WE ARE HAVING A BABY BOY!

WE ARE HAVING A BABY BOY!
MEMBUKA DIRI



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.



"Axel, kamu pasti tahu kenapa kami semua ngumpul di sini," Ecky membuka kata di pertemuan intern keluarga inti malam ini.



"Kamu kemarin bilang bahwa kamu tidak bersalah. Kamu bilang bukan kamu pelakunya." 



"Yang aneh buat kami saat itu, mengapa kamu tak membantahnya saat Lieke masih bisa mendengar. Mengapa kamu tak menahan saat dia pergi meninggalkan rumah? Dan mengapa kamu tega dia dibully mayoritas yang hadir di pesta itu?" kata Ecky lagi.



"Kami yakin ada alasan kuat mengapa saat itu kamu tak melakukan semua hal itu. Kami berkesimpulan kamu sedang terpojok!"



"Kami memang belum punya bukti bukti bahwa kamu bukan pelakunya."



Ecky dan semua yang hadir kecuali Magdalena tidak tahu apa yang dikerjakan Maria karena Maria belum membongkar.



"Saat ini kami memutuskan bahwa kami percaya kamu bahwa bukan kamu pelakunya!"



"Kamu adalah anak kami,  cucu  kami dan keponakan kami, karena itu kami akan dukung kamu apa pun yang sedang kamu hadapi dan apa pun konsekwensinya. Kami akan pikul bersama denganmu agar beban kita ringan bila berbagi."



"Tapi dengan satu syarat kami sangat mendukung kalau kamu menyebutkansiapa pelakunya."



"Kami tahu kamu diancam, karena itu kami memutuskan akan mendukung kamu dengan semua konsekuensinya."



"Kami akan dukung kamu apa pun ya g akan terjadi. Ayo kita cari solusi bersama. Kami yakin kamu nggak bisa menyelesaikan persoalan ini sendirian."



"Kalau kamu mau Lieke kembali, biarkan kami membantumu dengan baik dan benar," begitu kata Ecky membuka pembicaraan setelah selesai santap malam di rumah Magdalena dan Pieter.



Axel diam.



"Katakan aja Xel," Novita mamanya Pieter memberi dorongan pada cucu tunggalnya.



"Katakan siapa nama yang mengancammu. Kamu tahu kami tak pernah mengingkari janji akan mendukungmu. Kami sudah berjanji akan mensupportmu. Kami akan mengatasi semua akibat yang ditimbulkan oleh ancaman itu. Katakan pada kami. Kami semua sayang kamu Xel," Petrus Wibowo sang opa memberikan pendapatnya.



Axel diam.



"Kalau aku berbuat buruk. Apa semua sanggup menanggung malu?" Lirih akhirnya Axel bicara.



"Maksud kamu apa?" kata Magdalena tak percaya anaknya berkelakuan buruk.



"Aku diancam seseorang akan mengedarkan video aku selingkuh! Aku takut membantah ketika itu karena tak ingin Lieke melihat video itu dan dia akan depressi saat hamil."



"Video itu tidak 100% benar tapi juga tidak 100% salah."



"Ceritakan pada kami semuanya." Pinta Ecky. Dia paling geram dengan tindakan seperti ini.




"Suatu hari saat aku selesai meeting dengan klien, aku sedang bersama dengan Marvel di cafe."



"Saat itu entah mengapa Marvel ke belakang agak lama tidak kembali. Saat itu aku mulai merasakan ada yang tidak beres. Aku mulai merasa tidak nyaman."



"Saat itu ada seorang perempuan yang bilang hendak membantuku mengatasi kesulitanku saat itu dengan membawa ke dokter kenalannya yang dekat dicafe itu."



"Dia membawaku ke kamar dan dia bilang akan membantu aku."



"Entah bagaimana aku tak ingat apa pun dan aku bangun sudah tanpa busana dan perempuan tertidur pulas dalam pelukanku."



"Saat itu aku nggak tahu apa yang aku lakukan sebelum tidur atau pingsan. Serius Aku nggak tahu dan tak merasa melakukan apa-apa."



"Walau aku bangun tanpa busana, tapi aku laki-laki yang sudah berumah tangga. Saat itu aku tidak melihat bekas sper-ma pada jagoan kecilku."



"Jadi aku yakin aku tidak melakukannya.  Aku marah, aku bangkit dan langsung berganti pakaian. Diluar Marvel sedang mencari-cari aku. Dia bilang aku hilang dua jam. Aku bingung."



"Kata Marvel tadi dia dipanggil sekretaris papa ke belakang tapi tak bertemu dan dia ditahan seseorang cukup lama dalam kamar mandi yang terkunci."



"Aku enggak cerita ke Marvel apa yang terjadi."



"Lalu perempuan itu sering menghubungiku, bahkan dia akan mengatakan pada istriku kalau pernah tidur denganku."



"Aku takut membuat Lieke terluka. Aku selalu menghindar."



"Dua hari sebelum kejadian dia mengancamku. Bila aku selalu menghindar dan menolaknya dia mengancam : **lihat saja suatu hal yang aku buat kalau kamu berani melawanku. Aku akan langsung berikan video itu pada Lieke dan papa mamamu**!"



"Ancaman itu jelas Opa, Oma. Kalau aku membantah saat itu juga Lieke akan langsung melihat video itu. Sama aja kan Lieke terluka?"



"Setidaknya kalau aku tak membantah, nama baik dan perusahaan aman, tidak akan hancur."



"Hanya aku dan Lieke yang terluka bila aku diam. Tapi ribuan orang dalam perusahaan aman. Aku berkorban buat anak istri para karyawan kita." 



"Aku juga takut kondisi kandungan Lieke terpengaruh, itu yang membuat saat kejadian itu aku diam. Karena pelaku ada di situ kalau aku langsung membantah, aku yakin dia akan langsung menyebarkan video itu."



"Karena dia sudah punya nomor Lieke."



"Aku tak ingin semua orang menuduhku buruk sehingga berimbas ke harga saham dan pada kelangsungan gaji karyawan kecil dan keluarganya di rumah."



"Biarlah aku sendiri aja yang tahu bahwa aku tidak seburuk itu. Aku yakin suatu saat Lieke mengerti alasanku diam. Ada banyak nyawa yang bergantung pada tindakanku kala itu."



"Kalau aku diam yang terluka hanya aku dan Lieke saja."