Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 27



- Jika dengan nyawaku bisa mengembalikan kepercayaanmu padaku, maka aku tidak akan ragu untuk memberikannya. –


___________________________________


Mengetahui siapa nama di balik semua kejadian yang telah di alami oleh Rachel membuat Leon mengepalkan tangannya. Ketika panggilan berakhir, ia langsung masuk ke dalam taksi untuk menuju salah satu tempat yang di kenal olehnya, meski dia hanya sekali mengunjunginya.


Setibanya disana, rumah itu tampak sepi, dan itu sudah pasti. Pemilik rumah pasti sedang bekerja keras demi menghidupi dirinya sendiri, dan juga untuk mendapatkan apa yang di inginkan olehnya. Kemudian, Leon memutuskan untuk menyimpan sebuah paper bag pada knop pintu tersebut.


Setelah menyimpannya, dia segera meninggalkan tempat itu, berharap bisa melihatnya keesokan harinya. Tidak kembali ke sekolah, Leon justru pergi ke tempat lain agar dapat menemui orang itu meski sebentar, setidaknya biarkan dia melihatnya walau hanya dari jauh.


Yah, Leon mencari Rachel. Entah apa yang sedang di lakukan, dan tidak tahu sejak kapan dia menaruh perhatian lebih padanya, seakan dia ingin selalu melindunginya. Kemudian, ucapan Denis padanya pun terngiang di benaknya, dan itu hampir membuatnya gila.


“Apa kau menyukai gadis itu, Leon?”


“Karena kau begitu mencemaskannya, sedangkan kau tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Kau bahkan sering bertengkar setiap kali bertemu.”


Ucapan-ucapan itu berulang kali berputar di otaknya. Semakin ingin menepisnya, semakin ingin mengabaikannya, justru semua itu semakin mencecarnya, seolah hati, dan pikirannya harus memberikan jawaban yang memuaskan. Namun untuk apa dia menjawab semua itu hanya untuk di dengar oleh dirinya sendiri?


Jika aku memang menyukainya. Jika saja itu memang terjadi, apa aku tidak berhak memiliki perasaan seperti itu?


Leon bergumul dalam batinnya seraya menatapi gadis yang tengah melayani pelanggan di balik meja kasir pada salah satu minimarket. Tanpa di sadari, bibirnya menyimpulkan sebuah senyuman, lalu ia mengambil topinya, dan langsung mengenakannya dengan rapi.


Tunggulah sebentar lagi, Rachel. Aku akan membereskan setiap orang yang sudah berani melukaimu, dan aku berjanji padamu bahwa kejadian di gang merupakan kali terakhirnya kau terluka. Setelah itu, tidak akan ku izinkan siapapun berani menyentuhmu!


Kemudian, Leon bergegas pergi dari sana, dan pergi menuju tempat dimana ketiga orang yang telah melukai Rachel berada. Sebelum menaiki mobil jemputannya, Leon mengenakan masker miliknya serta membenarkan letak jaketnya, dan menaikkan resletingnya.


25 menit kemudian, pria itu tiba di sebuah ruang bawah tanah miliknya. Ketiga pria di hadapannya mengernyitkan alisnya, mencoba mencari tahu siapa yang baru saja tiba disana. Sedangkan Leon hanya menyilangkan kedua tangannya, dan seseorang menyiapkan satu kursi untuknya. Lalu, dia pun segera duduk di sana tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.


“Beraninya kau menyekap kami. Jika kami bebas, kami akan menghabisimu!” Sahut salah seorang dari ketiga pria yang terikat.


“Jika itu yang akan kalian lakukan, tentu saja aku tidak akan membiarkan kalian bebas.” Leon membuka maskernya, dan bicara dengan nada yang begitu tenang, namun tetap terdengar menakutkan.


“T-tuan muda Leon?” Ketiga orang itu menyahut secara bersamaan saat melihat siapa yang berada di hadapannya kali ini.


“Yang di katakannya benar, tuan. Lagi pula, kami hanya orang suruhan saja!” Sambar satunya lagi.


“Itu benar. Bisakah tuan muda Leon berbaik hati, dan melepaskan kami? Kami berjanji tidak akan menyentuhnya lagi, dan juga melukainya. Tidak, kami bahkan tidak akan muncul lagi di hadapan gadis itu.” Sahut yang lainnya.


“Setelah apa yang sudah kau utarakan di awal tadi. Kenapa kalian begitu percaya diri bahwa aku akan percaya, dan membebaskan kalian? Bukankah aku sama saja dengan membunuh diriku sendiri jika harus membebaskan kalian?” Leon menatap mereka dengan tatapan yang begitu dingin, dan seketika membuat mereka terdiam.


Leon memang masih sangat muda, namun karena kekuasaan yang di miliki oleh orang tuanya, dia juga begitu terkenal di Berlin. 90% penduduk Berlin sangat mengetahui bagaimana kuasa yang di miliki oleh keluarganya Leon, mereka bahkan tidak berani untuk menyenggol salah satu keluarga tersebut sedikitpun.


Walau masih muda, Leon sangatlah cerdas, dan terkadang dia membantu mengerjakan pekerjaan pada salah satu perusahaan milik ayahnya. Karena bagaimanapun, pada akhirnya, perusahaan itupun akan jatuh di tangannya.


Setelah menimbang-nimbang sesuatu, Leon sedikit menyeringai ke arah mereka. Lalu, ia mengeluarkan ponselnya, dan memotret ketiga orang yang berada di hadapannya. Setelah itu, Leon mengirimkan foto tersebut pada seseorang.


“Nasib kalian bergantung pada orang yang telah menyuruh kalian. Jika orang itu meminta kebebasan kalian, maka aku akan memikirkannya, namun jika sebaliknya, kalian boleh menebak-nebak bagaimana nasib kalian selanjutnya.” Tutur Leon yang kembali mengenakan maskernya. “John, tetap pantau mereka!” Timpal Leon, dan ia segera pergi meninggalkan tempat tersebut.


•••


Malam telah tiba, Rachel telah selesai dengan pekerjaannya pun memutuskan untuk segera kembali ke rumahnya. Setelah meninggalkan minimarket, seseorang ternyata telah menunggunya tepat di depan pintu, namun dengan cepat Rachel meninggalkannya, dia benar-benar mengabaikan keberadaannya.


Tidak tinggal diam, orang itu mengikuti langkah kaki Rachel. Merasa risih telah di ikuti, Rachel menghentikan langkahnya, dan langsung berbalik. Dia menatap orang itu, lalu memintanya untuk berhenti mengikutinya, dia juga meminta orang itu untuk pergi, namun orang tersebut tampak mengabaikan ucapannya.


“Sebenarnya apa yang kau inginkan, kak?” Ucap Rachel yang mencoba tenang.


“Tidak bisakah kau mendengarkan penjelasan dariku? Tidak bisakah memberiku kesempatan walau hanya sekali?” Sahut pria itu dengan nada frustasinya.


“Ini sudah malam. Kau sudah berada di tingkat akhir, sebaiknya fokus saja dengan pelajaranmu agar kau bisa lulus dengan nilai yang terbaik. Aku juga harus kembali bekerja besok pagi, dan aku harus segera beristirahat. Sampai jumpa.” Kemudian, gadis itu kembali melangkahkan kakinya.


“Apakah perlu aku memberikan nyawaku agar bisa mendapatkan kepercayaan darimu lagi?” Evan menyeru dengan nada lantangnya, dan ucapannya itu membuat Rachel menghentikan langkahnya.


Bersambung ...