Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 24



- Aku mungkin tidak bisa membuatmu tertawa. Namun, aku akan berusaha agar tidak membuatmu terluka -


__________________


“Kenapa kau bertanya seperti itu?” Leon membalas dengan nada yang datar.


“Karena kau begitu mencemaskannya, sedangkan kau tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Kau bahkan sering bertengkar setiap kali bertemu.”


“Aku tidak menyukainya sedikitpun. Bukankah kau yang menyukai gadis itu? Aku melakukan ini demi dirimu.” Tutur Leon yang lekas meninggalkan ruang keamanan.


“Aku rasa kau sudah salah paham, Leon. Aku juga tidak menyukainya.” Kalimat itu membuat Leon langsung menghentikan langkahnya, dan segera berbalik agar dapat melihat temannya.


“Lalu, kenapa kau sangat baik padanya? Sikapmu kepadanya itu bisa membuat orang berpikiran bahwa kau menyukainya.”


“Kau ingin mengetahui alasannya? Itu karena aku merasa dia tidak memiliki siapapun di sekolah ini. Kau pasti tahu bukan bagaimana sikap yang lain kepadanya? Aku hanya tidak ingin dia merasa jika sekolah begitu buruk, dengan begitu ia akan berpikir bahwa tidak semua siswa disini memiliki sifat yang sama.”


Tanpa sengaja Liana mendengar semua pembicaraan mereka, dan hal itu benar-benar membuatnya merasa sangat terkejut. Ucapan Denis telah menyadarkan dirinya, dan membuatnya kembali membuka pikirannya. Apa yang dikatakan pria itu memanglah benar, dan tidak ada salahnya dengan sikap yang dilakukannya kepada Rachel, namun perasaan sukanya pada Denis telah membuat ia menutup mata.


Sedangkan Leon, setelah mendengar penjelasan temannya segera pergi meninggalkannya, dan kembali ke ruang kelas, lalu Denis hanya menghela napasnya melihat kelakuan teman dekatnya. Saat ingin pergi dari sana, Denis melihat Liana tengah berdiri dengan menundukkan pandangan, kemudian ia pun datang menghampirinya.


“Ada apa?” Ucap Denis, dan Liana menangis saat mendengar seseorang yang dikenalnya berdiri di hadapannya. “Hey, kenapa kau menangis? Apa kau sakit?” Ujarnya lagi seraya memegangi kedua bahu gadis itu.


“Aku rasa aku tahu apa alasan dia tidak masuk hari ini. Tetapi percayalah padaku bahwa aku melakukan itu bukanlah sengaja, aku hanya takut pada saat itu.” Isaknya


“Apa yang kau tahu? Cepat beritahu aku, Liana!”


“Kemarin saat pulang sekolah, aku melihat dia di kelilingi 3 orang asing di gang ketiga dari sekolah. Dia meminta pertolongan dariku, namun aku justru pergi meninggalkannya. Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi padanya.”


“Bodoh! Apa kau pantas di sebut seorang teman? Kenapa kau tidak menolongnya? Aku pikir kau teman baiknya, namun aku rasa kau sama saja dengan yang lainnya.” Tiba-tiba saja Leon menyambar, dan entah kenapa dia kembali lagi kesana.


“Bagaimana caraku menolongnya? Bukankah itu akan membuat mereka ikut mempermainkanku?” Tutur Liana membela diri.


“Apa kau tidak memiliki pikiran? Kau bisa mencari bantuan dari seseorang! Sekarang tunjukkan aku dimana kau melihatnya!” Leon yang geram pun segera menarik lengan Liana.


“Leon, tenangkan dirimu!” Denis menahannya, namun pria itu justru memberikan tatapan yang begitu tajam.


Bel pelajaran pertama telah berbunyi, tidak mempedulikan hal itu, Leon terus membawa Liana untuk keluar dari sekolah. Beberapa pembimbing bahkan menahannya, dan memintanya untuk masuk ke dalam kelas, tanpa menghiraukan mereka, ia tetap melanjutkan langkahnya.


Sikapmu ini sangatlah jelas, Leon. Kau menyukai gadis itu.


Tanpa mempedulikan keadaan di sekelilingnya, dan tanpa mempedulikan ringisan gadis yang berada dalam genggamannya, ia masih berjalan menuju tempat kejadian. Ketika berada di gang tersebut, Leon langsung menghempaskan tangan Liana, dan berjalan masuk ke dalam gang.


“Lupakan untuk mencari rekaman itu. Aku ingin kalian mencari keberadaan dari ketiga pria yang berada dalam video. Aku akan kirimkan video itu setelah ini!” Sahut Leon, saat panggilan berakhir, ia langsung mengirimkan rekamannya.


Di tempat yang berbeda, Rachel berada di salah satu cafe untuk bekerja paruh waktu. Ia benar-benar harus cepat mengumpulkan uang itu demi mendapatkan sebuah seragam. Sehingga salah seorang di cafe yang melihat kondisi Rachel itupun langsung berjalan menghampirinya.


“Kau bahkan terluka, kenapa memaksakan diri untuk bekerja?” Seorang manager menariknya.


“Maafkan aku, tetapi aku benar-benar sangat membutuhkan uang.”


“Sekarang pergi obati lukamu dulu! Aku akan membayar upahmu hari ini.”


“Tidak perlu, manager. Aku...”


“... jangan membantahku, Rachel! Sekarang pergi obati lukamu, dan besok kau bisa kembali.” Manager itu tersenyum padanya, dan Rachel mengikuti ucapannya. Bagaimanapun ia sangat berterima kasih pada managernya, dia sungguh orang yang baik, begitulah pikirnya saat ini.


Petang menjelang. Meski Rachel tidak bisa melanjutkan pekerjaan di cafe, ia tetap melanjutkan pekerjaannya di restaurant keluarga. Pegawai disana benar-benar mengkhawatirkan kondisinya saat ini, namun gadis itu meyakinkan mereka bahwa dirinya baik-baik saja.


Hingga kemudian, seseorang datang, dan meminta izin pada manager restaurant untuk menemui salah satu pegawainya. Setelah mendapat izin, orang itu segera menghampiri Rachel, dan melihat kehadirannya membuatnya tersenyum, lalu ia pun mengikuti langkahnya untuk keluar dari sana.


“Apa yang terjadi dengan wajahmu?” Orang itu tampak khawatir, namun Rachel tetap membagikan senyuman miliknya kepada orang di hadapannya. “Jangan tersenyum padaku! Seolah tidak terjadi apapun. Katakan padaku apa yang terjadi, dan kenapa kau tidak masuk sekolah hari ini?” Cecarnya.


“Kak Evan datang pasti untuk memberikan rekamannya padaku bukan? Bisa aku menerimanya?” Pungkasnya yang kembali tersenyum.


“Aku akan memberikannya setelah kau mengatakan apa yang terjadi.”


“Aku sedang bekerja kak. Aku mohon cepat berikan padaku!” Rachel menengadahkan kedua tangannya di hadapan Evan, berharap pria itu segera memberikannya. Setelah menghela napasnya, Evan lekas memberikannya. “Tunggu disini sebentar, aku akan memberikan sesuatu padamu.”


Apa dia sudah tidak memercayaiku lagi?


Rachel segera berlari ke dalam, dan menemui manager restaurant tersebut. Ia meminta seporsi gulaschsuppe, dan mereka bisa memotongnya dengan upah miliknya. Melihat kepolosan gadis itu membuat manager tersebut tersenyum, ia justru mengizinkannya tanpa harus memotong upahnya, hingga hal tersebut membuatnya sangat senang.


18 menit kemudian Rachel kembali, dan siapa sangka jika Evan tengah bicara dengan seseorang. Tidak tahu siapa orang itu, namun gadis itu tetap berjalan keluar untuk memberikan makanan favorit pria tersebut, anggaplah itu sebagai rasa terima kasih untuknya.


“Kenapa kau masih menemuinya? Bukankah kau seharusnya senang karena sudah tidak ada lagi yang harus kau lindungi? Aku tahu semuanya, Evan. Aku sudah menelusuri hubungan kalian.”


“Apa maksud ucapanmu, Elena?” Evan tampak kesal.


Bersambung ...