
- Jika seseorang telah membenci, hal sekecil apapun akan di nilai salah meski nyatanya itu benar sekali pun –
----------------
Di pagi buta, di saat semua masih dengan persiapan sekolahnya, Rachel sudah tiba lebih dulu di ruang kelasnya. Dengan memegang buku di genggamannya, ia mempelajarinya kata demi kata, rumus demi rumus, berharap ia akan mudah mengerti dengan apa yang di jelaskan nanti oleh pembimbingnya.
Jarum jam berputar lebih cepat, dan sungguh tidak terasa jika jam masuk telah tiba. Selain guru-guru yang sudah memasuki ruang kelasnya masing-masing, siswa pun telah siap untuk menerima pelajaran baru.
Kimia, itulah yang tengah mereka pelajari kali ini. Pelajaran yang sangat tak di sukai oleh mereka yang berada di ruang kelas. Beberapa merasa sangat bosan ketika mendengar pembimbing mereka menjelaskan, dan hanya beberapa yang mendengarkan serta berusaha untuk mengerti.
Memang tidak mudah, semua pelajaran, dan pengajaran di sekolah tersebut memang benar-benar di perhatikan, karena sekolah tersebut benar-benar memikirkan nama baik sekolah saat siswa mereka lulus kelak.
“Terdiri dari apa sajakah partikel dasar dalam atom? Ada yang bisa menjawabnya? Ini merupakan pertanyaan paling mudah, aku rasa kalian bisa menjawabnya.” Seru pembimbing tersebut seraya memegang bukunya, dan spidol di salah satu tangannya. “Tidak ada yang bisa menjawab? Benarkah?” Imbuhnya lagi.
“Herr¹ Alfan.” Seseorang mengangkat sebelah tangannya.
“Ya Arfa? Bisa kau sebutkan?”
“Proton, neutron, dan nukleon?” Sahut gadis itu, dan pembimbing itu menggerakkan jari telujuknya ke kanan-kiri, mengartikan bahwa jawaban gadis tersebut masih kurang tepat. Kemudian, ia menghela nafasnya, dan mulai kembali menyimak pertanyaannya. Selang beberapa menit, seorang bergantian mengangkat salah satu tangannya.
“Proton, elektron, dan neutron, herr.”
“Tepat sekali, Denis. Lalu, apa ada yang bisa jelaskan muatan setiap atom-atom tersebut?” Pandangan pembimbing itu kembali meluas, hingga matanya tertuju pada seseorang yang tengah sibuk mencatat. “Rachel, bisakah kau menjelaskan jawaban dari Denis?” Imbuhnya lagi, dan hal itu membuat Rachel mendongakkan kepalanya.
“Tidak perlu di tanya, herr. Dia pasti bisa menjawabnya! Dia itu ‘kan si gadis beasiswa, itu artinya dia sangat cerdas bukan? Jika dia tidak bisa menjawabnya, bukankah itu akan sangat memalukan?” Sambar salah seorang teman kelasnya yang kemudian di sambut tawa oleh lainnya.
“Proton muatannya adalah ‘+’. Elektron muatannya adalah ‘-‘. Sedangkan neutro tidak memiliki muatan atau dapat di sebut dengan netral.” Tanpa mendengarkan cemohan orang-orang di sekelilingnya, Rachel tetap menjawabnya dengan percaya diri. Benar salahnya jawaban yang sudah ia utarakan, itu menjadi urusan pembimbingnya.
“Yah kau benar, Rachel. Aku rasa benar apa yang di katakan oleh pembimbing yang lain. Denis, dan Rachel adalah putri, serta pangeran kelas.”
Semua mata memandangi Rachel ketika mendengar penuturan guru tersebut. Mereka tidak menatap Denis, karena mereka tak masalah jika Denis mendapat julukan tersebut, bagaimana tidak? Denis pun tak kalah terhormatnya dari Leon serta siswa lainnya, tapi Rachel? Bagi mereka sungguh tidak pantas.
Ketika pelajaran-pelajaran telah usai, mereka memasuki waktu istirahat. Ketika semua teman kelasnya berhamburan keluar untuk menyantap makan siang, dengan senang hati Denis menghampiri Rachel yang tengah berdebat dengan Liana.
“Kau harus makan siang lebih dulu, Rachel! Setelah itu kau bisa membaca bukumu lagi.”
