
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
"Axel kalau kondisinya seperti ini terus sampai besok, maka lusa baby boy boleh pulang."
"Hari Senin ya bukan hari Minggu."
"Kita pantau hingga hari Senin pagi. Dengan catatan kamu masih bedrest paling tidak satu minggu di rumah tanpa banyak kegiatan ya Lieke." Ucap Martha.
"Tapi sudah boleh bangun kan Tante?"
"Boleh bangun buat ke ruang tamu duduk di situ tidak boleh jalan atau melakukan kegiatan lain."
"Bangun buat ke kamar mandi. Tapi hanya sesekali aja ya. Bukan buat aktivitas lain. Tak usah mikir takut dikatain manja."
"Kamu belum boleh berkegiatan. Kalau di rumah enggak enak takut dibilang manja, ya tidur di rumah sakit aja lebih aman."
"Oke aku dengar," kata Axel.
"Nah satpamnya udah dengar kok, jadi tenang aja nggak bakal bisa aku bantah atau ngelawan titah dia," jawab Lieke.
Axel tersenyum manis sambil mengacak puncak kepala istrinya dengan gemas.
"Aku akan kabari semua kalau kalian sudah boleh pulang dengan catatan harus bedrest," kata Axel. Maksud kata kalian dari Axel adalah istri dan anaknya.
Semua tentu senang mendengar kabar dari Axel bahwa hari Senin Lieke sudah boleh pulang dengan catatan harus bedrest minimal 1 minggu. Semua akan mendukung Axel untuk selalu mengawasi Lieke.
\*\*\*
"Apa benar dia tidak ada sanak keluarganya?"
"Kami belum menemukan datanya karena memang dia tidak mencantumkan nama siapa pun saat dibuat BAP. Dia cuma ada nomor kost-nya saja. Sekarang sudah nggak disana karena sudah dikosongkan oleh pemilik kostnya sejak dia tertangkap."
"Data orang terdekatnya yang bekerja sama dengan dia itu, sesama napi."
"Atau kita bisa tanya keorang yang menuduhnya. Mungkin mereka tahu tentang kerabat dari terpidana ini."
"Ya coba aja dihubungi ke sana," kata dokter kepolisian yang menangani Rita.
\*\*\*
"Maaf mengganggu waktunya. Apa Bapak punya data keluarga terdakwa yang bernama Rita?"
"Maksud anda apa?" Balas Pieter pada yang menghubunginya.
"Kami butuh data keluarganya atau orang yang bisa dihubungi saat penting misalnya kakaknya, orang tuanya atau keluarga lainnya."
"Wah saya tidak tahu tentang itu. Yang saya tahu dari istri saya, papanya dipenjara karena kasus korupsi dan dilaporkan oleh perusahaannya terus ibunya nggak tahu ke mana. Soal kerabat lain nggak punya datanya Pak."
"Memangnya ada apa?" Tanya Pieter.
"Kondisinya kritis dia mengalami kecelakaan terjatuh dari bed-nya saat memegang pisau sehingga tertusuk di perutnya. Bayinya langsung tidak selamat karena tertusuk tepat di tubuhnya."
"Kritis? Maaf saya benar-benar tak punya data dia sama sekali. Mungkin bisa ditanyakan teman setianya dalam melakukan kejahatan. Mereka kan terlibat asmara sejenis. Mungkin dia tahu kerabat Rita," jawab Pieter.
"Kalau saya sama sekali tak tahu apa pun. Nanti saya tanya anak saya juga percuma mereka pasti nggak tahu siapa yang bisa dihubungi."
"Baik Pak, kami akan bertanya kepada saudari Anne dirutan."
"Saya kira dia lebih tahu siapa kerabatnya Rita karena mereka kan kekasih. Kalau kami kan bertemu berseberangan. Jadi kami tidak terlalu kenal dekat," kata Pieter.
"Baik Pak Pieter. Terima kasih atas waktunya" kata petugas polisi yang menghubungi Pieter.
\*\*\*
"Kenapa Pa?"tanya Magdalena yang berada di sisinya Pieter. Mereka sedang menuju ke rumah sakit.
Martha bilang lusa Lieke sudah boleh pulang.
Hari ini masih hari Sabtu, mereka memang sudah janji membawakan sop iga sapi juga sumsum tulang buat Lieke.
Besok baru akan mengolah ceker karena ceker besarnya baru dapat kemarin sore jadi cekernya baru akan dibikinkan besok baik semur ceker mau pun rica-rica ceker.
Sop Magdalena bawa dengan thermos tahan panas sehingga nanti sampai rumah sakit sop pasti akan panas terus.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING