
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
Marvel mengingat-ingat lagi semua perkataan Magdalena tadi bahwa Axel tak mungkin menukar kertas yang dia masukkan di balon.
Marvel ingat tadi perkataan Magdalena kalau yang ditulis dokter Martha juga tidak seperti itu.
"Kalau dokter Martha nggak nulis seperti itu, hanya aku tersangka yang membuat tulisan itu tak sama dengan yang dokter Martha tulis."
"Bagaimana mungkin?" Marvel bicara sendiri. Matanya menatap laptop, tapi pikirannya tak disana. Dia bergumam sendiri bukannya pergi makan siang karena kepikiran dengan apa yang Magdalena sebutkan.
Marvel merunut perjalanan dia mengambil kertas ke rumah dokter Martha.
"Anda benar yang bernama Marvel?" Tanya dokter setengah tua tapi masih sangat cantik itu.
"Benar Bu dokter, saya yang ditugaskan pak Axel untuk mengambil paket."
"Paketnya ini jangan sampai jatuh atau tertukar dengan apa pun," kata dokter Martha pagi itu.
Dokter memberikan sebuah amplop kecil berwarna putih berisi sebuah kertas yang ada dalam potongan sedotan plastik untuk boba ice berwarna hijau.
Marvel ingat kertas yang dia masukkan ke dalam balon ada dalam potongan sedotan kecil bukan sedotan boba dan berwarna kuning bukan hijau!
Marvel menutup wajahnya. Dia ingat ada perubahan yang dia tak sadari kapan kertas dalam amplop di sakunya bisa berubah.
Marvel kembali mengingat saat dokter Martha menunjukkan isi amplop kecil ketangannya. Amplop kecil berisi sedotan boba berwarna hijau.
Dan Marvel ingat saat dia mau masukkan gulungan kertas, dia yang keluarkan sedotan dari amplop, sedotan berubah kecil dengan warna kuning!
"Shi-t!" Kenapa aku baru sadar sekarang?"
"Pantas pak Axel dan bu Magdalena mencecarku seperti itu. Ternyata aku terlalu ceroboh! Tak melihat perubahan saat kejadian."
"Kapan kertas itu berubah? Aku tak mampir kemana pun? Hanya menurunkan Lian di depan toko roti langganannya."
Marvel ingat sejak semalam Lian rewel minta diajak saat Marvel bilang tak bisa berangkat ke gender reveal party bossnya karena dia dapat tugas untuk mengambil kunci kesuksesan acara party itu.
Marvel **FLASHBACK** sendiri.
"Koq enggak bisa berangkat barengan? Kamu nyuruh aku nemani kamu party, tapi aku suruh nyusul. Kan enggak pantes!"
"Aku harus tugas ambil kunci sukses acara sebelum pesta." Jawab Marvel ketika itu.
"Ngapain?"
"Aku disuruh ambil kertas di dokter kandungan yang buat dimasukin ke kendi atau balon atau apalah. Pokoknya kunci sukses acaranya disitu," kata Marvel pada Lian.
"Kalau enggak boleh ikut aku mending enggak usah datang," ancam Lian.
"Tapi sayank, jam 06.00 aku harus sudah di rumah dokter itu," jelas Marvel.
"Jam 04.00 aku sudah dirumahmu. Kita jalan langsung saat aku tiba," begitu Lian dengan tekadnya ingin membuktikan kebenaran semua ucapan Marvel.
Lian sangat possessif. Dia tak pernah bisa melepas Marvel kemana pun.
Dan benar esok paginya Lian datang diantar kakaknya yang langsung pulang tanpa bertemu dengan Marvel.
\*\*\*
"Kamu tunggu sebentar, aku cuma ambil paket aja," Marvel minta Lian menunggu di mobil. Dan dia memang tak lama dirumah dokter Martha.
"Mana paketnya?" Tanya Lian.
"Ternyata hanya amplop kecil gini. Aku kira paket sebesar apa." Marvel memperlihatkan amplop kecil di saku kemejanya.
"Amplop kecil koq agak gembung gitu?" Tanya Lian.
"Kertasnya dimasukin di sedotan kayak kertas kocokan arisan itu sayank," jawab Marvel sambil mulai menjalankan mobilnya.
**FLASHBACK OFF**
"Aku harus bicara pada Pak Pieter. Atau aku langsung bicara aja sama bu Magdalena ya?"
"Aku jadi bingung sendiri. Sekarang Akulah tertuduh utama karena jelas bu Magdalena dan Pak Axel bertanya padaku soal kebohonganku soal Pak Faisal."
"Kenapa juga aku pakai ngarang dipanggil Pak Faisal. Kalau sekarang lengkap cap sebagai pembohong melekat pada diriku."
"Pembohong soal pak Faisal juga pembohong soal menukar kertas dari bu dokter Martha."
"Aku tidak mau jadi tertuduh, aku harus bicara jujur sebelum dicap sebagai orang yang ingin merusak rumah tangga Pak Axel."
Marvel ingin segera menghubungi ibu Magdalena.
"Ah enggak sopan bicara hal seperti ini melalui telepon. Lebih baik aku ke rumahnya aja," kata Marvel sambil membereskan map di mejanya juga laptop mejanya.
"Aku harus langsung ke rumah Bu Magdalena aja. Ya aku harus langsung ke rumah Bu Magdalena," gumam Marvel sambil melajukan mobilnya ke rumah Magdalena sehabis pulang kantor.
Untuk penggemarnya mas Sonny dan caca Adelia di novel berjudul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE
baca sequel tentang Mukti, Vio dan Komang di cerita baru berjudul CINTA TANPA SPASI yaaaaa