
- Satu hal yang ku inginkan dalam hidupku saat ini, yaitu keberadaanmu di sisiku. -
_____________________________
Leon sudah tiba di rumahnya sejak tadi, namun dia masih belum mendapatkan kabar dari Rachel, dan itu benar-benar membuatnya begitu cemas. Mencoba untuk menghubunginya lebih dulu, sangat di sayangkan bahwa ponsel wanita itu tidak bisa di hubungi.
Rasa cemasnya semakin menjadi-jadi, hingga dia pun menyambar jaketnya serta kunci mobil miliknya. Sebelum keluar dari rumahnya, seseorang menahan langkah kakinya, dan itu sedikit membuat Leon berdecak kesal.
"Apa yang ingin kau lakukan? Akan terjadi badai salju hari ini, tetaplah di rumah!"
"Aku sudah besar, berhentilah mengaturku!" Sahut Leon tanpa membalikkan tubuhnya pada wanita setengah baya yang masih berdiri di tengah-tengah anak tangga.
"Apa kau ingin menemui wanita miskin itu, hah?"
"Siapa yang ibu maksud?" Kini, Leon berbalik, dan menatap tajam wajah ibunya sendiri.
"Kau pikir ibu tidak tahu siapa wanita yang dekat denganmu? Bukankah dia yang sudah membuat putraku satu-satunya ini menjadi pria liar? Dia bahkan sudah berhasil membuatnya kehilangan bagaimana cara memghormati ibunya sendiri."
"Dengar! Sejak kau mengabaikanku ketika aku masih kecil, sejak kau lebih mementingkan pekerjaanmu itu, sejak saat itu juga kau sudah kehilangan rasa hormat dariku! Jadi, berhenti untuk mengaturku, dan jangan mengkambinghitamkan orang lain atas tindakanmu itu!" Tambahnya lagi yang langsung pergi meninggalkan rumah.
Selama perjalanan, Leon terus mencoba menghubunginya. Percuma, selama ponsel wanita itu mati, mau berapa kali pun dia menghubungi Rachel, tetap saja wanita tersebut tidak akan menerimanya. Dengan kecepatan tinggi dia lekas melajukan mobilnya menuju rumah Rachel.
Setibanya disana, ia terus menggedor pintu rumahnya. Mengetahui password rumahnya, Leon langsung menekan beberapa digit nomor yang terdapat pada pintu tersebut, berhasil masuk, dia lekas mencari keberadaannya di dalam.
"Tampaknya dia belum kembali sejak tadi. Astaga Rachel, sebenarnya kemana kau pergi?" Rutuknya frustasi, dan dengan cepat ia kembali meninggalkan rumah tersebut agar bisa mencari keberadaannya.
Ponsel Rachel masih mati, dan itu benar-benar membuat Leon semakin frustasi. Akhirnya dia mencoba untuk menghubungi Liana, yah dia berharap bahwa wanita itu mengetahui keberadaannya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Sahut Leon ketika orang di seberang sana sudah menerima panggilan darinya.
"Apa yang kau katakan? Kau menghubungiku, dan bicara seperti itu." Liana tampak kesal saat mendengar lontaran dingin yang terucap dari seberang telponnya.
"Jawab saja! Kau sedang dimana, dan dengan siapa?"
"Aku berada di rumah Denis untuk makan malam. Sebaiknya, kau juga temani Rachel untuk makan malam nanti, sampaikan padanya bahwa..." Belum menyelesaikan ucapannya, panggilan pun di akhiri secara sepihak oleh Leon, dan hal itu benar-benar membuat Liana berdecak kesal menanggapi sikap Leon yang tidak sopan itu.
Melihat Liana terus menggerutu membuat Denis menghampirinya, dia tertawa kecil ketika melihat Liana memotong beberapa sayuran dengan kesalnya, dan karena itu, ia pun berhasil melukai jarinya sendiri.
Terkena irisan pisau, sontak membuat Liana sedikit meringis, dan dengan cepat Denis membawa jari telunjuk wanita di sampingnya ke westafel, membiarkan air mengalir untuk membersihkan lukanya. Setelahnya, pria itu pun mengambilkan kotak obat, dan lekas mengobatinya.
"Ini semua karena temanmu. Dia menghubungiku, dan tiba-tiba saja mengakhiri panggilannya sebelum aku menyelesaikan ucapanku. Bukankah itu menyebalkan?" Rutuknya lagi.
"Apa Rachel menghubungimu? Atau, apa kau tahu dimana Rachel?" Seakan tahu pikiran dari temannya, secara spontan pertanyaan itu pun terlontar dari bibir Denis.
"Mana ku tahu? Temanmu itu bahkan tidak membiarkanku untuk mendekati temanku sendiri."
Leon, dia sudah berkeliling selama 40 menit, dan dia masih belum bisa menemukan keberadaan Rachel. Pemberitahuan mengenai di tutupnya jalan pun sudah di keluarkan, namun tetap saja Leon tidak bisa putar balik ke rumahnya tanpa menemui wanita itu lebih dulu.
Melewati sebuah jembatan, Leon teringat akan sesuatu. Hingga dia pun memutuskan untuk turun ke bawah jembatan, berharap bahwa dia dapat menemukan sesuatu di sana. Ketika mobil telah terparkir, dia segera meluaskan pandangannya di sekitar sana, dan kedua matanya terfokus pada seseorang yang tengah duduk menatapi air sungai yang hampir membeku.
"Apa yang kau lakukan disini?" Leon menyahut, dan hal itu berhasil membuat orang itu menoleh ke arahnya.
Melihat kedatangan Leon yang begitu tiba-tiba membuatnya sangatlah terkejut, meski begitu senyumnya terukir ketika melihat pria itu. Entah sudah sejak kapan, dia selalu terpesona setiap kali melihat keberadaannya, Leon yang tengah berdiri tanpa menatapnya dengan kedua tangan yang sengaja di masukkan ke dalam saku jaketnya membuat dirinya sangat ingin berhambur memeluknya.
"Hei, kenapa tidak menjawabku?" Sambarnya lagi. Saat dia menatapnya, dengan cepat orang itu mengalihkan pandangannya. "Akan ada badai salju hari ini, sebaiknya kita pulang sekarang." Leon menambahkan.
"Kau sudah tahu akan ada badai, kenapa masih datang kemari? Sebaiknya kau pulanglah!"
"Bagaimana bisa aku pulang jika kau selalu membuatku khawatir? Kau mengatakan akan menghubungiku begitu tiba di rumah, aku menunggumu, dan kau tak kunjung menghubungiku. Ketika mencoba menghubungimu, ponselmu mati, dan rumahmu kosong. Apa kau sengaja mematikan ponselmu untuk menghindariku?"
"Untuk apa aku menghindarimu? Ponselku mati pasti karena dayanya habis, sekarang pulanglah, dan aku berjanji akan pulang setelah itu. Maaf juga karena sudah selalu membuatmu khawatir." Tuturnya yang mencoba tersenyum.
"Aku akan pulang setelah memastikan kau tiba di rumah dengan aman. Sebelum itu, kita beli sesuatu dulu untuk makan malam."
"Tidak perlu, aku sudah membawa bahan untuk makan malam. Aku akan memasaknya, jadi kau pulanglah sebelum jalan di tutup."
"Jika begitu buatkan aku makan malam!"
Tak ingin berlama-lama lagi, Leon segera menarik pergelangan tangan Rachel agar bisa ikut bersama dengannya. Pegangan tangannya begitu erat, rahangnya yang terlihat mengeras mengisyaratkan bahwa pria itu tengah menahan emosinya kali ini, dan Rachel hanya bisa menghela napasnya saat itu.
Dalam perjalanan tidak ada yang mereka ucapkan sedikit pun, hingga mereka tiba di rumah, keduanya masih sama-sama bungkam. Tidak bisa menyuruhnya pulang, akhirnya Rachel pun mengikuti kemauannya untuk memasakkannya makan malam.
Saat ini, apa yang sedang kau pikirkan, Rachel? Apa begitu melelahkan berada di sisiku selama ini?
Bersambung ...