
- Kenapa harus mengucapkan selamat tinggal jika kelak kita akan bertemu kembali? –
•••••••••••
Pandangan Evan tertunduk. Yah, dia harus mengatakan semuanya sekarang, dan dia harus menanggung resikonya. Dari pada dia diam, itu pasti akan semakin membuatnya semakin terluka, justru dia akan berpikir yang tidak-tidak nantinya.
“Besok lusa, aku akan berangkat ke Berlin.” Sahut Evan, dan mendengar itu membuat Rachel membelalakkan kedua matanya. “Aku akan pindah kesana, dan ayah ingin aku bersekolah di sekolah elit yang ada di sana. Sapphire Ocean High School, ayah ingin aku bersekolah disana.” Sambungnya lagi.
“Ayahku juga ingin aku masuk kesana setelah lulus. Karena itulah aku mengincar beasiswa yang di sediakan disana.” Kini, Rachel tak berani menatap wajahnya, dia menundukkan wajahnya, dan Evan langsung pindah dari posisinya. Saat ini, Evan duduk tepat di bangku kosong yang berada tepat di sisi gadis itu.
“Rachel, aku harap kau tidak berpikir yang tidak-tidak. Percayalah! Ketika aku lulus nanti, aku akan kembali kesini, menemuimu, dan...”
“... a-aah aku rasa aku sudah terlambat untuk bekerja, dan juga aku tidak berpikir apapun. Bukankah pendapatku pun tidak akan di dengar? Aku hanya berpesan padamu, belajar lah dengan giat! Aku pergi sekarang.”
Setelah mengatakan itu, gadis itu bangun dari duduknya, dan pergi meninggalkan tempat tersebut. Tentu saja, Evan segera mengejarnya keluar, ia menariknya, dan membawanya ke dalam pelukannya. Tangisan Rachel pecah disana, dan Evan sungguh menyesal karena tak mampu berbuat banyak untuk gadis yang berada dalam dekapannya.
“Kau tenang saja, Rachel! Aku akan datang di hari kelulusanmu nanti, dan ingatlah satu hal! Meski aku tidak berada di sisimu, aku akan selalu menjagamu, akulah yang akan melindungimu dari jarak yang tak terhingga. Tunggu aku hingga aku lulus, setelah itu aku akan membawamu pergi! Selama aku tidak ada, aku mohon untuk tidak bekerja terlalu keras, kau masih sangat muda, dan aku tidak bisa merangkulmu jika terjadi sesuatu padamu.”
“Kau tidak perlu khawatir, kak! Aku akan baik-baik saja, dan aku akan menyusulmu kesana setelah aku lulus dari sini.” Jawabnya dengan tegas, dan Evan segera mengusap sisa air mata tersebut.
•••
Hari kembali berlalu, dan hari itulah Evan harus berangkat menuju Berlin. Ayah, dan ibunya telah melakukan check-in, namun tidak dengan Evan. Dia sudah memberitahu jadwal keberangkatannya kepada gadis itu, dengan harapan jika ia bisa datang menemuinya untuk kali terakhirnya.
Tidak ada tanda-tanda akan kehadirannya saat itu. Hingga akhirnya membuat Evan menyerah, ia membalikkan tubuhnya, dan hendak berjalan masuk. Namun, seseorang meneriaki namanya, tentu saja hal itu membuat Evan tersenyum simpul, dan segera membalikkan tubuhnya.
“Hampir saja aku terlambat!” Rachel tampak tersengal mengatakan semuanya, ia juga membenarkan letak ransel yang berada di punggungnya. “Kak, kau harus sering-sering mengirimiku pesan, dengan begitu aku tidak akan merasa sendiri.” Timpalnya lagi dengan senyuman hangatnya.
Melihat senyuman itu, justru membuat hati Evan merasa tertekan. Senyuman itu menyembunyikan segalanya, di balik senyuman itu tersimpan duka yang begitu mendalam, di balik senyuman itu tersimpan kepiluan yang tengah di rasakannya, dan di balik senyuman itu tersimpan kesedihan yang teramat sangat.
“Cepatlah masuk! Jika tidak, kau akan tertinggal!” Lagi-lagi Rachel menampilkan senyuman terbaiknya, dan Evan merogoh saku celananya.
“Simpan ini dengan baik! Simpan saat kita bertemu kembali!” Evan memasangkan sebuah kalung di leher gadis itu. Kemudian, ia mengusap puncak kepala Rachel dengan memberinya senyuman terbaik yang ia miliki. “Aku akan berangkat sekarang, selamat tinggal gadis kecilku!”
Rachel terlihat melambaikan tangannya dengan senyum sumringahnya sampai pria itu benar-benar menghilang dari jarak pandangnya. Karena hari sudah siang, ia memutuskan untuk pergi meninggalkan bandara, dan bergegas untuk bekerja paruh waktu
-1 Tahun Kemudian-
Di sebuah aula sekolah, tempat yang saat ini di penuhi dengan seluruh siswa angkatan akhir beserta dengan beberapa wali murid yang duduk di bangku belakang. Benar, hari itu merupakan hari kelulusan, dan juga merupakan hari yang penting untuk seluruh siswa kelas 3.
Bagi mereka disana, hari tersebut adalah hari yang sangat sempurna, karena kelulusan mereka dapat di hadiri oleh orang tuanya masing-masing. Namun berbeda dengan Rachel, ketika yang lainnya berbincang-bincang ria dengan teman kanan-kirinya, justru yang ia lakukan adalah mendengarkan kata demi kata yang tengah di ucapkan oleh sang guru yang berada di depan seraya menautkan kedua tangannya.
Kedua matanya terpejam, hatinya bergumam penuh harap. Harapannya kali ini hanyalah satu, yaitu beasiswa. Menurutnya, hanya beasiswa lah satu-satunya harapan dia untuk bisa melanjutkan sekolahnya, bukan hanya itu, jika dia mampu mendapatkan beasiswa yang satu ini, setidaknya ia bisa mewujudkan mimpi ayahnya.
“... selain itu, sekolah ini sangatlah beruntung karena memiliki seorang pelajar yang begitu cerdas, dan melahirkan seorang siswa/i seperti itu merupakan kebanggaan serta keberhasilan tersendiri untuk sekolah ini. Tahun ini, kami memiliki siswa yang bisa melanjutkan sekolahnya di Sapphire Ocean High School dengan sebuah beasiswa yang sudah mereka ikuti sebelumnya.”
“Tidak perlu berbasa-basi lagi. Kita akan meminta murid tersebut untuk maju ke depan, agar bisa mendapatkan ijazahnya lebih dulu. Siswi pertama adalah Liana Aloysia, Liana di persilahkan untuk maju ke depan!” Sahut wakil kepala sekolah.
Gadis itu tampak senang saat mendengar namanya di sebut. Ia merasa bangga karena perjuangannya tidak sia-sia. Sebenarnya, tanpa beasiswa pun Liana masih tetap bisa masuk ke sana jika dia memang menginginkannya. Namun, dia bukanlah anak manja yang memanfaatkan harta orang tuanya.
Setelah mendengar nama orang lain di sebutkan, Rachel terlonjak kaget. Dia tidak lolos seleksi, sungguhkah dia tidak mendapatkan beasiswa tersebut? Dirinya bahkan kehilangan untuk melanjutkan sekolahnya serta gagal mewujudkan mimpi ayahnya.
Air matanya menetes dari kedua mata, dan ia hendak bangun dari tempatnya. Langkah kakinya membawanya keluar untuk menuju aula. Dia bukannya tidak ingin mengikuti acara tersebut, ia hanya merasa kecewa pada dirinya sendiri.
Bersambung ...