WE ARE HAVING A BABY BOY!

WE ARE HAVING A BABY BOY!
BUTUH SUASANA TENANG



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


"Pak Marcel, Bapak dipanggil Ibu di ruangannya."



"Di ruangan dia atau di ruangan Papa?" tanya Axel.



"Di ruangan Ibu."



"Baik." Axel tahu ini pasti berkaitan dengan kasus Lieke.



"Mama panggil aku?" tanya Axel berbasa basi.



"Kalau nggak manggil ngapain sekretaris Papamu ke ruanganmu ?" kata Magdalena ketus.



"Tanda tangani surat permohonan cerai dari Lieke ini cepat agar segera Mama kirim kembali ke pengacaranya Lieke."



"Aku nggak akan mungkin menceraikan Lieke. Takkan pernah," kata Axel dengan yakin.



"Lalu buat apa lagi kamu pertahankan? Walau pun tidak kamu ceraikan, dia tidak akan pernah mau kembali kepadamu."



"Dia sudah teramat sakit dan teramat malu. Di sebuah pesta besar kamu bikin seperti itu."



"Tunggu, aku akan ralat di media massa tapi tidak sekarang. Please Mama ngertiin aku. Aku tidak akan pernah menceraikannya." 



"Aku bukan mama kamu lagi. Cukup sakit Mama merasakan apa yang Lieke rasa." Axel ingat kepedihan mamanya sebagai sesama perempuan. 



Axel mengambil kertas permohonan cerai yang harus dia tanda tangani. "Aku enggak  akan pernah aku tandatangani."



Axel lalu merobek kertas itu, setelah itu tanpa permisi dia keluar dari ruangan Magdalena.


\*\*\*



"Kak Lieke tak ingin bertemu. Kalau mau bicara dia bilang lewat pengacaranya ini saja." Seorang gadis menemui Axel yang datang ke panti asuhan.



Axel terpukul mengetahui Lieke bahkan tak mau lagi menemuinya. Dia sadar istrinya sangat sakit hati akan sikap diamnya kemarin.



Dia tak berani gegabah menerobos masuk. Itu hanya akan membuat Lieke tambah meradang.



Axel tahu surat pengajuan cerai, Lieke kirim melalui orang tuanya agar mereka tahu. Karena bila langsung ke alamat rumah mereka maka Lieke tak punya bukti telah mengajukan gugat cerai.




"Maksud kakak apa dengan pelakunya bukan kakak dan kakak tak akan tanda tangan?"



"Sampaikan seperti itu jangan ditambah mau pun dikurangi?"



"Baik kak," balas gadis itu.


\*\*\*



Axel ingat kejadian itu, dari surat cerai yang Lieke kirim, itu sudah menandakan Lieke sangat terluka.



Axel tahu betapa dalam cinta mereka. Kalau bukan sakit hati, tak akan Lieke menggugat cerai dirinya. Bahkan Lieke tak mau menemuinya ketika dia mendatangi istrinya di panti asuhan tempat tinggal istrinya.



"Maafkan aku, maafkan aku. Please lupain kesalahpahaman kita. Aku sayang kalian. Daddy cinta mommy dan baby boy," bisik Axel sambil mengecupi pipi istrinya yang sudah pulas tertidur karena obat ya g baru disuntikkan Martha.



"Xel, dia terguncang. Selama ini dia coba melawan dan dia tak rasakan apa pun. Dia melawan dengan alasan untuk memperlihatkan pada baby boy bahwa mereka kuat bertahan tanpa kamu."



"Saat ada kamu yang memeluknya, beban berat di pundaknya terlepas dan dia merasa plong. Sehingga dia merasa tak perlu bertahan lagi."



"Dia biarkan semua tanpa perlawanan. Jadi sekarang peran kamu selalu ada untuknya," nasihat Martha yang sejak tadi memang belum meninggalkan ruangan karena ingin bicara dengan Axel.



"Tapi dia tadi merengek ingin Clarissa. Bagaimana bila dia maunya pulang ke panti? Bukan ke rumah?" Pieter bertanya karena tak ingin Lieke terluka.



"Kalian mau membuat dia sedih atau bahagia?"



"Kesehatannya tergantung suasana hati. Kalau menurutku, ikuti apa yang dia mau. Itu lebih baik. Biar dia nyaman."



"Ya benar, biarkan dia nyaman." Novita setuju saran Martha.



"Aku sarankan kalian menginap mungkin hanya di Ancol? Pagi jalan berdua tanpa alas kaki, tanpa beban. Jangan terlalu jauh ke Puncak. Takut bahaya bagi baby boy," saran Maria.



"Itu saran yang bagus Tante," sahut Martha.



"Bikin dia serileks mungkin."


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY