WE ARE HAVING A BABY BOY!

WE ARE HAVING A BABY BOY!
KETULUSAN CINTA CLARISSA



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




"Puji Tuhan seriusan sisa dua?" Lieke tak percaya ketika adik-adiknya laporan kalau hasil kreasi mereka langsung laku terjual.



"Iya Kak seriusan," kata adik-adiknya hampir bersamaan.



"Kalian pasti berhasil dengan baik nantinya. Sekarang jangan lupa kalian sekolah yang bener dulu."



"Nanti akan Kakak tambahin modalnya agar usaha kita cepat berkembang."



"Enggak Kak ini cukup. Nanti kalau butuh dana lagi, baru kita minta suntikan dana berupa pinjaman."



"Tapi kalau sekarang cukup. Modal yang awal kita puterin lagi," kata Veronica.



"Iya kita sudah putarin tadi Kak.  Helly dan kak Nina sudah belanja lagi." Jelas Betty.



"Kalian sudah belanja lagi?"



"Iya Kak, kita gerak cepat karena pesanannya banyak banget." Vero menerangkan dengan bersemangat.



"Apa pesanannya?" Tanya Lieke penasaran.



"Banyak Kak, super banyak. Lebih banyak dari yang kita buat awal." Betty memperlihatkan buku pesanan mereka.



"Ya ampun, kalian memang hebat. Ayo kita semangat." kata Lieke senang.



"Nanti kalian belajar memotong, agar kalau Kakak berhalangan kalian bisa melakukannya."



"Mungkin satu tumpukan hanya tiga atau empat dulu Kak. Jangan seperti kakak langsung 10 pieces." Usul Karenina.



"Ya sedikit-sedikit kalian harus belajar memotong sesuai dengan pola." Kata Lieke.



"Ya Kak. Kami mau kok belajar," kata Veronica dan Karenina sehingga nanti mereka tidak tergantung penuh pada Lieke.



Takutnya Lieke sibuk atau terlalu lelah karena sedang hamil.


\*\*\*



"Kenapa Om Tinus manggil kamu?" tanya Clarissa malam ini saat mereka sedang berbincang.



"Ada yang mau menggembosi  perusahaan Papi."



"Om Tinus takut dikira dia yang mau ambil keuntungan jadi dia bilang ke aku Mi." jawab Lieke pada Clarissa.



"Om Tinus ambil keuntungan apa? Perusahaan dia itu jauh di atas percetakanmu. Kok dibilang ngambil keuntungan. Itu nggak mungkin," sanggah Clarissa.



"Papi Steve itu tugasin Tinus karena kekayaan Tinus itu jauh sekali di atas kita. Mungkin sebanding dengan perusahaan mertua kamu atau mungkin lebih."



"Kalau sekarang mungkin lebih sudah dua kali dari kekayaan papa mertuamu. Jadi enggak mungkin dia mau nyurangin kamu."



"Justru papi Steve kasih mandat ke Tinus karena dia orang yang terpercaya dan nggak butuh duit receh,"  ungkap Clarissa.



"Aku tahu Mi. Tapi om Tinus nggak mau dituduh curang maka dia kasih tahu fakta duluan ke aku," kata Lieke sambil mengambil jajanan yang terhidang. Ketimus yaitu singkong parut dicampur kelapa muda parut diberi irisan gula merah yang dibungkus daun pisang lalu di kukus.



"Oh gitu. Terus apa tindakanmu?"



"Aku paling nggak suka kecurangan Mi. Aku paling nggak suka ditikam seperti ini siapa pun yang nikam aku, akan berhubungan langsung dengan aku," jelas Lieke geram.



"Lalu langkah selanjutnya langkah apa yang akan kamu ambil?"



"Besok akan aku gebrak di kantor atau kantor polisi. Lagi tunggu kepastian tempat bertemunya."



"Ingat loh kamu lagi hamil. Jangan terlalu lelah dan jangan emosian." Clarissa memberitahu Lieke. Walau belum pernah hamil tapi dia setidaknya tahu.



Clarissa sangat mencintai Steve. Walau tahu Steve mandul, tetap saja dia mau menikah dengan lelaki lembut itu.




Jadi mereka tahu cinta Clarissa bukan karena harta Steve.



Mengetahui hal itu, saat kedua orang tua Steve dan Steve sudah meninggal, hasil rapat keluarga semua harta orang tua Steve diberikan pada Clarissa untuk menunjang usaha panti asuhannya.



Clarissa yang pintar menjual harta orang tua Steve dan membeli saham di perusahaan Tinus. 



Itu sebabnya yayasannya selalu aman tak pernah anak-anaknya kekurangan suusu atau makanan dan pakaian.



"Iya Mi aku udah tahu kok. aku sudah minta datanya tadi."



"Aku minta konsumenku langsung datang bertemu aku dan penasihat hukumku."



"Aku baru tahu pengacara kantor itu suami tante Ariani."



"Rupanya papi Steve sengaja kali biar enggak repot." Clarissa juga baru tahu saat ini.



"Terus gimana?"



"Besok kita eksekusi Mi. Aku nggak main-main. Dan kalau untuk urusan seperti ini dendamku nggak tanggung-tanggung."



"Aku akan buat pelaku habis bukan hanya sampai di titik nol, tapi aku akan bikin dia di titik nadir!"



"Akan aku buat dia super minus pinjam sana sini kalau tak ingin penjara seumur hidup."



"Aku akan buat banyak aduan sehingga dia bukan hanya kena satu dakwaan."



"Dia bukan hanya mencuri uang aku Mi, tapi banyak perut yang dia curangi!"



"Itu yang bikin aku nggak suka. Jadi oknum seperti ini bukan merugikan aku pribadi, tapi seluruh keluarga karyawan perusahaan kecil itu. Aku tak akan ampuni orang seperti itu." Lieke mengeraskan hati tak mau mengasihi orang yang sudah berbuat curang itu.


\*\*\*



"Berkati aku Mi," pamit Lieke saat mau berangkat kerja.



"Doa dan restu Mami buat kamu. Hati-hati ya," Clarissa mengecup kening Lieke yang akan berangkat kerja.



"Ya Mi."



"Bawa mobilnya pelan aja," nasihat Clarissa.



"Yaaaaaa," sahut Lieke sambil berjalan menuju mobilnya.



Lieke keluar dari panti asuhan. Saat akan keluar halaman Lieke melihat dari jauh ada mobil Axel yang memperhatikan dirinya.



Lieke tak peduli dia langsung menuju tempat pertemuan dengan Om Tinus juga konsumennya.



"Sudah lama Om?"  tanya Lieke sambil menjabat tangan om-nya dengan erat.



"Enggak baru aja. konsumen sudah mulai dekat," ucap Tinus. Karena memang dia yang janjian dengan konsumen.



Tak lama datang pengacara percetakan dan penerbit. 



Mereka sudah berkumpul bertiga tinggal menunggu konsumen datang.


\*\*\*



"Perkenalkan ini keponakan saya, pemilik asli perusahaan percetakan ini sejak dia berumur lima tahun, papi dan maminya meninggal lalu perusahaan itu dipegang oleh kakak kandung saya untuk dikelola. Saat kakak kandung saya akan meninggal dia menyerahkan pada saya untuk selalu mengawasi usaha ini."



"Keponakan saya ini sibuk dengan perusahaan mertuanya jadi dia kurang perhatikan dan tidak tahu ketika dicurangi oleh karyawan."



"Lieke ini pak Bagja atau pak Subagja. Dia bukan baru kali ini bekerja sama dengan kita."



"Dan ini pak Lucky Ferdinandus SH pengacara kantor."



"Selamat siang pak Bagja," sapa Lieke dengan sopan.



Mereka lalu bicara serius tentang keluhan pak Bagja dengan order terakhirnya. Hasilnya yang sangat buruk tak seperti biasa.