“Kalian sungguh dekat, ya? Tapi, yang di katakan temanmu itu benar, Rachel. Sebaiknya kau isi energimu dulu! Aku dengar setiap pulang sekolah, kau selalu pergi bekerja paruh waktu, benar begitu?” Denis menyeru, dan Liana benar-benar terpesona menatap pria di hadapannya.
“Baiklah aku tunggu kau di kantin!” Tutur Liana yang sesekali menatap Denis, dan juga Leon yang tengah berjalan menghampiri meja temannya. Namun, pada akhirnya ia pun langsung meninggalkan Rachel.
“Kau belum menjawab pertanyaanku, nona Rachel.” Denis kembali tersenyum ke arahnya.
“Tidak perlu mengharapkan jawaban darinya, Denis! Ikut aku!” Sahut Leon yang menarik temannya agar ikut bersama dengannya.
Tidak lama setelah mereka pergi, 2 siswa menghampirinya, dan memintanya untuk ikut dengan mereka. Tanpa ragu, Rachel mengikutinya, dan dapat terlihat jelas dari pita yang di kenakan oleh mereka, jika keduanya merupakan senior kelas akhir.
Mereka berhenti di salah satu toilet belakang sekolah, dan entah apa yang di inginkan oleh mereka pada Rachel, karena ketika masuk ke toilet tersebut, salah satu temannya ada yang sudah berada di sana dengan menyilangkan kedua tangannya tepat di depan dadanya. Ketika mereka datang, orang tersebut menghampirinya, dan memberi tatapan yang begitu tajam pada Rachel.
“Apa yang kau lakukan pada Evan kemarin sore? Kau menggodanya? Berani sekali kau menggoda tunangan seorang dewi sekolah ini? Besar juga rupanya nyalimu. Tidak! Kau bukan hanya berani melawan Elena, kau bahkan berani beradu argumen dengan Leon.”
“Menggodanya? Ada keuntungan apa aku melakukan hal tersebut? Mengenai Leon, aku tidak akan diam jika seseorang...” Belum menyelesaikan ucapannya, seseorang mengguyur tubuh Rachel dengan air yang di campuri tepung serta telur di dalamnya.
Terkejut akan hal itu, Rachel menatap tajam ke arah mereka, dan mereka tersenyum puas melihatnya. Hingga mereka pun mendorong Rachel hingga tersungkur ke belakang, lalu mereka meninggalkan toilet, dan sengaja menguncinya dari luar
Liana merasa heran, temannya tak kunjung datang, dan akhirnya ia kembali ke kelas seraya membawa roti serta susu di tangannya. Namun, ia tidak bisa menemukannya sama sekali. Lalu, ia memutuskan untuk menyusuri beberapa tempat yang mungkin di kunjungi olehnya, perpustakaan misalnya. Disana ia tetap tak menemukannya, dan ia mencoba untuk mencarinya kembali.
Mendengar pukulan pintu serta suara dari balik toilet membuat Liana menolehkan pandangannya. Langkahnya membawa menuju sumber suara tersebut, ketika di dengar dengan seksama, ternyata itu adalah suara Rachel. Melihat kunci yang masih menggantung di knop pintu itu membuat Liana sadar jika temannya pasti telah di kerjai, dan ia segera membukanya.
Alangkah terkejutnya ketika melihatnya berantakan, namun Rachel segera keluar dari sana, dan berjalan menuju suatu tempat. Banyak mata yang memandangnya dengan sinis, lebih lagi dengan penampilannya seperti sekarang. Sesekali, mereka menutupi hidungnya karena mencium aroma bau dari tubuh Rachel.
“Dimana kak Elena?” Sahut Rachel dengan nada yang masih berusaha menahan emosinya.
“Untuk apa kau mencarinya? Aku sangat yakin jika Elena tidak akan mau bertemu denganmu. Apa kau sadar dengan penampilanmu saat ini? Kau sangat lusuh, kotor, dan bau.” Tutur orang itu, dan di sambut dengan tawa renyah dari teman kelasnya.
“Ada apa mencariku? Astaga, ada apa denganmu?” Ejek Elena seraya menahan tawanya.
“Aku ingin permintaan maaf darimu!” Sambar Rachel menatapnya lebih tajam dari sebelumnya. Tampak jelas juga ia tengah menahan air matanya saat itu.
“Apa? Maaf? Apa aku tidak salah dengar?” Lagi-lagi Elena serta temannya mengejeknya, bahkan mereka mentertawainya akibat ucapan yang Rachel lontarkan.
Note: Herr adalan panggilan siswa pada guru pria.
Bersambung ...