
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
"Gimana sayang hasil periksa tadi?" tanya Magdalena pada Lieke.
"Sehat Ma, Puji Tuhan sehat."
"Kamu nggak mual ya?" Lieke bersyukur kedua mertuanya sangat perhatian dan sayang padanya
"Enggak Ma, santai aja kalau kalau aku sampai morning sickness bisa berabe pekerjaanku. Untungnya enggak."
"Ayo Mama bikinin kalian makanan bergizi buat baby loh." Dengan bangga Magdalena memamerkan bahwa dia menyediakan makanan untuk bakal cucunya.
"Oke Ma, terima kasih."
"Sepatumu masih ketinggian tuh Liek," Pieter mengomentari penampilan menantunya.
"Enggak lah Pa masa segini ketinggian sih? Ini cuma 3 cm loh Pa," Lieke tak enak ditegur mertuanya.
"Sebaiknya yang datar aja nggak usah pakai hak sama sekali," saran Pieter.
"Enggak apa-apa Pa?"
"Enggak apa-apa kamu pakai sneaker aja nggak apa-apa kok."
"Aku takut nanti dikira enggak sopan Pa."
"Enggak apa-apa sudah tenang aja."
"Oke kalau gitu mulai besok aku akan hunting sneaker buat hari-hari," jawab Lieke.
"Mama tadi sudah belikan waktu pergi sama papa. Ada dua pasang nanti berikutnya kita cari warna dan jenis lain, kita pergi berdua aja atau sama Tante Martha," ujar Magdalena.
"Baiklah terima kasih Ma."
"Sudah Mama siapkan di depan nanti jangan lupa ya."
"Iya Ma. Sekali lagi terima kasih," kata Lieke.
Itu semua bentuk perhatian kedua mertuanya. Dari menegur karena pakai sepatu dengan hak 3 cm sampai membelikannya sepatu flat. Tak hanya menegur, tapi langsung disiapkan solusinya.
Bahkan mama mertuanya juga memasakkan makanan sehat khusus ibu hamil.
Lieke mengusap perutnya. Dia bersyukur mendapat keluarga yang sangat mencintainya.
"Mau lagi?" Tanya Axel. Dia menawarkan kue cucur yang Maria bawakan.
"Cukup honey aku merem dulu ya," pamit Lieke pada Axel.
Axel mengusap kening Lieke yang memejamkan matanya.
\*\*\*
"Besok kamu ikut mama ke undangan gender reveal ya Liek." Pinta Magdalena malam itu.
"Besok aku sibuk Ma. Papa ada dua meeting. Yang pertama jam 10.00 dan kedua jam 02.00. Jadi dari pagi aku siapin materi.
"Kita kan perginya sehabis magrib, bisalah." ucap Magdalena.
"Oh kalau itu bisa Ma. Aku kira pas jam kerja."
"Sudah besok pulang kantor kamu nggak usah pulang ke rumahmu biar Pak Kusen jemput kamu aja kamu langsung pergi."
"Lah aku koq enggak diajak?" protes Axel
"Emang kamu mau ikut?" Tanya Magdalena.
"Aku ikut kemana istrinya pergi," balas Axel.
"Bukannya kamu seneng kalau jauh dari istri?"
"Ya nggak lah Ma. Mana mungkin aku begitu." Axel tak mau dibilang seperti itu.
"Ya sudah kalau kamu mau ikut besok pulang kantor langsung bawa aja Lieke ke rumah," kata Magdalena.
Sejak Lieke hamil dia tidak boleh bawa mobil sendiri. Padahal sejak gadis dia terbiasa bawa mobil sendiri.
\*\*\*
Besoknya sepulang kerja Axel membawa Lieke istrinya ke rumah mamanya.
"Mau pesta di mana sih?" Axel penasaran.
"Mana aku tahu aku kan cuma ikut aja sama mama."
"Lalu bajumu bagaimana?"
"Pasti Mama udah siapin seperti biasa. Mana pernah sih aku boleh pergi dengan baju yang aku beli sendiri, walau pun tetap harganya mahal cuma kan eggak selera mama."
"Pasti mama udah siapin baju yang lebih bagus menurutnya," Lieke sudah hafal kebiasaan Magdalena, sehingga dia tak mau bingung dengan mempersiapkan baju yang akhirnya harus dia ganti.
