Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 31



- Saat kau memberikan seluruh kepercayaanmu padaku. Saat itulah aku akan dengan sangat berhati-hati untuk menjaganya agar tetap utuh. -


_________________________________


“Tidak. Aku tidak ingin membuat kesimpulan sendiri. Aku tidak ingin mendapat jawaban dari sebuah tindakan, aku ingin kau sendiri yang mengutarakannya.” Tutur Rachel yang mendorong tubuh Leon.


“Ternyata kau begitu serakah, ya.” Leon sedikit terkekeh mengetahui hal tersebut. “Baiklah jika itu yang kau inginkan. Aku melakukan semua itu karena aku menyukaimu, dan benar aku melakukannya demi melindungimu.” Tambahnya seraya tersenyum begitu hangat.


“L-lalu c-ciuman itu? Kau tidak seharusnya melakukan itu di sekolah, dan juga kita belum cukup dewasa untuk melakukan hal seperti itu.”


“Mengenai hal itu, itu salah Evan. Jika dia tidak menciummu, mungkin aku tidak akan melakukan itu padamu. Apa kau tahu aku merasa sangat kesal ketika mendengar dia mengucapkannya, ingin rasanya aku meninjunya saat itu.”


Menanggapi ocehan Leon hanya membuat Rachel tersenyum. Dia benar-benar tidak menyangka dengan yang terjadi pada hari itu, pria yang selalu bersikap dingin padanya ternyata menyimpan perasaan pada dirinya, dan tanpa di ketahui olehnya, pria itu sudah melakukan banyak hal untuknya.


“Apa kau juga yang menyimpan seragam-seragam itu di rumah sewaku?”


“S-seragam apa yang kau maksud?” Leon memutar bola matanya untuk mengalihkan pandangannya dari gadis di hadapannya.


“Kau tidak perlu mengelak lagi, Leon. Selain Liana, hanya kau yang mengetahui tempat tinggalku, dan Liana tidak mungkin mengirimkannya untukku. Walau begitu, terima kasih.” Rachel menyunggingkan senyum terbaiknya. “Selain itu, bisakah untuk tidak memberitahu siapa pun mengenai apa yang terjadi pada kita?”


Meski enggan menyetujuinya, dengan terpaksa Leon harus menerima permintaannya. Lagi pula untuk apa memberitahu kabar tersebut pada yang lain, Leon bahkan tidak pernah mempedulikan orang-orang yang berada di sekolah tersebut, kecuali Denis, dan juga Rachel.


Keduanya turun dari atap karena bel masuk pun telah berbunyi. Selama perjalanan menuju kelas, Rachel masih merasa tidak menyangka dengan apa yang terjadi hari itu, dia bahkan belum memberikan jawaban apapun mengenai pernyataan Leon terhadapnya, namun tampaknya Leon tidak menyadari hal tersebut.


Setibanya berada di kelas, Rachel melihat temannya tengah berbincang dengan Denis, dan tanpa sadar senyumannya pun terukir. Masih berdiri di ambang pintu, Leon terlihat bingung kenapa gadis itu berhenti menghalangi jalannya, kemudian ia menyalipkan sebagian tubuhnya, dan melihat tatapan Rachel tengah menuju kemana.


Melihat sorotannya mengarah pada meja Denis membuat Leon mengernyitkan kedua alisnya seraya menatapi Denis, dan wajah Rachel secara bergantian. Lalu, ia pun menghela napasnya, dan melangkah mendahuluinya.


“Sebaiknya berhati-hatilah, sekarang kau ini milikku! Dan tidak ku izinkan kau untuk melirik pria lain selain aku.” Bisik Leon yang berjalan santai melaluinya, mendengar itu pun justru membuat Rachel sedikit tersenyum.


Ketika Leon telah duduk di kursinya, Rachel menyusulnya, Liana yang menyadari hal tersebut pun langsung menghampiri temannya seraya membisikkan sesuatu, dan ucapan Liana sungguh mengejutkan untuknya.


“Aku mengatakan pada dia bahwa aku menyukainya, dan dia berkata bahwa dia akan mencoba menjalaninya bersamaku.” Liana berbisik.


“Astaga, benarkah?” Rachel langsung menatap temannya dengan kedua mata yang membesar, dan Liana membalasnnya dengan sebuah anggukkan. “Cepat kembali! Pembimbing sudah datang.” Tuturnya lagi. Mendengarkan penuturan Rachel, Liana pun segera kembali ke tempatnya.


“Apa yang terjadi? Kenapa kalian saling berbisik?” Dengan santai Leon memiringkan tubuhnya agar bisa menatap Rachel, dia juga tidak peduli dengan guru pembimbing yang sudah berada di dalam. Namun, sikapnya mengundang para siswa yang berada di sana untuk menatapnya.


“Bisakah kau kembali memperhatikan pelajaran?” Rachel tampak menekankan setiap kalimat yang terlontar, kemudian ia juga berusaha meluaskan sedikit pandangannya ke arah sekelilingnya, mencoba untuk memberi isyarat pada pria di hadapannya bahwa siswa lain tengah memperhatikan mereka.


Meski terkesan aneh serta tak biasa, Rachel tetap bersyukur, setidaknya dia tidak mendengar hal aneh-aneh lagi dari mereka. Ketika tengah memfokuskan pikirannya pada pelajaran yang tengah di jelaskan, tiba-tiba saja orang di hadapannya melemparkan sebuah kertas ke mejanya.


Temui aku di halaman belakang sekolah saat pelajaran selesai.


Menerima memo itu membuat Rachel menggelengkan kepalanya, yah siapa lagi jika bukan Leon yang mengirimkannya. Entah kenapa dia memintanya untuk bertemu disana, namun dia berharap jika pria itu tidak akan melakukan hal yang bukan-bukan.


“Baiklah. Aku ingin kalian mempelajari bab selanjutnya untuk pembahasan minggu selanjutnya. Jika ada yang tidak kalian pahami, kalian bisa bertanya padaku, dan bisa menemuiku di ruanganku.” Pembimbing laki-laki itu menerangkan begitu dengan baik, tampaknya mereka juga sangat menikmati pelajaran tersebut.


“Baik herr.” Sahut mereka secara bersamaan.


Saat ini sudah pukul 4 sore, dan sudah waktunya mereka untuk pulang. Tanpa mempedulikan Denis, Leon segera keluar dari kelas, melihat hal tersebut membuat Denis bingung, karena itu tidak biasa di lakukan olehnya.


Masih merapikan buku-bukunya, Liana menghampiri Rachel, dan menunggunya agar dapat pulang bersama. Selain Liana, Denis juga tampak menunggunya, dan sepertinya sangat tidak mungkin bagi Rachel untuk berada di antara mereka, lagi pula dia memiliki janji dengan Leon yang pasti sudah menunggunya di halaman belakang sekolah.


“Sebaiknya kau pulang lebih dulu saja. Aku harus mengembalikan buku dulu ke perpustakaan sebelum pulang.” Sahut Rachel mencoba mencari alasan.


“Bagaimana jika kami temani?” Denis menyahut seraya meletakkan tas miliknya di punggungnya.


“Ah Ha Ha Ha. Tidak perlu, lagi pula aku juga harus bekerja paruh waktu setelah itu.” Ucapnya lagi mengambil tasnya, dan bersiap untuk keluar.


“Ikut aku sebentar!” Tiba-tiba saja Liana menarik tangan temannya itu, dan Denis hanya bisa tersenyum melihat hal tersebut.


Saat itu Liana menarik Rachel keluar kelas. Setelah berada di luar kelas, Liana melepaskan genggamannya, dan meluaskan pandangannya ke sekelilingnya. Melihatnya membuat Rachel kebingungan, sebenarnya ada apa dengan temannya, sikapnya sekarang seolah ingin melakukan hal yang tidak-tidak.


“Aku ingin memberitahu satu hal padamu. Ini soal sikap para siswa disini.” Celetuk Liana.


“Ah benar, aku juga bingung melihat mereka. Apa yang terjadi selagi aku tidak berada di sekolah? Kenapa ketika aku masuk, mereka tidak pernah mengucapkan hal yang menyakitkan lagi kepadaku? Walaupun aku merasa senang, tetapi menurutku itu hal yang sedikit aneh.”


“Haruskah menjauhiku jika hanya membicarakan soal seperti ini? Aku bisa mendengar kalian, lho.” Denis memunculkan kepalanya di ambang pintu ruang kelas. “Kau tidak perlu merasa aneh, Rachel. Leon yang sudah melakukannya, dia meminta para siswa untuk tidak mengganggumu lagi, karena jika sampai itu terjadi, orang tersebut akan berhadapan dengannya.”


“Yang di katakan Denis benar. Bahkan dia juga yang membereskan soal ketiga orang asing yang mengganggumu di gang saat itu. Dia benar-benar panik saat mengetahui soal itu, dan banyak hal yang dilakukan Leon untukmu. Selain itu... Astaga.” Liana menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dan matanya memandang Rachel dengan begitu lekat.


“Yaaakk~ kenapa kau menatapku seperti itu?”


“Apa kalian diam-diam memiliki hubungan?” Tutur Liana yang kembali menatap temannya dengan tatapan yang penuh introgasi.


Bersambung ...