WE ARE HAVING A BABY BOY!

WE ARE HAVING A BABY BOY!
ANAK PAPI DAN MAMI



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.




“Jadi gimana kalian siap?” tanya Martha.



“Siap Tante,” jawab Axel dan Lieke dengan wajah bahagia. Jam 07.00 pagi Martha sudah berada di ruang perawatan keponakannya.



“Ini surat untuk urus administrasinya,” Martha memberikan surat rekomendasi boleh pulang pada Axel dan suster memberikan surat untuk menyelesaikan administrasi pembayaran biaya rumah sakit.



“Aku ngurus administrasi nanti kalau mama atau papa sudah datang,”Axel tidak mau meninggalkan Lieke sendirian.



“Kalau kamu mau urus sekarang nggak apa-apa biar Tante di sini,” Martha mencoba menawarkan jasa bagi keponakannya itu.



“Enggak, nanti Tante tiba-tiba dapet panggilan mendadak membuat istri aku sendirian. Aku nggak mau, lagian kan pulangnya besok bukan sekarang,” tolak Axel. Baru saja Axel selesai bicara, Magdalena datang.



“Lho mana papa Ma?” Lieke bertanya pada ibu mertuanya.



“Papa tugas gereja pagi. Mama sendiri yang penting ini semur cekernya bisa buat sarapan,” kilah Magdalena. Padahal selain tugas gereja pagi suaminya bersiap penyambutan Lieke di rumah Axel. Tadi Axel dan Magdalena berpesan tak boleh ada balon agar Lieke tak ingat sakit yang dia rasakan ketika di bully orang saat gender reveal party.



“Ih Mama aku mau nyari rica ceker yang buat sarapan,” rengek Lieke pada ibu mertuanya.



“Enggak pagi-pagi jangan yang pedes. Semur dulu buat sarapan. Nanti siang kamu makan rica cekernya,” kata Axel sambil mengambil jatah makan dari rumah sakit dan dia tambahkan banyak ceker semur buatan sang mama tercinta.



Lieke langsung menampilkan mulut monyongnya, dia cemberut karena tak diberi rica ceker yang dia inginkan sekarang.



“Kamu kalau kayak gitu tambah cantik deh,” goda Axel.



“Bohong banget kan bilang aku kayak gini cantik,” protes Lieke.



“Ya lagian ngapain juga pakai mulutnya di monyong-monyongin gitu?”



“Aku lagi kepengen yang pedes-pedes Honey,” rengek Lieke.



“Yang pedes nanti kalau sudah selesai sarapan. Nanti kamu boleh ngegadoin ( makan tan\[pa nasi ) rica cekernya,” bujuk Axel.



“Janji ya boleh digadoin?”



“Iya boleh kalau sudah makan nasi pagi.” jawab Axel sambil langsung mengambil sarapan Lieke yang dari rumah sakit dan dia tambahkan dengan semur ceker buatan Magdalena.



“Liek, kamu sudah baca di grup belum?” tanya mama Magdalena.



“Belum Ma, dari tadi belum pegang ponsel. Kenapa?” tanya Lieke sambil sibuk makan semur ceker.



“Oma Vita dan Oma Maria kok hati ini sama-sama nggak bisa ke sini. Oma Vita bilang ada temennya yang bikin selamatan apa gitu.  Nujuh bulanin kah atau pengajian apa gitu teman satu lingkungan sehingga eggak enak kalau nggak datang. Walau pun berbeda keyakinan tapi mereka biasa saling bantu.”



“Oh gitu. Terus Oma Maria kenapa Ma?”



“Oma Maria biasalah dia punya banyak kesibukan tapi dia sudah antar salad sayur. Katanya nanti ajudannya yang antar.”



“Terima kasih, nanti aku bilang sama Oma kalau sudah datang saladnya. Tapi aku tuh kepengennya sebenarnya rujak serut Ma. Kayaknya enak ya rujak serut. Rujak serut yang asem-asem enggak terlalu pedas dan manis gitu Ma.”



“Enggak pedes banget Ma. Cuma pedas manis gitu,” kata Lieke.



“Kamu bikin Mama kepengen aja.”



“Iya Ma, nanti aku bilang deh sama adik-adik aku suruh bikin.”




“Kalau beli itu enggak pas rasanya. Kalau adik-adik aku yang bikin, mereka biasa ngerti.” bantah Lieke.



“Oh ya udah,” Magdalena mengerti apa yang ibu hamil inginkan, kalau yang didapat enggak pas dengan keinginannya tentu masih saja ingin mendapatkannya.


\*\*\*



“Sudah siap?” tanya Marvel saat dia turun dari mobilnya dan masuk ke ruang tamu panti asuhan.



“Sudah kak. Cuma kak Vero aja belum keluar. Padahal dari tadi dia bilang sudah siap. Cuma dia belum keluar juga,” Helly menggerutu.



“Oh gitu ya? Bilangin aja Kakak sudah datang.” kata Marvel. Marvel pakai outfit kaos putih dilapis kemeja tangan panjang putih yang digulung 3/4.  lalu celananya jeans hitam.



Saat itulah Vero keluar, dia memakai outfit blouse putih berenda dengan celana jeans hitam.



“Cie cie jodoh banget, janjian ya” goda Betty.



“Apa sih?” kata Vero dengan muka tersipu malu. Marvel hanya tersenyum kecut digodain adik-adiknya.



“Ini pasti janjian. Enggak mungkin bisa sama persis gini,” Kata Karenina.



“Kalian tuh ya nggak ngaku jadian, padahal iya,” kata Betty.



Helly hanya tersenyum saja melihat kedua kakaknya sudah menggoda kak Vero.



“Kayaknya sebentar lagi ada yang nyusul Kak Lieke nikah nih,” goda Karenina.



“Ih enak aja,” kata Vero.



“Aku tetap akan kuliah. Kalian tahu kan selama ini aku nabung buat kuliah. Aku nggak ingin mami sedih.”



“Mami udah siapin kok dana kuliah kalian berempat.” tetiba Clarissa sudah berada di ruang tamu.



“Kalian enggak harus mikirin biaya kuliah,” ucap Clarissa lagi.



“Enggak Mi. Kuliah itu sudah di luar beban Mami dan Papi. Biarin kami berupaya kuliah sendiri,” bantah Vero.



“Ya tapi tidak full, tetap Mami akan bayarin kalian. Kalian  itu Mami tahan jadi anak Mami, karena Mami dan Papi sayang kalian semua.”



“Kalian itu bukan hanya sekedar tak dibolehkan diadopsi orang lain oleh Papi dan Mami tanpa pertimbangan.  Kalau Mami nggak biayai kalian hingga selesai kuliah berarti Mami melanggar amanat Papi.”



“Kami mengambil kalian itu karena tanggung jawab bukan cuma kesenangan sesaat. Jadi kami bertanggung jawab sampai kalian selesai kuliah,” kata Clarissa.



“Sudah cepetan kalian berangkat. Nanti kalau kalian datang terlambat kalian bukan bikin pesta penyambutan, tapi kalian yang disambut oleh kak Lieke karena dia duluan sampai rumah,” Clarissa mengingatkan empat anak gadisnya segera berangkat.



“Oh iya ya. Kita kan mau bikin kejutan, jadi kita harus sudah ada di rumahnya sebelum kak lieke sampai,” kata Helly.



“Ayo Kak. Biarin aja yang lain lambat,” Helly langsung mencium mami Clarissa dan menarik Marvel.



“Eh pacar siapa yang kamu tarik-tarik?”  goda Betty.



“Bukan pacar aku pastinya. Tapi kan kakak aku, ya kak ya?” kata Helly dengan kolokannya. Vero hanya tersipu saja mereka menciumi mami untuk berangkat.



“Berangkat ya Mi,” kata Betty bergantian dengan Nina dan terakhir dengan Vero.


Titip banner



![](contribute/fiction/6891223/markdown/10636434/1685721365018.jpg)