Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 01



- Meski sosoknya telah pergi, tapi kenangannya akan selalu tetap tinggal –


•••••••••••••


Hujan deras yang menghujani kota Hamburg dengan begitu deras. Air hujan memang selalu mampu untuk menutupi setiap air mata yang menetes dari kedua mata seseorang. Cairan bening dari matanya yang tercampur dengan derasnya air hujan itu membasahi kedua pipi seorang gadis yang tengah berdiri di hadapan makam orang tuanya.


Orang tuanya harus meninggal di hari yang sama, itu sungguh berat untuknya. Kecelakaan kerja memang selalu terjadi jika kalian ceroboh, namun kecelakan yang di alami oleh kedua orang tua gadis tersebut bukanlah hasil kecerobohan keduanya, melainkan orang lain.


Meski pihak perusahaan memberikan asuransi, tetap saja itu tidaklah menguntungkan untuknya. Baginya, asuransi itu tidak akan mampu membangunkan kedua orang tuanya yang telah meninggalkannya, dan karena kelalaian orang itu, ia harus hidup sebatang kara.


Semua orang sudah meninggalkan pemakaman sejak lama, hanya ada gadis itu disana, tanpa menggunakan payung atau semacamnya. Isakkannya mulai terdengar, hingga ia pun tersadar saat ada seseorang yang datang untuk memayunginya.


“Rachel, mari ku antar kau pulang!” Sang punya nama membalikkan tubuhnya, dan orang yang memayunginya pun mendekatkan langkahnya. Ia memeluk tubuh gadis tersebut, tak peduli jika bajunya akan ikut basah karena memeluknya.


“Bagaimana aku menjalani hidupku tanpa mereka, kak Evan?” Tangisannya semakin pecah saat mengatakan semua itu, dan seketika wajah pria itu berubah.


“Bagaimana aku harus mengatakannya? Jika aku bilang sekarang padanya, hatinya pasti akan semakin terluka.” Evan terus menggumam dalam hatinya. “Kau tidak perlu khawatir, bukankah ada aku? Aku akan selalu melindungimu, dan selama ada aku, aku pastikan jika kau aman.” Pria itu melepaskan pelukannya seraya menyunggingkan senyum terbaiknya.


Melihat senyuman dari pria di hadapannya, membuat perasaan Rachel sedikit membaik. Kemudian, mereka pun pergi dari sana, sesuai yang dikatakan oleh Evan, ia mengantarnya pulang agar gadis itu bisa beristirahat.


Dalam perjalanan, pikiran Evan terasa begitu kacau. Ada sesuatu yang harus ia beritahu pada Rachel. Tapi, kenapa waktu tidak mengizinkannya untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan? Dia hanya mendesah kesal , dan mengetahui hal tersebut membuat Rachel menoleh.


“Ada apa kak? Jika ingin mengatakan sesuatu, maka katakanlah!”


“Tidak, tidak ada yang ingin aku katakan.” Evan tertawa kecil saat mendengar penuturan dari gadis yang berada di sisinya.


“Kak, aku sangat mengenalmu. Katakan saja!”


“Aku akan mengatakannya besok sepulang kau sekolah.”


“Sepulang sekolah, aku akan pergi bekerja paruh waktu. Aku rasa tidak akan punya banyak waktu.”


Mendengar kata ‘paruh waktu’ yang keluar dari bibir gadis itu membuat hati Evan terenyuh. Bagaimana tidak? Saat ini gadis di sisinya masih berumur 14 tahun, dan dia harus bekerja keras untuk menghidupi dirinya sendiri. Sepeninggal orang tuanya kali ini, Rachel akan semakin kesepian. Akankah dia mampu untuk melalui hari-harinya seorang diri? Semua pikiran itu berkecamuk menjadi satu.


Evan Valter. Ia merupakan laki-laki yang umurnya dua tahun lebih tua dari Rachel. Dia merupakan anak dari seorang pengusaha sukses, dan menginginkan putranya menikah dengan seseorang yang memiliki derajat sama dengan keluarganya.


•••


Hari telah berlalu, dan Rachel sedang berada di dalam kelasnya meski jam istirahat tengah berlangsung. Kemudian, seorang temannya menghampiri dia seraya menyodorkan sepotong roti serta satu kotak susu. Melihat itu membuat Rachel menatapnya kebingungan.


“Aku tahu kau seperti ini untuk mendapatkan beasiswa itu. Tapi, setidaknya jangan menyiksa dirimu sendiri, Rachel! Jika ayahmu tahu, dia juga pasti akan melakukan hal yang sama.” Dia tersenyum ke arah Rachel, bukan hanya itu, ia mengupaskan bungkus roti itu, dan hendak menyuapinya.


“Terima kasih, Liana.” Tanpa di sangka air mata Rachel menetes. Kemudian, Liana memeluknya, ia mengerti jika teman di hadapannya kali ini masih belum menerima kepergian orang tuanya. Bagaimana pun, itu terjadi begitu cepat, dan di usia semuda itu, Rachel harus hidup sebatang kara.


Ketika jam masuk telah berbunyi, kelas kembali penuh, dan pelajaran baru mulai di lakukan. Rachel tampak serius mengerjakan setiap soal yang di berikan oleh gurunya, meski beberapa teman di sekitarnya membuat keributan, ia tidak mempedulikan hal tersebut.


Bukan Rachel namanya jika dia tidak mendapat nilai tertinggi di kelasnya. Bukan hanya di kelasnya, Rachel mendapati juara umum selama bersekolah di tempat itu, dan tahun depan adalah tahun terakhirnya untuk belajar di tempat tersebut. Juga, tahun penentuan apakah ia mampu mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolahnya di tempat yang sangat di impikan oleh ayahnya.


Saat jam pulang tiba, terdengar kericuhan dari suara gadis-gadis di sana. Rachel mendelik ke arah jendela yang ada dalam ruang kelasnya, dan ia hanya menghela napasnya melihat apa yang terjadi di gerbang sekolahnya.


Semua yang terjadi hari ini bukanlah hal baru untuknya. Kedatangan Evan ke sekolahnya selalu membuat gadis-gadis di sana mengerumuninya. Setelah selesai mengemas buku-bukunya ke dalam tas, Rachel segera meninggalkan kelasnya.


Evan masih tampak di kelilingi oleh gadis-gadis di sana, dan melihat Rachel yang sudah berada di sana pun membuat Evan berpikir, dengan cara apa ia bisa lolos dari gadis-gadis itu tanpa melukai mereka.


“Ah kepala sekolah? Kau hendak pulang?” Seru Evan, dan hal tersebut berhasil mengecoh perhatian mereka. Kemudian, Evan segera menarik pergelangan tangan Rachel untuk masuk ke dalam mobilnya.


“Kak Evan, kau membohongi kami!” Mereka memprotes, namun sayangnya jika Evan sudah tak berada di sana.


Di dalam mobilnya, Evan mengatur napasnya yang tampak tersengal. Sedangkan Rachel, ia tertawa kecil melihat kejadian tadi. Bagaimana pun, Evan adalah orang satu-satunya yang di kenalnya setelah orang tuanya tiada.


Evan mengajaknya menuju sebuah cafe, dia melakukan itu karena ia sangat tahu jika gadis kecil di sisinya pasti belum memakan apapun sejak pagi. Selagi menunggu, Evan menatap lekat wajah gadis di hadapannya. Lagi-lagi, ia memergokinya tengah melamun, entah apa yang tengah di lamunkannya saat ini.


“Rachel, aku rasa, aku harus menyampaikannya sekarang!” Mendengar ucapan Evan, membuat Rachel mengangkat kepalanya agar dapat menatapnya.


“Katakan saja, kak! Aku akan mendengarkannya.” Rachel menyunggingkan senyumannya. Justru, senyuman itu semakin membuat Evan berat untuk mengatakannya.


Bersambung ...