
- Tidak semua yang di ucapkan mampu untuk di lakukan, dan tidak semua janji bisa di buktikan dengan mudahnya –
_____________________
Pagi itu, kepala sekolah meminta salah seorang guru pembimbing untuk memanggil Eria serta Elen. Kepala sekolah menginginkan mereka untuk menghadap ke ruangannya saat itu juga. Mendengar perintah tersebut, salah seorang guru pembimbing lekas menghubungi Eria, dan mengatakan sesuai intruksi kepala sekolah tersebut.
Ketika berjalan menuju ruang kepala sekolah, Eria tampak percaya diri, ia merasa jika dirinya akan mendapatkan sebuah promosi, karena dia merasa bahwa dirinya sudah melakukan hal yang benar selama kepala sekolah tengah melakukan dinas, namun dia juga bertanya-tanya, untuk apa adiknya di panggil?
“Kepala sekolah, anda memanggil kami?” Eria menyahut dengan senyuman yang terukir di bibirnya.
“Kenapa kepala sekolah memanggilku?” Elena juga bertanya-tanya.
“Aku akan langsung pada intinya. Elena Aleit, kau di skors selama 7 hari karena sudah mengganggu kenyamanan salah satu siswa di sekolah ini, dan kau Eria Aleit, kau akan turun jabatan menjadi bendahara sekolah, karena kau sudah menyalahgunakan posisimu untuk menyelamatkan adikmu, dan itu tidak di benarkan di sekolah ini.” Balas Steve selaku kepala sekolah.
“Tapi, gadis miskin itu melakukan kekerasan di sekolah. Bukankah kekerasan juga tidak di izinkan di sekolah ini?” Ucap Eria membela dirinya.
“Nona Eria, apa kau mencari tahunya lebih dulu penyebab gadis itu melakukan hal demikian? Sekolah ini tidak membedakan setiap siswa yang masuk, dan semua akan di berlakukan sama sesuai peraturan yang ada.”
“Kepala sekolah, aku mohon untuk tidak memberikan skors untukku, aku berjanji akan...”
“Keputusanku sudah mutlak, Elena. Kalian bisa keluar dari ruanganku sekarang!”
Melihat pertandingan di lapangan basket membuat para siswa/i berkumpul di kursi penonton. Mereka terdengar begitu riuh saat menyadari siapa yang tengah bermain, seketika sekelompok menyeka permainan tersebut, dan membuat Leon serta Denis berhenti dalam permainannya.
Denis memegang kendali bolanya, dan menunggu mereka mengutarakan keinginan serta alasan mereka menghentikan permainan yang tengah dilakukan bersama temannya itu. Kemudian, salah satu dari mereka merebut bola yang berada di tangan Denis, dan mengambil alihnya.
“Bagaimana jika kita tanding?” Orang itu menyahut, dan mengambil bola yang berada dalam genggaman temannya.
“Kelas 1 melawan kelas 3, aku rasa akan menjadi pertandingan yang seru. Aku terima tantanganmu itu, ketua osis!” Sahut Leon yang kemudian mengumpulkan teman sekelasnya untuk bertanding.
Kedua tim itu kembali membuat pertandingan semakin memanas, dan membuat penonton semakin ricuh melihat keduanya. Bagaimana tidak, Leon, Denis serta Evan merupakan pria yang populer di sekolah tersebut, dan terbilang cukup di sukai oleh gadis di sana.
Sebelum permainan di mulai, wasit mengundi siapa yang akan memegang kendali bola tersebut di babak awal. Teman dari kelas Leon mengambil sebuah koin, dan meminta mereka untuk memilih salah satu dari sisi koin tersebut.
“Aku pilih gambar.” Leon menyambar.
“Baiklah. Jika begitu angka untuk team kelas 3.”
Kemudian, koin pun di lemparkan, dan keberuntungan berpihak pada Leon beserta teamnya. Dengan cepat, Evan melemparkan bola tersebut pada Leon yang tengah menyeringai dengan senyuman yang mengejek.
Ketika permainan di mulai, Rachel yang sudah berada di lapangan itu pun memfokuskan pandangannya ke arah Evan. Dia selalu senang ketika melihat pria itu bermain basket, karena basket juga merupakan salah satu hobi Evan.
“Leon, kami cinta padamu.” Teriakkan demi teriakkan terdengar begitu riuh. Terlebih lagi, ketika pria itu mengibaskan rambutnya yang sudah terlihat basah, dan hal itu semakin membuat mereka tak bisa menahan suaranya.
“Permainan belum berakhir tuan muda. Aku peringatkan agar kau tidak lengah!” Evan menyeru seraya merebut bola dari tangan Leon, dan dengan cepat Denis menggunakan taktiknya agar mampu menguasai bola tersebut.
Bahkan pembimbing olahraga yang baru saja tiba pun tidak mampu menghentikkan permainan tersebut. Ia justru memperhatikan jalannya pertandingan, dan mengganti posisi salah satu siswanya yang tengah menjadi wasit. Kini, pembimbing itulah yang mengambil alih jalannya pertandingan.
Ketika salah seorang pemain jatuh, tak di sangka jika pemain itu mengalami lebam, dan kesulitan untuk bangun. Akhirnya pemain tersebut terpaksa harus di bawa keluar lapangan, dan pembimbing disana meminta salah satu siswi membawanya ke ruang kesehatan.
“Apa disini ada yang bisa membantu untuk mengobati lukanya?” Seru Carl selaku pembimbing olahraga, dan seketika permainan kembali di lanjutkan.
“Aku bisa membantunya herr.” Rachel menghampirinya, dan Leon menatapnya ketika gadis itu turun ke lapangan, lagi-lagi bola dalam genggamannya pun harus di ambil alih oleh Evan.
“Sudah ku bilang untuk jangan lengah!” Bisik Evan yang menggiring bola menuju ring lawan, dan bola tersebut masuk, dan score mereka pun imbang.
Pikiran Leon kacau begitu saja, dia juga ingin membalas nilai yang sudah terbobol oleh lawannya, hingga ia mengerahkan rencana dengan Denis beserta teamnya. Ia membentuk rencana untuk memenangkan pertandingan tersebut, bagaimana pun Leon tidak akan membiarkan kelas 3 memenangkan pertandingan itu, dan membuat nama kelasnya tercoreng.
Permainan kembali di mulai dengan Denis mendrible bolanya, dan team Evan pun menghampirinya. Hampir dekat, Denis langsung memberikannya pada teman di sisi kanannya. Mereka terus mengecoh, dan membuat tak-tik yang sangat cerdas untuk sebuah bentuk pertahanan.
Evan sendiri pun hampir kewalahan untuk menembus pertahanan yang dibuat oleh team lawan. Hingga ketika Leon hampir lompat untuk melempar bola ke arah ring, Evan membenturkan bahunya pada bahu Leon, dan Leon pun terjatuh akibat benturan tersebut.
Tanpa sengaja, Evan yang merasa kagok pun menginjak kaki Leon, dan hal tersebut membuatnya berteriak merintih. Permainan di hentikan sejenak, kemudian Leon di bawa menuju ruang kesehatan agar segera mendapat pertolongan pertama.
Rachel yang tengah membereskan kotak p3k pun terkejut ketika melihat seseorang yang membuka pintu ruangan tersebut. Denis, dan salah satu temannya memapah Leon yang terlihat merintih, lalu pria itu pun di tempatkan di salah satu ranjang yang ada di ruangan tersebut.
“Aku rasa kakinya memar, tolong beri krim lebam untuknya. Aku percayakan padamu.” Ucap Denis yang langsung meninggalkan ruang kesehatan.
Kini, hanya ada Rachel, dan Leon di ruangan tersebut. Tanpa pikir panjang lagi, Rachel berlutut di hadapan Leon yang tengah duduk di bed stretcher, ia membantu pria itu membuka sepatu hingga kaus kakinya.
Tulang keringnya memang terlihat begitu memar, dan Rachel mengompresnya sebelum mengoleskan sebuah krim. Namun, saat tidak sengaja ia menyentuh pergelangan kakinya, Leon tampak terkejut, dan Rachel kembali menoleh.
“Apa ini juga terasa sakit?” Sahut Rachel yang memainkan pergelangan kaki pria itu. Rintihan Leon menjawab pertanyaannya. “Kakimu terkilir. Tahan sebentar, ini akan sedikit terasa sakit.” Lanjutnya yang mencoba meringankan rasa sakit itu.
“Aarrgggh, apa kau gila? Itu sangat sakit!” Teriaknya yang secara spontan mendorong tubuh gadis itu, hingga ia pun tersungkur ke belakang, dan kepala bagian belakangnya membentur kaki bed stretcher.
”Apa yang terjadi?” Sahut seseorang yang baru saja memasuki ruangan tersebut.
Bersambung ...