di wilayah Jakarta dan Tino yang beberapa Minggu ke Singapore.


"hahhh, home Alone again" Alma mengeluh.


"au ah bodo! mendingan tidur aja"


Alma langsung tertidur dengan pulas di kasurnya. dengan memeluk guling dan menyelimuti seluruh tubuhnya agar hangat.


Sementara Arlan..


Arlan terbaring di kasurnya Dengan wajah pucat, tubuh menggigil, dan badannya yang panas. sejak tadi Nilam ingin membawa Arlan ke rumah sakit agar cepat mendapatkan penanganan yang lebih serius tapi Arlan tetap saja menolak. Nilam juga beberapa kali menelfon Alma tapi hasilnya nihil, hp Alma tak aktif dan disisi lain Arlan tidak mengizinkan Nilam menelfon Alma dengan alasan biarkan Alma melupakan hal ini lebih cepat.


"Ar, makan dulu ya" pinta Nilam.


"gak ma, mulut aku pait!"


"Arlan ayo nurut!"


"enggak ma, aku mau tidur aja. aku ngantuk"


"iya ma"


"sleep well sayang" Nilam mengelus kening Arlan yang panas.


"thanks mom"


"You are welcome, good night. mama pergi dulu"


"iya ma"


Arlan tidur dengan handuk kecil yang menempel di keningnya. Arlan merasa agak Sulit tidur akhir-akhir ini karena rasa bersalah nya menghantui pikiran Nya. mungkin dia sudah gila? tapi mana mungkin?.


__


sekarang jam sudah menunjukkan pukul 10 malam waktu Indonesia barat.


"Al! Alma! pliss maafin gue Al! gue tau gue salah tapi plisss maafin gue! gue gk sempurna, gue bukan anak baik!!" Arlan mengigau.


"kak! kak Arlan" Danish yang mendengar Arlan yang mengigau langsung masuk kamar Arlan lalu melihat keadaan Arlan. setelah Arlan mulai diam, Danish mulai mengambil handuk yang berada di kening Arlan dan mengganti kompresnya.


"Arlan kenapa?" tanya Nilam yang tiba-tiba saja datang.


"ngigo ma" jawab Danish.


Danish meletakkan handuk itu kembali ke kening Arlan dan Arlan langsung memegang tangan Danish.


"Al, gue yakin ini lo. makasih ya masih tetep peduli sama gue. gue berusaha buat tetep jadi yang terbaik buat Lo" Arlan mengigau lagi dan memegang tangan Danish dan dipikiran Arlan, tangan Danish adalah tangan Alma.


Nilam dan Danish saling menatap karena terkejut dengan tingkah Arlan yang seperti orang depresi.


"ma, ini gimana?" tanya Danish.


"kamu tidur sama Arlan suku gak papa kan?"


"gk papa ma"


"yauda, malam ini kamu tidur sama Arlan dulu"


"iya ma"


sesuai dengan permintaan Nilam, Danish tidur di sofa kamar Arlan, ia menjaga dan terkadang merasa miris melihat keadaan Arlan yang berantakan..


"sabar kak, gue yakin Alma gk akan lama ninggalin Lo kalo keadaan Lo kek gini" batin Danish.


****


keesokan harinya, Alma mempersiapkan segala sesuatunya dengan lengkap tanpa ada yang tertinggal. tim swagball akan berangkat ke tempat pertanding pukul 09 pagi tapi Alma sudah siap sejak pukul setengah tujuh pagi.


sementara Arlan, ia yang sudah bangun sedang memaksakan diri untuk datang ke pertandingan Basket.


"pokoknya aku bakal kesana. gk peduli sakit atau enggak!!" Arlan memaksa untuk datang.


"enggak Arlan, kamu keadaan nya aja kayak begini masa mau dateng ke tempat itu!"


"aku gk mau tau ma! pokoknya Arlan harus kesana!! kalo gk Arlan akan berangkat sendiri"


"iya yaudah ayo!" Nilam pasrah.


END


BERSAMBUNG~