
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
"Jadi ada apa nih? Kamu kesini bukan karena tahu aku pemiliknya kan? Apakah karena Marvel kesini lalu kamu pengen tahu apa yang dia lakukan?" selidik Clarissa.
"Ha ha ha bukanlah. Marvel cerita anak-anakmu punya kegiatan membuat baju baby. Lalu Marvel menawarkan anak-anakmu minggu depan ikut kegiatanku di yayasan."
"Yayasan bikin bazar amal rutin. Anak-anakmu boleh isi stand dengan aku free."
"Lalu aku lapor ke yayasan ada panti asuhan khusus baby dan balita. Aku usulkan buat dapat donasi rutin tiap bulan."
"Yayasan memang memberikan donasi pada beberapa panti asuhan dan panti werdha yang kita naungi."
"Oh gitu, tetapi nirlaba?"
"Nirlaba lah bahkan kami bikin bazar aja itu para pengisi stan tidak kami bebani hanya uang kebersihan aja. Semua keuntungan untuk pengisi stand sendiri."
"Lalu dari mana kalian dapat dana buat sewa tempat dan sewa tendanya?"
"Dari uang amal para pengurus juga donatur yayasan, kadang juga tempat atau tenda kami tak dibebani karena pemilik lokasi dan pemilik tenda ikut beramal dengan memberi sewa barang harga 0."
"Kita pengurus memang bergerak untuk ladang Tuhan. Kita bergerak untuk tabungan ibadah kita nanti."
"Oh gitu, hebat yayasan kalian ya."
"Inilah peran kita sebagai umat manusia. Berbagi pada sesama," ucap Maheswari atau Ari.
"Aku salute terhadap kamu, sejak dulu kamu tuh selalu aktif di kegiatan sosial." Puji Clarissa. Sejak SMA Rissa tahu Ari aktif bila mengumpulkan bantuan bagi korban bencana.
"Tapi anak-anak aku belum ada yang ikut aktiv kegiatan sosial," keluh Ari.
"Berapa anakmu?"
"Dua, yang 1 mau menikah dua bulan lagi dan satu ini Marvel."
"Dua-duanya laki-laki?"
"Iya dua-duanya laki-laki. Mereka tidak tertarik di kegiatan sosial."
"Mungkin nanti istri mereka, tenang aja," kata Clarissa.
"Ameen. Aku berharap seperti itu karena memang urusan seperti ini itu tidak ada keuntungannya di dunia," kata Maheswari.
"Benar," kata Clarissa.
"Sama seperti yang aku lakukan tak ada keuntungan sama sekali untuk diriku. Malah semua uang suamiku dan uangku masuk ke sini."
"Tapi itulah kami. Kami bahagia dengan melihat senyum anak-anak." Ucap Clarissa.
"Kalau Mama mau menantu yang bergerak di bidang sosial, Mama besanan ama Mami aja. Anak Mami kan berjiwa sosial semua," goda Marvel nyerempet-nyerempet.
Clarissa dan Ari tertawa, tak tahu kalau kata-kata Marvel serius.
"Tante, Kak, silakan diminum air sirupnya," kata Karenina yang membawakan sirop dan kue basah yang mereka beli di pasar tadi saat belanja sayur.
"Wah anakmu cantik sekali," puji Ari. Nina tersipu malu.
"Iya aku punya empat putri yang sekarang di panti."
"Iya kalau untuk balita aku masih mix. Jadi bayi atau balita ada putra atau putri. Tapi begitu mereka itu sudah umur 5 tahun kalau belum ada yang adopsi, yang laki aku serahkan ke panti asuhan Vincentius karena mereka memang khusus laki-laki."
"Kalau yang perempuan aku pelihara di sini tapi aku upayakan sebelum 5 tahun mereka sudah di adopsi."
"Ada banyak yang berumur sampai lima tahun lebih?" tanya Ari.
"Enggak sih sekarang cuma ada dua. Satu anak laki satu anak perempuan, umur 3 tahun dan 4 tahun.
"Kalau ada yang mengadopsi biasanya aku arahkan untuk mengambil mereka lebih dulu. Biasanya orang tua maunya ngambilnya yang masih bayi sehingga punya memory merawat sejak bayi. Ada foto saat bayi juga."
"Aku tetap upayakan yang lebih besar diambil dulu. Kecuali ya 4 ini sejak bayi aku tahan agar tak diadopsi. Akhirnya aku punya 4 putri yang memang sampai sekarang mereka manis, rajin dan tak mempunyai sikap buruk."
"Mereka mempunyai sifat seperti itu pasti karena kamu mendidik mereka dengan baik dan benar."
"Aku menyayangi semuanya seperti anakku sendiri."
"Aku merasa mereka butuh dekat aku."
Marvel hanya mendengar kedua kedua ibu bercerita tentang anak-anak yang sangat mereka cintai.
"Adek tolong Dek bikinin live sebentar buat laporan Y/ke yayasan." Pinta Maheswari pada Marvel yang rupanya di rumah dipanggil Adek dan Willy dipanghil Abang.
"Iya Ma," Marvel segera membuat mengambil video live panti asuhan.
Marvel membuat video dipandu Clarissa, dia memperlihatkan lingkungan kamar juga kegiatan bayi saat itu.
Saat itulah Marvel melihat Vero dan Nina yang sedang sibuk menjahit.
'*Mereka benar-benar kerja keras*,' batin Marvel, dia mengangguk pada Nina dan Vero sambil tersenyum.
"Oh ini anak-anakmu?" tanya Ari.
"Iya, ini anak-anakku. Kenalkan ini tadi Karenina, yang ini Veronica yang paling besar selisih Veronica dan Karenina ini 6 bulan, tapi sama-sama kelas 3 SMA." Vero berdiri dan menyalami mamanya Marvel.
"Yang ini Betty, dia baru kelas 2 SMA dan ini anak bungsu aku Helena atau Helly, sekarang masuk kelas 1 SMA."
"Wah cantik semua anakmu. Enggak pernah ambil lagi?"
"Sudah banyak ini sudah 5 anakku.
"Kok 5 tadi katanya 4?" Protes Ari.
"Aku bilang 4 yang di panti. Satunya sudah nikah. Dia anak sahabatku dari SD. kami dulu dekat rumah. Tapi saat Lieke umur 5 tahun mereka suami istri meninggal dunia," jelas Rissa.
"Oh yang katanya istrinya bosnya Marvel ya?"
"Ya, Angelica. Dia gadis kaya. Dia punya perusahaan sendiri dari papa mamanya. Deposito juga penuh buat sampai tamat kuliah. Dia punya rumah tapi di sini dia kelakuannya tetap seperti adik-adiknya. Enggak ada perbedaan. Dia tetap manis dan rendah hati."
"Itulah hebatnya kamu. Kamu memang ibu yang paling baik buat mereka."
"Puji Tuhan kalau memang aku dianggap seperti itu," kata Clarissa penuh syukur.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul JINGGA DARI TIMUR