YOUNG | Unpublish

YOUNG | Unpublish
Talak



"Alma!!!" teriak Arlan.


"hm?" tanya Alma dengan tatapan tak punya dosa.


"itu kan Arlan? kenapa dia kesini?" batin Revan.


"kita pulang sekarang!" Arlan menarik tangan Alma.


"bentar!" sahut Alma.


"udah Al, iku aja" pinta Yufi.


"iya ma, semua aku pamit dulu ya" Pamit Alma.


"iya"


Arlan langsung menarik tangan Alma dan mengajak nya untuk pulang karena di lubuk hati Arlan ia merasa sedikit marah jika Alma menyentuh pria lain. sedangkan Revan, ia bingung kenapa Arlan bisa berhubungan dengan Alma.


"kok Arlan bisa kenal ya sama Alma? setahu gue Alma cuma punya 2 sodara" batin Revan.


sekarang, Alma dan Arlan sudah sampai dirumah dan Arlan langsung menyudutkan Alma di dinding.


Alma sangat gugup


"apa apaan tadi?" tanya Arlan datar tetapi dari sorot matanya ia sangat marah.


"gue cuma nenangin Revan udah" jawab Alma.


"kenapa harus kaya begitu?"


"ya gimana lagi? mau di peluk? dicium? apa dibawa pulang hah?!" emosi Alma mulai memuncak.


"harusnya Lo ngerti kalo Lo ada batasan. Lo itu istri gue gk seharunya Lo sedeket itu sama laki-laki lain!!" bentak Arlan.


"ch, terserah Lo aja kak. Lo gk ngerti perasaan gue kek gimana. Lo tu egois Lo cuma pentingin Diri Lo sendiri. Lo gak pernah berubah Lo cuma foya-foya diluar gak ngertiin lainnya. gue udah ngerasa gk kuat buat tetep di samping lo." ujar Alma menumpahkan semua isi hatinya dan menitihkan air matanya.


"hah?! egois? Lo bilang gue egois? ini semua demi kebaikan Lo Al!" jelas Arlan dengan nada tinggi.


oke, Untung saja kamar mereka kedap suara jadi pertengkaran mereka tak terdengar oleh orang rumah.


"kebaikan dari mana hah?! hiks, lo malah ngekang gue. ucapin Talak aja" ucap Alma pasta dengan air mata yang mengalir deras.


"gk semudah itu gue bilang ke gitu. gue hargain Lo jadi istri gue!"


"serah Lo kak. gue capek adu mulut. gue kerumahnya mama dulu" Alma menghapus air matanya dan langsung pergi.


Alma sedikit berlari menuruni tangga dan Nilam melihat Alma seperti habis menangis.


"Al kamu nangis?" tanya Nilam.


"eh? enggak ma.. Alma keluar sebentar ya" pamit Alma.


"iya Al"


sementara Arlan, dia mengacak rambutnya frustasi karena pertengkaran tadi.


"bodoh! kenapa gue bilang gitu sih!" batin Arlan.


Arlan menuruni tangga untuk ke dapur dan Nilam menyambutnya dengan sebuah pertanyaan.


"Alma mau kemana tadi? kok dia kaya abis nangis." tanya Nilam.


"aku gk sengaja bentak dia ma" ujar Arlan.


"kok bisa?" tanya Nilam lagi.


plaakk!


Nilam menampar Arlan.


"minta maaf" ucap Nilam datar.


"kenapa harus aku ma? dia yang salah bukan aku!" sela Arlan Arlan.


"dia itu baik, dia gak mungkin kayak gitu. dia itu anak yang sensitif kalo liat Revan yang lagi sedih Alma bakal semangatin dia! gk mungkin dia kayak gitu! mama gak pernah salah pilih menantu!" bentak Nilam.


"iya ma"


sedangkan Alma, ia mengetuk pintu rumahnya.


tok..tok.


"assalamualaikum"


"waalaikumsalam!"


"loh Al tumbenan pulang" tanya Andhika.


"udah bang, gue males ngomong" ucap Alma malas lalu langsung masuk masuk dan rebahan di kamarnya.


"aneh? kayanya dia abis nangis? au ah emang ribet dah urusan rumah tangga ya." batin Andhika.


Alma melempar tas dan sepatunya ke sembarang tempat. melepas ikatan rambutnya dan mencoba untuk tidur. Alma menangis sesenggukan karena mengingat pertengkaran yang terjadi tadi. sekarang Alma sudah tertidur karena menangis. walaupun dia sudah tidur, Isak tangis dan sesenggukannya masih terdengar.


Arlan mengetuk pintu rumah Alma dan kali ini Yufi lah yang membuka pintunya.


"ma" Arlan mencium punggung tangan Yufi.


"loh ada apa Ar?" tanya Yufi.


"mau cari Alma ma" jawab Arlan.


"oh Alma disini? yaudah masuk aja ke kamarnya" ucap Yufi mempersilakan Arlan masuk.


"makasih ma"


saat Arlan menaiki tangga, Yufi bertanya kepada Andhika yang sedang menonton TV.


"ka, tadi Alma pulang?"


"iya, tapi kayanya dia abis nangis"


"oh"


Arlan membuka pintu kamar Alma perlahan dan melihat Alma yang sedang tertidur tetapi masih sesenggukan.


Arlan berjalan perlahan lalu jongkok di hadapan Alma dan menatap wajahnya yang basah dan mata yang sembab.


"maafin gue Al, gue terlalu posesif. gue gk tau ini perasaan apa mungkin gue mulai suka sama Lo" ujar Arlan lalu berbaring dan memeluk Alma dari belakang.


***


keesokan paginya, Arlan terbangun lebih dulu daripada Alma dan langsung pulang karena takut jika Alma mengetahui jika semalam mereka tidur bersama dalam keadaan berpelukan.


END


BERSAMBUNG~