
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
"Yang lain tolong keluar ya, kecuali suami pasien," kata Martha selaku dokter. Saat itu dia bertindak bukan sebagai keluarga.
Magdalena, Maria, Clarissa, Novita dan Petrus langsung keluar. Pieter sedang mengurus administrasi rumah sakit karena Axel tidak mau berpisah dengan istrinya. Marvel sejak tadi menunggu di depan.
"Bagaimana bila dia tidak bertahan?" kata Maria ketakutan.
"Tenang saja Lieke pasti kuat," kata Clarissa.
"Aku tahu Lieke pasti kuat, tapi bagaimana dengan baby-nya. Yang aku tanya dan takutkan tak bertahan itu babynya." Maria menjawab Clarissa.
"Yang jadi pikiran buatku bukan Lieke-nya saja. Lieke pasti kuat tapi tidak dengan Axel," kata Magdalena.
"Iya Axel nggak akan kuat dia tidak sekuat Lieke," jawab Maria tentang cucunya.
Akhirnya semua diam, mereka sadar saat ini bukan hanya Lieke yang butuh support mereka tetapi juga Axel.
\*\*\*
"Tenang ya. Tenang! Yang penting kamu berpikir tenang, dia akan kuat," Martha memberikan suntikan langsung di cairan infus sehingga langsung masuk ke venanya Lieke.
Martha memberi suntikan penguat kandungan dan juga untuk rileks agar perutnya Lieke tidak kram lagi.
"Kamu tenang. Pikiranmu harus tenang," Martha terus memberi afirmasi pada Lieke agar keponakannya tenang.
"Kamu tenang mereka berdua nggak apa apa. Mereka kuat kok," kata Martha ditujukan pada Axel.
"Iya Tante, aku akan tenang," jawab Axel masih dengan terisak. Bagaimana dia bisa tenang kalau istrinya kesakitan?
Axel tahu selama ini Lieke bukan gadis yang tukang mengeluh. Tadi Lieke mengeluh pasti karena sudah sakit sekali.
"Daddy, aku nggak apa apa, Daddy tenang ya," kata Lieke menguatkan Axel.
"Daddy akan tenang kalau baby boy baik-baik aja," Axel mengecup perut Lieke.
"Aku anak yang kuat Daddy, aku baik-baik aja Dadd," jawab Lieke sambil menahan sakit di perutnya. Masih sakit walau sudah berkurang, tak seperti tadi sebelum diberi obat suntik.
"Daddy kan barusan udah lihat aku di USG. Aku enggak apa-apa kata oma dokter," lanjut Lieke lagi.
\*\*\*
"Tolong carikan Lieke minuman yang dia suka tapi sedikit mengenyangkan. Kalau bisa minta juice entah apa yang dia suka agar lebih tenang, begitu pula untuk Axel."
"Yang harus ditenangkan Axel bukan Lieke," kata Martha pada rombongan keluarga yang ada di depan ruang IGD.
"Lieke aku rujuk buat di rawat, tolong urus kamar ya. Ini aku kasih resep buat Axel."
"Lieke tak bisa langsung pulang, takutnya dia masih kepikiran."
"Lieke dan Axel sama - sama ketakutan baby-nya nggak bertahan karena itu harus dirawat."
"Pieter urus kamar terbaik yang ada bed tambahan buat Axel," perintah Novita.
"Kamar VIP ada bed untuk penjaga, enggak perlu minta bed tambahan. Terlebih kalian pasti ambil kelas VVIP kan?" Martha mengatakan tak usah minta bed tambahan.
Pieter segera kembali ke depan untuk mengurus ruang rawat Lieke sekalian menebus resep untuk Axel.
\*\*\*
Berangsur rasa sakit di perut Lieke berkurang mungkin karena obat suntik yang diberikan oleh Martha.
Kramnya juga sudah tak terasa, mereka sekarang sudah berada di ruang rawat.
"Kalian makan dulu ya. Ini sudah siang loh," kata Magdalena.
Petrus sudah pesan nasi box untuk semua.
"Axel kamu makan biar Mama yang suapin Lieke," perintah Magdalena.
"Aku nggak perlu disuapin Ma, aku bisa makan sendiri koq. Yang diinfus kan tangan kiri," tolak Lieke.
"Aku yang suapin istriku Ma," jawab Axel.
Axel mengambil jatah makan pasien dia bersiap akan suapin Lieke.
"Aku akan makan kalau kamu makan," tolak Lieke sebelum Axel menyuapinya.
"Habis ini aku makan," janji Axel.
"Enggak, aku nggak mau kamu pasti bohong ke aku. Kamu makan dulu dan minum obat, baru aku makan," Lieke bersikeras tak mau makan sebelum Axel makan. Tadi dia sudah minum juice alpukat.
Akhirnya dengan terpaksa Axel mengalah makan lebih dulu. Selesai makan dan minum obat, baru dia menyuapi Lieke. Semua masih ada di situ tak kurang satu pun. Bahkan Marvel juga masih duduk di luar teras, di depan ruang rawat. Dia tidak pulang dan duduk bersama para ajudan Maria.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE