Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 58



- Kamu adalah kekuatanku, tetapi mencintaimu merupakan kelemahan terbesar bagiku. –


_____________________________


Di tempat lain, seseorang tampak tengah memperhatikan sebuah bingkai foto yang terdapat di mejanya, dia terlihat sangat merindukan orang yang berada di dalam foto, ingin rasanya ia menemuinya, namun dia tak bisa meninggalkan pekerjaannya untuk waktu dekat ini.


Sadar pintu ruangannya terbuka, dengan cepat dia kembali menyimpan bingkai tersebut ke tempatnya. Melihat mahasiswa kebanggaannya membuat dia tersenyum seraya membenarkan duduknya, dia juga meminta mahasiswa itu untuk duduk.


“Ada apa, Evan? Apa kau membutuhkan sesuatu?” Sahutnya.


“Aku ingin meminta pendapat soal laporan akhirku, apakah bisa?”


“Rileks saja, Evan. Jika hanya sedang kita berdua, kau bisa bicara santai denganku. Aku, dan ayahmu sudah berteman sejak lama, dia menyuruhmu untuk melanjutkan sekolah disini agar aku bisa menjagamu. Jadi, jangan pernah sungkan untuk bertanya padaku. Berikan laporanmu!”


“Terima kasih banyak atas perhatiannya. Ah ya paman Tom, apa anak kecil di foto itu adalah putra paman?” Evan menyeletuk seraya menyerahkan laporannya.


“Kau benar, dia adalah putra kesayanganku. Aku sangat berharap dia bisa kuliah disini, namun dia mengatakan padaku saat itu, bahwa dia tidak bisa meninggalkan seseorang yang ia cintai. Ah dia pasti sudah sangat dewasa sekarang.” Tom menyahut dengan kedua mata yang menatapi foto putranya.


“Kenapa paman tidak menemuinya saja jika memang merindukan dia? Aku dengar paman juga memiliki perusahaan di sana bukan? Siapa yang mengurusnya jika paman sibuk dengan universitas paman disini?”


“Aku mengandalkan seseorang, dan aku akan menyerahkan perusahaan itu pada putraku kelak.”


Tidak ingin mengganggunya lagi, Evan pun menutup mulutnya, dan membiarkan Tom memeriksa laporan miliknya. Tahun ini merupakan tahun kelulusannya, dan dia ingin cepat-cepat keluar dari universitas itu.


Tidak bisa menyelesaikannya pada hari itu juga di karenakan ada urusan mendesak, Tom meminta Evan untuk meninggalkan laporannya, serta menyuruhnya kembali lagi keesokan harinya. Mengerti dengan kesibukan orang di hadapannya, Evan lekas keluar.


Seseorang yang lain sudah menunggunya di luar ruangan, dan dia tampak penasaran dengan laporan milik Evan. Jika laporannya berhasil, maka dia ingin sekali meminta bantuan Evan agar bisa mengerjakannya, namun melihat raut wajah Evan, tampaknya itu tidaklah berjalan dengan mulus.


“Apa profesor Tom mengabaikan laporanmu?” Ucapnya khawatir dengan mengerjapkan kedua matanya berulang kali.


“Joy, bisakah kau berpikir positif untuk sedikit saja? Apa kau tahu bahwa ucapanmu itu sungguh membuatku gugup?” Evan tampak kesal mengucapkannya.


“Ha Ha Ha. Itu karena raut wajahmu seolah mengatakan hal yang seperti ku ucapkan. Jika aku salah, baiklah maafkan aku.”


“Profesor tidak bisa mengeceknya sekarang, dia memintaku untuk kembali besok.” Timpalnya yang berjalan meninggalkan ruangan itu, dan langkahnya pun di ikuti oleh Joy.


“Jika kau berhasil, berjanjilah kau akan membantuku.” Joy menyambar lengan pria di sisinya, dan Evan pun langsung menghentikan langkahnya seraya menatap Joy.


“Aku tidak mau.” Dengan menjulurkan lidahnya, Evan langsung berlari meninggalkannya. Kesal dengan sikapnya, Joy segera mengejarnya.


•••


Seharusnya, ketika dirinya tiba disana, itu waktu yang pas dengan jam pulang Leon. Banyak mahasiswa yang berlalu lalang keluar-masuk ke dalam, dan sebenarnya ada sedikit rasa iri bagi Rachel, dia juga ingin merasakan kesibukan seperti itu.


“Aku datang.” Tiba-tiba saja Leon muncul di hadapannya, dan Rachel tersenyum ketika melihal kedatangannya. “Hey dimana syalmu? Bukankah aku sudah memintamu untuk mengenakannya, huh?” Ucapnya lagi seraya meletakkan kedua tangannya pada bahu wanita di hadapannya.


“Aku melupakannya.” Rachel membalasnya dengan tawa kecil, dan sedikit menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Kenapa kau mengabaikannya? Kau bisa kedinginan, dan kau bisa sakit.” Leon yang tahu bahwa Rachel mudah sakit di musim dingin itu pun langsung melepaskan syal miliknya, dan memasangkannya pada wanita di hadapannya.


“Kau tidak perlu...”


“... diam, dan ikuti saja!” Dengan cepat Leon menyela ucapan Rachel.


Setelah itu, Rachel segera merangkul lengan Leon dengan manja. Bukan hanya itu, dia juga mengukir senyuman terbaiknya, hingga Leon pun mengacak-ngacak puncak kepala Rachel dengan gemas. Rachel mencoba untuk berjalan meninggalkan tempat itu, namun Leon menahan langkahnya.


Tidak mengatakan apapun, Leon mengajak Rachel untuk masuk kedalam, lebih tepatnya dia mengajaknya untuk menuju parkiran universitas. Banyak mata yang memandangi mereka, dan Rachel hanya bisa menundukkan pandangannya.


“Masuklah!” Sahut Leon ketika membukakan pintu mobil, melihat sikap Leon membuat Rachel meluaskan pandangannya, dan dia pun langsung menggeleng. “Kenapa?” Jawabnya lagi.


Tatapan-tatapan para mahasiswa disana terasa begitu menusuk bagi Rachel. Meski dia tidak ingin memedulikannya, dia sangat tahu siapa saja yang sudah memandanginya, sama seperti sewaktu di SMA, tatapan itu sangatlah mengerikan, tatapan yang menatapnya rendah.


“Cih, lihat wanita itu! Bisa-bisanya dia mendekati Leon. Apa dia tidak malu bersanding di sisinya?”


“Ha Ha Ha. Mungkin dia hanya ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang putri.”


Suara-suara itu, bisikan mereka terdengar jelas di telinga Rachel, dan dia hanya berharap bahwa Leon tidak mendengar ucapan mereka. Rachel menghela napasnya, dia juga melepaskan syal yang di berikan oleh Leon, lalu menyerahkannya.


“Aku pikir, aku lebih cocok menggunakan bus.” Rachel sedikit tertawa kecil. “Melihatmu hari ini sudah cukup membuatku senang, sebaiknya kau pulanglah. Sampai jumpa!” Tambahnya lagi, namun dengan cepat Leon menahan tangannya.


“Apa maksudmu? Untuk apa naik bus jika aku bisa mengantarmu pulang?” Leon menggenggamnya erat, dan memaksanya agar wanita itu bisa menghadap ke arahnya.


“Aku akan menghubungimu setelah tiba di rumah.” Dengan cepat Rachel mendorong tubuh Leon, dia pun segera meninggalkan universitas sekaligus meninggalkan Leon yang kebingungan.


“Dia pasti berharap di kejar oleh Leon.”


“Kau benar. Dia terlalu percaya diri, dia tak jauh berbeda dari seorang bebek buruk rupa yang berharap menjadi seekor angsa.”


“Apa yang kalian lihat, dan apa yang kalian bicarakan, hah?” Sahut Leon ketika mendengar sebuah bisikkan yang sangat mengganggu pendengarannya.


Bersambung ...