WE ARE HAVING A BABY BOY!

WE ARE HAVING A BABY BOY!
TELER OBAT



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


Pagi-pagi sekali Magdalena dan Pieter akan berangkat ke rumah sakit. Magdalena dan Pieter tak ingin saat anak dan menantu mereka bangun, mereka belum belum ada di sana.



Magdalena dan Pieter sudah membawakan baju juga sarapan untuk keduanya. Walau pun Lieke dapat jatah makan dari rumah sakit tetap saja Magdalena membawakan makanan lengkap untuk menantunya itu.



Magdalena dan Pieter juga membawakan banyak cemilan karena Lieke suka cemilan.



"Lho sarapannya Papa belum dihabisin lho Pa," protes Magdalena.



"Bawa aja deh kita nanti juga bisa beli di sana. Papa kepikiran Prince W," kata Pieter jujur. 



Pieter ingin bergegas ke rumah sakit melihat anaknya juga perkembangan pangeran kecil dalam rahim Lieke.



Sampai di rumah sakit Lieke sudah bangun. Suster sedang mengganti infusnya. Sedang Axel masih tertidur di kursi dengan tangannya memegang jemari Lieke.



Axel sama sekali tidak mau tidur di kasur.



"Kasihan Axel kalau seperti itu pasti badannya sakit," bisik Magdalena.



"Memang kemauannya dia nggak mau tidur di kasur bukan kemauan kita. Kan kita udah suruh dia tidur di kasur sebelum dia terlelap tidur kemarin," jawab Pieter.



"Iya sih memang kemauannya dia. Mami kan sudah suruh dia tidur di sebelah Lieke aja. Kasurnya Lieke kan besar cukuplah kalau untuk mereka berdua, tapi Axel yang nggak mau," kata Magdalena lagi.



"Ya udah bangunkan aja Ma suruh dia mandi dan sarapanlah." Ujar Pieter.



"Dia nggak bangun saat ada aktifitas suster ganti infus bukan karena enggak dengar kan Pa. Dia enggak sadar akibat obat dari Martha kemarin agar dia relaks," Magdalena memberitahu Pieter kondisi anak mereka.



"Kalau memang dia sadar pas ada suster beraktivitas dia tak mungkin tidak lompat. Ini dia sama sekali nggak terpengaruh," kata Magdalena.



"Oh iya ya, aslinya dia kan orang yang cepat tanggap.  Ada sedikit bunyi bila sedang tidur langsung lompat,"  kata Pieter tentang anak tunggal mereka yang memang seperti dirinya. Cepat bangun kalau ada suara sedikit saja.


\*\*\*



Jam 09.00 saat semua sudah selesai makan dan sarapan Axel baru bangun dia kaget saat melihat sudah sangat siang.



"Mandi dulu Xel baru nanti ngopi. Kopimu sudah dingin, nanti papa pesankan yang baru lagi," kata Pieter. Hari ini Pieter dan Magdalena sengaja nggak berangkat kerja karena ingin tahu kondisi cucu mereka.



Tanpa berdebat Axel segera ke kamar mandi. Dia sudah melihat tas pakaian miliknya.



Sebentar lagi Martha katanya akan datang untuk memeriksa baby.



Syukur Axel ternyata sudah bangun sehingga akan bisa tahu kondisi bayinya.



"Kamu sudah makan makan Babe?" Axel bertanya pada istrinya.



"Sudah. Aku sudah makan. Kamu makan ya."




"Sudah Honey, aku tadi sudah makan yang mama bawa." Lieke menjawab dengan senyum manisnya.



"Mama bawa apa?"  tanya Axel.



"Macaroni schotel," jelas Lieke.



![](contribute/fiction/6891223/markdown/10636434/1685003524142.jpg)



"Wow, macaroni schotel kesukaanku," Axel senang dibawakan sarapan kesukaannya.



"Iya makanya kamu sarapan dulu," kata Magdalena.



"Kamu mau lagi?" tanya Magdalena pada menantunya. Dia barusan mengambil satu alumunium foil untuk Axel.



"Boleh Ma, aku separo ya Ma, lapar tapi enggak habis kalau satu tempat," jawab Lieke.



"Kalau hamil memang kamu jangan tahan kalau lapar. Enggak usah pikir bentuk tubuh. Nanti bisa normal lagi koq,"  lalu Lieke dan Axel makan bareng.



"Kok cuma sedikit Babe?" kata Axel, karena melihat Lieke hanya makan separuh porsi.



"Tadi aku sudah sarapan, ini brunch aja.  Honey aku pengen salad,"  bisik Lieke.



"Eh Mama bawain kamu salad lho Lieke," Magdalena yang baru masuk dari luar langsung ngomong seakan mendengar bisikan Lieke pada Axel. Padahal hanya kebetulan saja saat sedang ngobrol di luar dengan Pieter dia ingat bawa salad buat Lieke.



"Ya Ma. Sebentar lagi aku makan," jawab Lieke. Dia menunggu Axel selesai sarapan baru mau minta ambilkan.



Tanpa menunggu Axel selesai Magdalena mengambilkan Lieke salad.



"Xel, Lieke lagi enggak bisa turun, kamu bukan ambilkan dulu buat dia," tegur Magdalena pada putranya.



"Eh, Babe sorry. Aku enggak sadar. Maafin ya," Axel menyadari kesalahannya.



"Wah salad buah ya Ma," Lieke sedikit kecewa.



"Kamu mau salad sayur biar nanti Mama minta bawakan sama Oma."



"Iya boleh Ma, aku mau."



Magdalena mencoba menghubungi Maria dan Novita. Siapa yang bisa bawa salad sayur buat Lieke.



Novita bilang dia sudah di depan lobby. Enggak bisa beli. Maria bilang dia yang akan carikan karena dia masih di rumah menyelesaikan banyak pekerjaan.


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul LOVE FOR AMOR