WE ARE HAVING A BABY BOY!

WE ARE HAVING A BABY BOY!
SUAMIKU DISABOTASE



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.



Axel keluar dari ruang periksa dokter Martha lebih dulu dari Rita. Dia terpana berdiri agak jauh darinya dia lihat Lieke! Axel melihat istrinya menatap tajam padanya.



Axel baru akan menyapa istrinya dan bicara apa yang dia lakukan disitu saat lengannya digelayuti Rita dengan manja.



"Eh Lieke. Apa kabar?" Rita dengan santai sengaja menghampiri Lieke sambil menarik Axel agar mendekati Lieke.



Lieke menatap mata Axel tajam. Dia lihat sorot tak berdaya disana.



"Puji Tuhan khabarku baik, kamu habis ngapain?" tanya Lieke berupaya sabar dan tidak terkesan kaget atau marah melihat suaminya mengantar perempuan lain ke dokter kandungan. 



"Aku hamil dan ini ayah dari bayiku," kata Rita tanpa berdosa.



"Oh ya? Selamat ya." kata Lieke santai tanpa beban membuat Rita sangat keqi. Tapi Lieke tak memberi salam, hanya ucapan selamat saja.



Axel terluka memandang istrinya seperti itu. Dia takut Lieke drop.



"Sekarang aku mau masuk ke dalam ya."



"Loh kamu mau periksa juga?" Tanya Rita.



"Iya kandunganku agak rewel karena daddynya disabotase orang,  harusnya belum periksa tapi barusan aku ingin periksa aja jadi aku kesini." 



"Mertuaku bilang kalau aku ada yang dirasa enggak enak aku harus periksa jadi aku periksa dulu. Bagaimana dengan mertuamu?" Sindir Lieke.



"See you ya Rit. Selamat atas kehamilanmu," tanpa menunggu jawaban Rita dan tanpa ekspresi sedih Lieke meninggalkan pasangan itu.



Lieke berjalan santai melaporkan kartu periksanya ke suster. Lalu suster seperti biasa menimbang, mencatat suhu dan denyut nadinya.



'*Bagaimana Lieke bisa ada di sini saat aku sengaja minta Rita periksa di tante Martha*?'



'*Aku enggak berani bawa Rita ketempat lain karena bisa saja nanti dia kerja sama dengan dokternya. Kalau tante Martha kan enggak mungkin berpihak ke Rita*.'



'*Pasti ada seseorang yang menyuruh Lieke datang agar melihat bagaimana aku mengantar Rita*.'



Axel langsung mengirim pesan di group yang berisi Magdalena, Maria, Pieter, Ecky, Petrus dan Novita serta Martha.



'*Saat aku keluar ruang periksa tante Martha, ternyata Lieke ada di sana*.'



'*Rita dengan bangga mengaku kalau dia hamil anakku*!'



'*Bagaimana itu bisa terjadi*?' tanya Maria.



'*Bagaimana reaksi menantuku*?' tanya Pieter cemas



'@*Martha perhatikan kesehatan cicitku. Aku tak mau hal ini berdampak buruk bagi Prince W*.' pesan Petrus pada Martha.



Magdalena  langsung mengirim pesan pada Lieke : '*Jangan percaya omongan Rita, ingat itu*!'



Lieke membaca pesan itu saat dia masuk ke ruangan Magdalena.



"Halo Tante," sapa Lieke sambil mencium kedua pipi omanya Axel itu.



"Hai Lieke, kenapa kamu datang? Ada masalah dengan kandunganmu? Bukankah belum jadwal kontrol?" tanya Martha.



"Aku nggak boleh datang ke sini kalau belum jadwal?" 



"Bukanya nggak bukan boleh. Maksud Tante ini belum jadwal periksamu, apa kamu ada keluhan itu maksud tante. Tante takut kamu ada keluhan." Balas Martha. 


\*\*\*



Bagaimana bisa Axel mengantar Rita dan bertemu dengan Lieke ditempat itu?



Kita **FLASHBACK** ya.



Semalam Maria langsung membuat group chat untuk membahas masalah ini.



Anggota group adalah PIETER, MAGDALENA, PETRUS, NOVITA, AXEL, ECKY & MARTHA.



"Aku bikin group ini buat kita membahas masalah ini agar cepat tuntas. Aku masukan Martha berkaitan dengan kondisi kesehatan kandungan Lieke ya g harus kita prioritaskan."



Begitu Maria mengatakan semalam sebelum mereka berpisah pulang ke rumah masing-masing. 



Mereka ber delapan akan intensif membahas semuanya sambil nunggu jadwal pertemuan kembali.


\*\*\*



Pagi ini di group baru itu ada kejutan dari Axel.



Axel mengirim rekaman percakapan :



@ : '*Ada apa*?' terdengar suara Axel di rekaman itu.



® : '*Aku mau kita ketemu*.'



@ : '*Maaf aku sibuk*!'



® : '*Kalau kamu tidak mau datang aku akan sebar video itu*.'



@ : '*Mau kamu apa sih*?' terdengar suara Axel agak ketus karena marah dan merasa terganggu. Jam 05.00 rekaman itu sudah Axel sebar. Entah percakapan terjadi kapan.



® : '*Datang sekarang di tempat yang aku kirimkan*!'



@ : '*Kamu gila? Ini belum jam 05.00 pagi,  aku disuruh datang*?'




@ : '*Oke, aku akan atur jadwal kantor. Jam 10.00 pagi dan waktuku hanya 10 menit! Jadi jam 10.10 aku harus kembali*.'



® : '*Enggak bisa dipastikan selesai dalam 10 menit. Yang pasti kamu harus datang*.'



Rupanya saat ada telepon masuk, Axel langsung menekan romol rekam sehingga semua pembicaraan itu bisa dia simpan dan dia kirimkan.


\*\*\*



Axel mengirim tempat pertemuan yang ditentukan oleh lawan bicaranya tadi ke group.



'*Kamu jangan lupa rekam semua pembicaraan agar bisa lebih jelas, tapi Oma akan kirim orang untuk bersiap di sana memasang perekam suara yang sensitivitasnya lebih tinggi dan ingat kamu jangan minum apa pun atau makan apa pun*.' Oma Maria langsung mengerahkan pasukannya untuk berada di sana



'*Oma takut dia akan kembali menebarkan sesuatu*.'



'*Ya Oma aku akan turuti semua perintah Oma*.' Axel sekarang tenang karena dia tak sendirian lagi. Semua tetuanya memdukung dirinya.



'*Kecuali kalau kamu datang duluan. Itu pun kamu harus perhatikan menu yang dibawa oleh pramusaji*.'



'*Anggota Oma akan jaga makanan dan minuman kamu deh. Oma nanti kasih penjaga disana aja agar kamu aman*.'



'*Ponselmu jangan tidak aktif karena Oma akan kirim pesan atau petunjuk apa yang harus kamu lakukan di situ*.'


\*\*\*



"Ada apa?" kata Axel datar saat bertemu dengan orang yang memintanya datang.



"Waktu aku 10 menit."



"Enggak kita makan dulu."



"Tidak bisa aku ada meeting cepat katakan!"



"Ini," rupanya perempuan yang menghubungi Axel sebelum jam 05.00 pagi melalui telepon adalah Rita.



Rita memberikan sebuah test pack yang dia bilang baru dilakukan pagi tadi saat bangun tidur, makanya dia panik.



"Aku tadi pagi langsung menghubungi kamu begitu lihat hasil ini," kata Rita.



"Apa itu?" Axel  pura-pura tidak mengerti benda yang dia lihat.



"Enggak mungkin kamu enggak tahu,  istri kamu sudah hamil. Ibu hamil tahu alat seperti ini buat apa."



"Itu apa?" Axel kembali bertanya dengan wajah lugu.



"Ini namanya test pack, semua orang orang tahu dan aku yakin kamu juga tahu."



"Sejak SMA aku tinggal di sekolah yang pakai asrama. Semua siswa laki- laki tak ada siswa perempuan. Jadi aku enggak tahu tentang alat itu."



Rita kaget mendengar kalau Axel sekolah di SMA yang berasrama dan semua siswanya laki-laki.



'*Jadi selama ini Lieke dan mamanya Axel tahu aku berbohong kalau aku teman satu SMA nya Axel*?' 



'*Bodo amat lah, yang penting sekarnag Axel masuk perangkapku*.'



"Maaf istri aku langsung periksa ke dokter, tidak pakai alat seperti itu dan untuk mengecek kehamilan istri aku langsung periksa darah agar tahu semua penyakit dalam janin," jawab Axel tenang.



"Lihat alat ini, ada dua garis artinya aku hamil."



"Lalu kalau kamu hamil kenapa lapor aku?"



"Karena kamu ayah bayi yang aku kandung."



"Oh ya?" tanya Axel.



'*Setelah minta jadi simpenan kalau kamu enggak mau jadikan dia istri kedua, sekarang dia jebak kamu dengan pertanggung jawaban bayi. Ikuti terus alurnya*.' saran oma Maria.



'*Bawa periksa ke tempat Tante, jangan mau ke tempat lain. Kamu bisa dijebak dengan hasil palsu*,' Martha yang kebetulan sedang pegang hape langsung kasih saran di group.



"Bagaimana mungkin bisa hamil? Kalau memang pernah, kita hanya satu kali melakukan. Aku tak yakin kamu hamil."



"Aku ragu kamu hamil anakku."



"Ya pastilah ini anakmu. Waktu itu kita bikin koq."



"Aku beneran hamil dan aku enggak takut kita periksa kehamilan," jawab Rita meyakinkan.



"Oke kita periksa kehamilan. Apa benar kamu hamil. Kita harus periksa di dokter yang aku tentukan."



"Oke, aku enggak takut akan periksa dimana karena aku memang hamil."



"Datang nanti sore jam 05.30 disini," Axel menuliskan alamat dokter Martha.



"Nanti aku daftarkan pada dokter itu."



"Baik," jawab Rita. Dia tidak takut karena memang dia benar-benar hamil jadi dia tak takut untuk periksa kehamilannya ini.



Tanpa pamit Axel langsung pergi meninggalkan Rita. 



Sementara begitu mendapat alamat dokter kandungan dan jadwal bertemu, Rita langsung tersenyum penuh kemenangan. Dia mengirim pesan pada seseorang.



Readers setia pasti tahu kan siapa yang Rita kirimi pesan?