Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 52



- Aku menyukai setiap waktu yang di lalui bersama denganmu, karena dengan begitu kita bisa melalui suka, dan duka secara bersamaan. -


______________________________


Ketika jam istirahat, Leon memutar bola matanya, dan mencari-cari keberadaan seseorang, namun dia tidak dapat menemukannya. Dengan cepat ia merogoh saku blazernya untuk mengambil ponselnya agar bisa menghubungi orang yang di carinya, sayangnya panggilan tersebut tidak di terima.


Dengan gusar dia duduk di tempatnya, dia juga tampak belum menyentuh makanannya, hingga dia melihat Liana duduk di sisi Denis, dia tersenyum, dan kembali meluaskan pandangannya, tetapi tetap tidak ada.


“Dimana Rachel? Aku pikir kau bersamanya.” Celetuk Leon dengan nada yang terkesan dingin, dan Liana benar-benar tidak menyukai sikapnya itu. Liana bahkan tak menanggapi pertanyaannya, hingga itu membuat Leon semakin merasa kesal. “Apa kau tuli? Aku bicara denganmu, Liana.” Imbuhnya lagi.


“Bisakah bicara dengan tenang?” Denis menyambar, namun dia masih terdengar sabar meyikapi sikap Leon yang berlebihan. “Liana, kenapa kau tidak bersama dengan Rachel?” Sambungnya seraya menatap Liana dengan tenang.


“Dia ada di perpustakaan. Aku sudah memintanya untuk kemari, namun dia bilang...” Belum menyelesaikan kalimatnya, Liana begitu kesal melihat Leon pergi begitu saja. “... kau lihat temanmu itu? Dia bertanya padaku, tetapi dia pergi begitu saja, aku bahkan belum selesai bicara. Jika dia pria biasa, aku sudah memukulnya.” Umpatnya kesal.


Melihat reaksi Liana membuat Denis tertawa kecil, melihat kekesalannya begitu menggemaskan untuknya. Dia tampak takut ketika berhadapan langsung dengan Leon, namun saat Leon pergi, dia akan memakinya.


“Sudah jangan di pedulikan, dia memang seperti itu, sekarang lebih baik kita makan saja.” Perlahan Denis menepuk punggung Liana yang sedang di penuhi dengan amarahnya.


“Tidak tahu apa yang membuat Rachel menyukainya.” Rutuk Liana yang langsung memakan makanannya dengan kasar, dan lagi-lagi Denis tertawa menanggapinya.


Seperti yang di katakan oleh Liana, kali ini Leon sudah berada di perpustakaan, dan dia langsung mencari keberadaannya. Melihatnya tengah duduk dengan beberapa buku di sisinya membuat Leon menghela napasnya dengan berat, kemudian dia pun menghampirinya dengan duduk di sisi gadis itu.


Kehadirannya tidak di sadari oleh Rachel, itu sungguh menyebalkan untuknya. Lalu, dia langsung memegang pergelangan tangan Rachel hingga gadis itu pun terlonjak saat menyadarinya. Pria itu menariknya secara tiba-tiba, dan tidak membiarkannya untuk bicara apapun.


“Kau mau bawa aku kemana, Leon?” Rachel meracau, namun Leon tetap mengabaikan ucapannya.


Sikap Leon pada Rachel membuat para siswa yang melihat itu kebingungan, beberapa siswa ada yang sedikit senang ketika melihat Leon menarik Rachel secara paksa, karena yang mereka lihat adalah kemarahan di wajah Leon, namun mereka tidak tahu apa arti dari ekspresinya sekarang.


Mereka yang penasaran pun mengikuti keduanya, dan mereka terkejut saat Leon membawanya ke kantin. Duduk di tempat yang sempat di tempati olehnya, Leon sedikit menggelengkan kepalanya ke arah kanan, seolah dia meminta Rachel untuk duduk disana.


“Leon, aku...”


“... duduk!” Dengan cepat Leon menyelanya, dan Liana hampir tersedak melihat aura dingin yang terpancar dari arah Leon. Tidak ingin berdebat, Rachel hanya bisa menghela napasnya, dan duduk mengikuti arah pria di sisinya. “Sekarang makanlah!” Titahnya lagi.


“Tetapi ini milikmu, biarkan aku mengantri untuk mengambil milikku.” Rachel mencoba keluar dari kursinya, namun tangan Leon lebih cepat dari gerakannya.


“Bukan pertunjukkan yang bagus, aku pikir tuan muda Leon akan memarahinya atau semacamnya. Padahal aku berharap hubungan mereka berakhir.”


“Senior Leon ternyata sangat mencintai gadis itu, ya? Aku dengar dari senior-senior yang lainnya, gadis itu hanya bermodalkan beasiswa untuk masuk ke sekolah ini.”


“Benarkah begitu?”


Mereka terus berbisik tanpa menyadari bahwa Leon telah berada di dekatnya. Mendengar ucapan-ucapan yang keluar dari bibir mereka, bukannya mengambil makanan, Leon justru merubah haluannya, dan berdiri di hadapan mereka.


“Sepertinya tadi aku mendengar seseorang membicarakan soal Rachel, di antara kalian siapa yang berani membicarakan orangku?” Dengan tatapan tajamnya Leon menatapi mereka seraya menyilangkan kedua tangannya.


Melihat Leon yang tiba-tiba datang di hadapan mereka tentu saja membuat mereka bungkam dalam sekejap, namun Leon masih tetap mencecarnya, dan meminta mereka untuk menjawab pertanyaannya.


Menyadari keributan itu, Liana meminta Denis untuk menghampiri temannya yang tengah di landa amarah, dan Denis kembali menghela napasnya melihat kelakukan temannya yang sudah benar-benar di luar kendali.


Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Semenjak bertemu dengan Rachel, sikapnya sungguh mengejutkanku, dia seperti bukan Leon yang ku kenal.


Denis terus mendengus kesal, dan berdiri dari tempatnya untuk menghampiri temannya, namun dengan cepat Rachel menahan langkahnya. Rachel menggelengkan kepalanya, dia juga meminta Denis untuk kembali duduk di tempatnya, dan dia segera berjalan menghampiri Leon.


“Kenapa kalian diam saja? Apa kalian...”


“... Leon, hentikan!” Rachel menyela ucapannya, Leon menoleh, dan di balas dengan sebuah gelengan. “Sekarang ikut aku!” Timpalnya lagi seraya menarik tangan pria itu.


Gadis itu mengajaknya menuju halaman belakang sekolah, keduanya duduk disana, dan Rachel masih menggenggam erat tangan Leon. Tidak ada yang mereka ucapkan sama sekali, dan Rachel juga tampak tidak berniat untuk membuka suaranya, namun pikiran Leon di penuhi dengan kebingungan.


“Maafkan aku, aku seperti itu karena mereka membicarakanmu.” Sesalnya. Rachel menoleh ketika mendengar Leon sudah terlihat tenang, lalu gadis itu pun tersenyum seraya menggelengkan kepala.


“Kau tidak perlu meminta maaf padaku, Leon. Jika aku yang berada di posisimu, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama sepertimu, namun alangkah baiknya jangan terlalu terang-terangan seperti itu.” Rachel membalas seraya menatapnya. “Aku tidak peduli dengan apa yang mereka katakan tentangku, selama ada dirimu, Denis, dan Liana di sisiku, untuk apa aku mengkhawatirkan hal lainnya?”


“Benarkah kau baik-baik saja?”


“Tentu saja. Kau mau ‘kan berjanji padaku? Berjanji bahwa kau tidak akan mengulanginya lagi.”


Bersambung ...