\*\*\*
"Iya acaranya sangat ramai," kata Magdalena.
"Kalau biasanya gender reveal party itu umur kehamilan berapa Ma?"
"Biasanya umur empat sampai lima bulan, saat dokter sudah mengetahui jenis kelamin bayi."
"Nanti jenis kelamin bayi dari dokter akan dimasukkan ke kue, balon atau apa pun yang akan digunakan sebagai sarana. Bisa juga pakai nasi tumpeng, dimasukkan di puncak nasi."
"Karena jenis kelamin sudah diketahui dokter maka bisa diberitahu pada calon orang tua secara surprise. Makanya disebut gender reveal."
"Oh gitu," Lieke mendengarkan keterangan Magdalena dengan saksama.
\*\*\*
"Liekeeeee," teriak seorang gadis.
"Hai," sapa Lieke sopan.
"Enggak nyangka kamu ada di sini," sapa Rita yang kebetulan ada disini.
"Aku sama mama mertuaku dan suamiku," jelas Lieke.
"Aku enggak nyangka lho kita bertemu di sini Axel," sapa Rita dengan sangat manis. Aneh kan? Yang bicara Lieke mengapa Rita langsung mengatakan hal itu pada Axel?
"Aku menemani istriku," jawab Axel.
"Karena kalau hanya berdua dengan mama kasihan dia."
"Halo Magdalena, apa khabar?" Sapa seorang perempuan.
"Aku baik," jawab mertua Lieke ada kenalannya.
"Kamu datang dengan siapa?"
"Anak dan menantuku," kata Magdalena.
"Oh kamu sudah kenal anakku? Ini Margaretha anakku," ucap perempuan itu.
"Oh ini anakmu?" kata Magdalena sambil memandang dengan mimik tak suka.
"iya."
"Hallo Tante, apa khabar?" sapa Margaretha.
"Saya dulu dua tahun di bawah ke Axel saat SMA," Rita mengenalkan jati dirinya.
"Oh ya? Kamu berteman dengan Lieke itu sejak kapan?" tanya Magdalena langsung ke pokok persoalan.
"Saya satu kampus dengan Lieke Tante."
"Oh gitu sudah selesai kuliah, tapi kamu rajin ya ke rumah Lieke. Tujuannya apa? Kamu tahu Lieke kerja kan? Padahal dia sudah bersuami. Pasti pulang kerja ingin berdua dengan suaminya." tanya Magdalena langsung.
"Cuma main aja Tante."
"Oh main? Enggak bagus lah seorang gadis main di rumah tangga orang lain," jawab Magdalena.
"Ayo Lieke, kita makan."
\*\*\*
"Kamu sudah selesai makannya? Kok cepat banget." kata Magdalena yang abru kembali dari toilet.
"Sudah Ma sudah kekenyangan."
"Wah udah kekenyangan. Ayo kita cari udara keluar yuk biar kamu nggak pegah," ajak Magdalena.
"Ayo Ma," kata Angelica tanpa curiga.
Mereka pun keluar ke depan. Saat itu ada taksi yang menurunkan penumpang di lobby.
"Ayo kita naik dulu," ajak Magdalena langsung membimbing Ebby masuk ke taksi yang pintunya belum sempat ditutup oleh penumpang sebelumnya.
"Nanti Axel gimana Ma?" Lieke tentu bingung karena mereka pergi bersama Axel.
"Biarin aja ayo kita pulang," tanpa mempedulikan protes menantunya Magdalena menyebut alamat tujuan pada sopir taksi.
"Memang kenapa Ma?" Tanya Lieke.
"Kita harus berangkat ke Belgia sekarang juga. Papa sudah siapkan semuanya. Juga tante Martha."
"Kamu bawa passport kan?"
"Bawa Ma." Kebiasaan Lieke sejak jadi sekretaris pak Pieter di tas nya selalu ada passport. Bila harus ngedadak berangkat tanpa bawa koper dia sudah biasa.
Satu minggu Lieke dan kedua mertuanya berada di Belgia. Ponsel Lieke tak bisa aktif. Selain dia tak mengganti nomor lokal, dia juga tak bawa charger sedang charger ponselnya tak sama dengan milik kedua mertuanya atau milik tante Martha.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING