WE ARE HAVING A BABY BOY!

WE ARE HAVING A BABY BOY!
AKU KUAT, TAPI TAK TAHU BABY BOY KITA



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


"Kamu nggak apa apa sayang?" tanya Magdalena pada Lieke yang terlihat pucat dan terlihat berkeringat.



"Perutku kram Ma," Lieke meringis menahan sakit.



"Kram? Mami bagaimana ini?" Magdalena lapor pada Maria.



"Sudah tenang. Kamu istirahat dulu," kata Novita menenangkan cucu mantunya.



"Sangat sakit Oma," keluh Lieke. Dia bukan gadis cengeng. Kalau tak terlalu sakit dia tak pernah mengeluh.



"Ayo Lena, kita bawa ke rumah sakit. Aku tahu anakku. Dia tak pernah mengeluh bila dia bisa tanggulangi," Clarissa berkata pada Magdalena besannya.



Axel langsung sadar mendengar kata-kata mami Rissa. Dia ingat Lieke bukan gadis cengeng yang tukang mengeluh.



"Iya benar, bawa rumah sakit saja," ujar Maria ikut panik.



"Aku akan bunuh dia bila sampai cicitku celaka," ujar Petrus.



Suasana jadi tak kondusif.



"Bapak dan Ibu mohon tenang, biar keluarga Wibowo mengurus ibu Angelica. Yang masih mau stay silakan ada makan siang." Faisal berupaya menenangkan semua yang hadir.



Keluarga Wibowo termasuk Marvel ikut beriringan ke rumah sakit.


\*\*\*



"Kuat ya Babe, kamu kuat ya?" Ujar Axel sambil sedikit terisak sambil menciumi kening dan mata Lieke, Marvel yang menjadi sopir mereka merasa sangat sedih melihat betapa cinta pasangan itu.



"Aku kuat honey, tapi enggak tahu baby boy kita," Lieke berharap baby boy mereka kuat.



"Dia pasti kuat seperti mommynya," Axel mendekap istrinya.


\*\*\*



"Kenapa Lena?" Tanya Martha.



"Tolong bersiap, Lieke kami bawa ke rumah sakit, dia kram perut." Magdalena menghubungi Martha agar bersiap.



"Memang lebih aman Lieke dibawa ke rumah sakit daripada kenapa-napa. Biar bagimana pun dia mungkin kaget atau stress," kata Martha.




Keluarga Wibowo yakin walau Martha lagi urus Rita tapi dia pasti bisa mengurus Lieke terlebih dahulu.


\*\*\*



"Kenapa Kak?" Lian masih di kampus saat menerima telepon dari Anne.



"Bilang mami dan papi siapin pengacara. Kakak ditangkap polisi," ucap Anne yang memang diperbolehkan menghubungi seseorang setelah tiba di kantor polisi. 



Keluarga Wibowo langsung diwakili pengacaranya Pieter, juga Ariani pengacara pribadi Lieke.



"Apaaaaa?" Lian kaget mendengar kakak kembarnya ditangkap polisi.



"Di polsek mana?" Lian bertanya.



"Di polres Kesuma," jawab Anne pasrah. Dia yakin semua kelakuan menyimpangnya akan terkuak pada mami dan papinya karena kasus ini. 



"Kalau boleh tahu aku harus bilang Kakak terlibat masalah apa kalau mami dan papi tanya?" Lian harus jelas. Karena papinya akan marah besar bila dia hanya mengabarkan selintas-selintas.



"Kakak ditangkap karena Rita menjebak Axel," jawab Anne.



"Kalau begitu kenapa Kakak terseret?" Lian masih berpikir logis bila Rita yang jebak, kenapa Anne ikut ditangkap?



"Waktuku enggak banyak. Katakan saja seperti itu."



"Papi dan mami tak akan mau bergerak bila alasannya tak jelas. Jadi tak usah berharap banyak Kak. Walau aku tetap akan sampaikan." Lian hafal kebiasaan kedua orang tua mereka.



"Kakaklah otak semua kejadian penjebakkan Axel! Dan sebentar lagi kamu juga akan ditangkap karena secara tak langsung kamulah informan Kakak," jawab Anne.



'*Ini rupanya yang Marvel bilang. Semua karena aku*,' Lian tak percaya dia terlibat tindak pidana kejahatan secara tak langsung. Dia harus menceritakan semua secara rinci pada papinya.



'*Kalau aku terseret, Marvel juga pasti kena. Aku terlalu naif, aku bisa dijadikan informan oleh kakakku sendiri. Tapi mengapa hubungan persahabatan kak Anne dan Rita sedemikan erat*?'



'*Pantas Marvel sedemikian marah sehingga memutuskan hubungan kami. Rupanya separah ini akibatnya*.' Lian langsung menuju kantor papinya. Hal seperti ini tentu tak bisa by phone.


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR