WE ARE HAVING A BABY BOY!

WE ARE HAVING A BABY BOY!
PUTUS



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.



"Tapi saya sudah bilang pada bu Magdalena dan Pak Pieter bukan saya pelakunya Pak." Marvel bersikeras dengan pendapatnya.



"Kamu bisa bilang bukan kamu pelakunya kamu bisa bernarasi bahwa perubahan dari sedotan boba hijau menjadi sedotan biasa kuning bukan kamu pelakunya, pertanyaannya ada saksi nggak?"



"Kalau nggak ada saksi tetap kamu yang bersalah karena polisi tahunya adalah kenyataan dan saksi."



"Kenyataannya kertas itu ditukar. Bu Martha akan bilang yang saya buat seperti ini, itu saksi!"



"Bahwa ada orang menukar ada saksi nggak?"



"Nggak ada kan? Karena enggak ada saksi orang lain yang menukar, maka kamu tetap tersangkanya," kata Axel.



Marvel berpikir keras.



'*Iya juga, dokter Martha bisa bersaksi bahwa dia menulis seperti apa. Lalu kenyataan yang sampai berbeda. Aku lah tersangka utama*.' Marvel tambah kalang kabut kalau dia dipenjara bagaimana dengan kedua orang tuanya.



"Semoga ini pelajaran terbaik buat kamu. Semoga di bagian umum kamu bisa menjaga mulutmu pada siapa pun."



"Kalau soal pekerjaan jangan pernah bicarakan pada siapa pun, bahkan kepada ibu kita, bila dia bukan orang yang mengerti suasana kantor."



"Bisa jadi nanti dari ibumu tanpa berniat jahat dia cerita ke sahabat atau tetangganya itu si Marvel sedang begini, begini, begini. Akhirnya sampai juga ke rantai yang salah. Itu pembelajaran buat kamu."



"Saya bisa berbicara seperti itu karena saya bisa diskusi dengan istri dan ibu saya. Mereka berada dalam link yang sama." 



Marvel kembali membenarkan apa yang Axel katakan.



"Saya berharap kamu bisa kembali bekerja dengan baik, bisa kembali ke jalur pekerjaan sesuai  dengan pendidikanmu."



"Kalau kamu mentok dibagian umum atau bahkan dipecat saya tidak bisa bilang apa karena itu adalah pilihanmu." Axel  dan menyudahi pembicaraan itu.



"Baik Pak terima kasih." Marvel pamit dari ruang Axel.


\*\*\*



"Ada yang harus kita bicarakan," kata Marvel pada Lian. Marvel sengaja menghubungi kekasihnya siang saat jam makan siang.



"Sore pulang kerja aku ke rumahmu," jelas Marvel.



"Tapi aku masih di kampus Babe,"  kata Lian.



"Aku pulang kantor masa kamu masih di kampus. Ngapain kamu?" kata Marvel sedikit ketus.



"Oh pulang kerja. Aku pikir sekarang."



"Kamu aneh ya, aku bilang nanti pulang kerja. Mana mungkin aku sekarang ke rumahmu?" Marvel menggerutu.



\*\*\*



Sesuai dengan janji Marvel memang datang ke rumah Lian sepulang kantor. Saat itu di rumah Lian tidak ada siapa pun kecuali beberapa orang pembantunya.



"Silakan minumnya tuan," seorang pembantu mengantar minum buat Marvel.



"Terima kasih Bik," Marvel berkata ramah pada pembantu rumah tangga yang mengantarkan minum.



"Kenapa sih kamu kok tumben pulang kerja ke sini biasanya kesini week end kan?"



"Aku cuma mau sampaikan keputusanku setelah aku berpikir berulang-ulang." Jawab Marvel.



"Maksud kamu?"



"Aku enggk mau berpanjang-panjang. Gara-gara kamu selalu tanya di mana aku, Pak Axel dijebak orang. Dia disekap dua jam dan ada video kalau dia melakukan sesuatu. Itu baru aku tahu tadi."



"Gara-gara kejadian itu akhirnya aku dimutasi. Aku sudah tak jadi sekretaris. Aku hanya staf administrasi tanpa pekerjaan. Aku jadi pegawai tanpa tugas. Sama aja karierku dibunuh karena kelakuanmu."



"Saat pagi itu aku ambil kertas di dokter Martha, kamu kan yang tahu kenapa amplopnya agak gendut aku bilang ada di dalam potongan sedotan."



"Saat itu cuma kamu yang tahu bahwa kertas itu ada dalam potongan sedotan. Lebih tepatnya aku dan kamu."



"Lalu tiba-tiba kamu tahu kan kasusnya waktu itu kamu sudah ada saat kejadian, ternyata kertas yang ada di dalam saku aku,  yang aku masukkan kedalam balon adalah kertas yang telah ditukar seseorang."



"Sekarang aku sedang diproses untuk dipenjara karena pelakunya jelas aku yang nuker kertas itu dari dokter Martha itu."



"Cuma aku yang akan jadi tersangka utama karena surat dari dokter Martha itu ada di saku aku dan tak pernah keluar."



"Yang tahu isi saku itu cuma kamu. Aku nggak tahu kamu cerita ke siapa aja Dan sekarang aku akan dipenjara."



"Itu alasan kenapa aku mau bilang : KITA PUTUS. Cukup sudah aku menderita karena berhubungan denganmu membuat karierku hancur dan nasibku buruk karena aku akan dipenjara," tanpa ragu Marvel memberi keputusan kalau dia tak ingin lagi berhubungan dengan Lian.



"Tapi Babe, aku nggak salah aku enggak pernah melakukan tindakan buruk." Lian tak terima diputuskan Marvel karena merasa tak pernah bersalah.



"Aku tahu kamu tidak, tapi pada siapa kamu bicara itu yang bikin aku terjungkal."



"Sekarang aku sudah dipindah ke bagian umum tidak menjadi sekretaris Big Boss lagi. Kalau aku masih belum bisa membuktikan siapa pelaku penukaran kertas itu, aku akan di penjara."



Lian tak bisa berkata-kata. Bahkan menangis pun dia tak bisa. Selama ini dia tak pernah bercerita pada siapa pun kecuali pada kakaknya!



'*Tak mungkin kan kakak berbuat buruk*?'


Untuk penggemarnya mas Sonny dan caca Adelia di novel berjudul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE



baca sequel tentang Mukti, Vio dan Komang di cerita baru berjudul CINTA TANPA SPASI yaaaaa