Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 35



- Ketika kau berusaha untuk jujur. Maka, aku akan mendengarkannya dengan baik. -


___________________________


Ketika jam telah berakhir, dan semua siswa pun telah menyelesaikan ujiannya. Liana segera menghampiri temannya saat kelas sudah mulai kosong. Melihat Liana yang mendekat secara tiba-tiba membuat Rachel sangat terkejut.


“Apa yang ku dengar itu benar?” Tutur Liana dengan suara yang pelan.


“Memang apa yang kau dengar?” Rachel menanggapinya dengan santai, dia juga masih merapikan barang-barangnya ke dalam tas.


“Benarkah Leon menyatakan perasaannya padamu? Benarkah Leon menyukaimu? Benarkah seperti itu?” Gumamnya lagi. Mendengar hal seperti itu sontak membuat Rachel menghentikan pergerakan tangannya, dia juga menatapi tubuh Leon dari belakang, dan ingin rasanya ia mendorong pria itu dari bangku yang tengah di dudukinya.


“Aku rasa kau sudah salah dengar. Mana mungkin pria dingin sepertinya bisa menyukai seseorang? Aku sangat yakin jika hatinya juga pasti sudah sangat membeku!” Kali ini Rachel benar-benar menekankan ucapannya, tak hanya itu, dia juga sedikit menghentak-hentakkan tasnya ke meja agar pria di hadapannya bisa mendengar ucapannya,


Mendengar penuturan dari Rachel sangat membuat Leon terkejut. Gadis itu benar-benar mencari perkara dengannya, jika saja tidak ada Liana, dan juga Denis, mungkin dia sudah memberinya pelajaran. Melihat raut wajah temannya yang kesal, Liana pun sedikit bingung.


“Apa kau tahu? Ucapan serta reaksimu itu justru memperlihatkan jika yang ku dengar itu memang benar.” Liana kembali berbisik pada telinganya.


“Argh! Aku tidak tahu. Jika penasaran, kau tanya saja sendiri pada orangnya. Aku ingin pulang, dan beristirahat di rumah!” Sudah merasa terpojok, Rachel bergegas untuk meninggalkan ruang kelasnya.


Melihat reaksinya itu membuat Denis menghampiri Liana, dia juga menepuk pelan punggungnya seraya tersenyum ke arahnya. Ketika hendak menyentuh Leon, pria itu berdiri dengan tiba-tiba, dan langsung berlari meninggalkan mereka.


“Mungkin yang kau dengar itu memang tidak salah.” Denis sedikit terkekeh melihat temannya yang melesat pergi dengan begitu cepatnya.


Leon yang sudah berada di luar itu pun segera mencari keberadaannya, dan yang benar saja jika gadis itu sudah tidak terlihat. Bahkan jarak waktu keluar mereka belum sampai 5 menit. Hingga jemputan Leon pun tiba, karena masih ingin menemuinya, Leon meminta Stine untuk kembali, dan dirinya akan pulang setelah urusannya selesai.


Sudah mencarinya di sekitar sekolah, dia masih belum menemukannya. Satu kesalahan yang di miliki olehnya adalah dia tidak memiliki kontaknya, dan sampai saat ini, dia benar-benar tidak mengetahui kontak telpon gadis itu, hingga hal tersebut membuatnya terus merutuki dirinya sendiri.


Berbeda dengan Leon yang masih sibuk mencari. Rachel tampak tengah bersama dengan Evan di salah satu cafe. Yah, pria itu menunggunya di gerbang secara sengaja, karena dia benar-benar ingin bicara sesuatu padanya, dan dia takut tidak memiliki waktu jika harus terus menundanya lebih lama lagi.


“Apa kau masih marah padaku, Rachel?” Evan menyeru seraya meletakkan latte dingin di hadapan gadis itu.


“Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan padaku, kak?”


“Bisakah untuk berhenti berbasa-basi? Ini merupakan hari libur kerjaku, dan aku ingin memanfaatkannya untuk beristirahat. Jadi, bisakah untuk langsung ke intinya saja?” Rachel menatap pria di hadapannya


Masih menunggu Evan berbicara, tidak sengaja Rachel melihat Leon melalui kaca cafe tersebut. Terlihat jelas jika pria itu tengah mencari-cari seseorang dengan wajah yang penuh kegelisahan, sedang meluaskan pandangannya, Leon juga melihat Rachel berada di dalam cafe.


Di saat bersamaan, Rachel lekas berdiri dari duduknya, dan hendak meninggalkan tempat itu. Melihat reaksi Rachel membuat Evan sangatlah terkejut, tatapan gadis itu terus menatap keluar, hingga Evan pun mencoba mencari tahu apa yang sedang di lihatnya.


Leon, dia sedang melihat Leon yang juga sedang melihatnya. Tanpa memedulikan keberadaan Evan yang bersamanya, Rachel beranjak dari sana, dan segera berjalan keluar. Tidak tinggal diam, Evan menahan kepergiannya, namun dengan cepat gadis itu melepaskan genggamannya.


“Aku akan ke luar negeri setelah lulus nanti, Rachel.” Sahutnya, dan itu berhasil membuat Rachel menghentikan langkahnya. “Yah, aku akan pergi, dan aku hanya memiliki sedikit waktu untuk berada di sini.” Timpalnya lagi.


Penuturannya itu membuat Rachel kembali membalikkan tubuhnya, Leon yang menyaksikan itu dari luar sedikit merasa kecewa saat gadis di dalam sana menghentikan langkahnya, dan kembali berbalik untuk menghampiri pria yang sedang bersamanya.


Tanpa sadar air mata Rachel menetes mendengar pernyataannya. Bagaimana pun, pria itu sudah sangat banyak membantunya, keduanya tumbuh besar bersama, dan pria itu selalu bersamanya saat dia sedang benar-benar membutuhkan seseorang. Walaupun semua itu sudah berlalu, tetap saja hal tersebut sangatlah membekas untuknya.


“Kenapa kau pergi? Apa karena untuk menjauh dariku?”


“Kenapa kau berpikiran seperti itu? Tentu saja bukan karena itu. Lagi pula, kau sudah memiliki banyak orang yang menjagamu, dan aku rasa, aku tidak perlu mengkhawatirkan hal itu lagi.” Evan tersenyum ke arahnya seraya menyeka air mata itu.


“Tetapi, kenapa harus pergi? Tidak bisakah untuk tetap disini? Bukankah disini juga banyak universitas yang bagus?”


“Memang benar. Meski begitu aku ingin memiliki suasana yang baru, dan maaf untuk segalanya. Maaf karena sempat membuatmu kecewa, namun percayalah, aku sama sekali...”


“... aku mempercayaimu, kak.” Gumam Rachel menundukkan pandangannya. “Maafkan keegoisanku.” Tambahnya lagi, dan Evan membawa gadis itu kedalam pelukannya.


Setelah selesai dengan pembicaraan mereka, Rachel segera keluar dari sana, dan Leon tampak masih berdiri di tempatnya. Namun, setelah melihat Rachel keluar, dia segera pergi dari sana, dan benar-benar mengabaikannya.


Sikapnya sangat mengejutkan. Dengan cepat, Rachel berusaha mengejarnya, sayangnya pria itu sudah menyebrangi jalan, dan melihat lampu yang hendak berganti, ia mempercepat larinya. Dengan sembarang dia menyebranginya, hingga terdengar suara klakson yang memekikkan telinga, dan itu berhasil membuat Leon menghentikan langkahnya.


Bersambung ...