
- Menjauhlah! Jika itu bisa membuatnya aman! –
________________
“Nona Elena, aku rasa pendengaranmu itu sangat baik. Tapi, jika kau ingin aku mengulangi ucapanku, maka aku akan katakan sekali lagi.” Rachel menghela napasnya dalam-dalam dengan pandangan yang masih tertunduk. Liana, ia mencoba menenangkan temannya, namun Rachel tak mempedulikan itu.
“Leon, lihat disana! Bukankah itu Rachel si gadis beasiswa?” Denis menyeru seraya memegang cup minuman di tangannya, dan Leon memiringkan wajahnya agar mampu melihatnya.
“Kau benar. Tapi, ada apa dengannya? Dia tampak kacau.” Umpat Leon dengan senyum mengejeknya, dan ia segera membuang cup yang ia genggam.
“Aku rasa, dia di kerjai oleh Elena, dan teman-temannya.”
Pasti karena kejadian kemarin itu, ya?
Leon menggumam seraya memicingkan matanya. Sedangkan gadis itu masih belum membuka suaranya, sehingga membuat Elena semakin kesal. Ia hendak mendorong tubuh Rachel, namun dengan cepat Rachel menahan tangan tersebut, dan menghempaskannya secara bersamaan.
“... aku bilang minta maaf!” Sahutnya dengan nada suara yang terdengar lebih tinggi.
Mereka yang memandangi hal itu pun begitu terkejut melihat sikap berani Rachel, sama halnya dengan Liana. Baru kali ini ia melihat temannya begitu marah sehingga bicara dengan nada yang tinggi.
Keberanian Rachel justru semakin membuat mereka yang disana semakin geram. Bagaimana tidak? Mereka saja tidak berani melawan Elena, namun murid baru ini tanpa takutnya maju paling depan untuk mendapatkan keadilan atas dirinya.
“Leon! Bukankah seharusnya kita pisahkan mereka? Bagaimana pun juga Rachel adalah teman kelas kita, dan tindakan Elena tidaklah benar.” Denis yang masih melihat dari kejauhan itu pun mulai tampak khawatir, namun Leon hanya menyunggingkan senyum sebelahnya. “Kenapa kau diam saja? Jika kau yang bicara, aku yakin jika Elena akan diam dalam sekejap.” Imbuhnya lagi.
“Tidak! Ini masih belum apa-apa.” Ulas Leon seraya menyilangkan tangannya tepat di depan dadanya.
“Nona Odellina, dengarkan aku baik-baik!” Elena maju satu langkah dengan posisi bertolak pinggang. “Kau sangat menginginkan ucapan maaf dariku bukan?” Tuturnya lagi seraya mengangkat salah satu alisnya.
“Bukankah sudah jelas?” Rachel membalas.
“Jangan bermimpi!” Dengan tegas Elena mengucapkannya, ia juga mendorong salah satu bahu Rachel dengan ujung telunjuknya. “Sampai mati pun aku tidak akan meminta maaf padamu. Memangnya kau siapa? Pantaskah kau mendengar maaf dariku? Meski dalam mimpimu sekali pun, aku tidak akan pernah menundukkan kepalaku di depan gadis miskin sepertimu!” Sambungnya seraya menunjuk Rachel tepat di wajahnya.
“Booooommmm.” Leon kembali menyunggingkan senyum miringnya ketika melihat tamparan itu mendarat.
“Ada apa ini?” Evan pun tiba disana, meski terlambat ia dapat melihat sedikit bagaimana Rachel menampar Elena. Namun, ia juga terkejut saat melihat yang terjadi pada Rachel. “Elena, aku harap kau bisa memberiku alasan yang bagus mengenai dirinya.” Kini tatapan Evan menajam.
“Apa yang terjadi disini? Keributan macam apa ini?”
“Kakak? Gadis ini berani menamparku!” Elena mencoba membela dirinya di hadapan sang kakak.
Eria Aleit. Seorang wakil kepala sekolah sekaligus saudara kandung dari Elena Aleit. Tanpa ragu Elena membeberkan semua yang ia rasakan saat itu, dan ia juga mendapat dukungan dari teman sekelilingnya. Sehingga Eria mendekat ke arah Rachel seraya menatapnya tajam.
“Kau melanggar salah satu peraturan sekolah ini nona Odellina. Melakukan kekerasan di lingkungan sekolah merupakan suatu pelanggaran, apa kau tahu hal itu?”
“Lalu apa hal yang di lakukan adikmu bukanlah sebuah pelanggaran, frau Eria?” Sahut Elena dengan tegas, dan lagi-lagi Liana memintanya untuk diam.
“Menjawab komentar guru juga merupakan pelanggaran, karena ulahmu yang tidak bisa di toleran, kau mendapat skorsing selama 7 hari, dan tidak di izinkan untuk mengikuti pelajaran selanjutnya!”
“Frau, jika kau memberikan skorsing pada Rachel, apa yang kau lakukan pada Elena? Bukankah Elena lah pemicu dari semuanya? Jika Elena tidak mengusilinya, Rachel tidak akan melakukan hal demikian, aku harap kau bisa bekerja secara profesional. Jika frau tidak menarik ucapan itu, maka aku tidak akan diam!” Evan menyahut, dan menghadang Eria yang berdiri di hadapan Rachel.
“Keputusanku mutlak, Evan. Jika kau tidak ingin terkena masalah, sebaiknya kau diam! Karena aku tidak akan segan menghukummu juga, tidak peduli jika kau tunangan adikku sekali pun.”
Tidak bisa berkata apa-apa lagi. Rachel berjalan meninggalkan mereka semua, dan Liana segera mengejarnya. Langkahnya terhenti ketika melihat Denis serta Leon yang berdiri tak jauh dari sana, melihat pancaran kedua mata itu membuat hati Leon merasakan sesuatu yang berbeda.
Ketika berada di ruang kelas, Rachel menyambar tas serta jaketnya. Air mata yang sejak tadi ia tahan pun menetes membanjiri kedua pipinya. Ia menutupi kepalanya dengan kupluk yang berada di jaketnya, tidak peduli dengan wajahnya yang terlihat begitu kacau.
Liana, ia tak berhasil mengejarnya. Namun, ia juga merasakan sesak, karena ia tidak mampu berbuat apapun demi menyelamatkan temannya itu. Sedangkan seseorang yang menatap Rachel keluar gerbang pun tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya, wajahnya terlihat menahan amarah, kemudian ia berjalan berbalik ke ruang kelasnya untuk mengambil ponselnya.
“Kepala sekolah. Apa kau sudah cukup berlibur? Tidakkah sebaiknya kau kembali?” Sahut orang tersebut.
Bersambung ...