
- Tidak perlu menyapa, jika hanya untuk menyakiti, dan tanpa adanya rasa bersalah –
••••••••••
Seseorang memperhatikan keduanya dari kejauhan. Ketika melihat gadis itu pergi, orang itu pun menghampirinya, dan tanpa permisi ia langsung duduk di sisi Evan begitu saja. Menyadari kehadiran seseorang yang sudah membuat keributan, Evan memilih untuk bangun dari duduknya serta meninggalkan tempat tersebut.
“Tidak ku sangka, ketua osis yang terkenal dingin, dan bermartabat mengenal seorang gadis sepertinya.” Celetuknya.
“Leon, kau memang memiliki hak di tempat ini. Namun, bertindak seenaknya bukanlah hal yang benar. Meski aku sudah berada di semester akhir, jabatan ketua osis masih berada di tanganku. Jika kau ingin naik kelas, maka jangan bertindak macam-macam, karena poin dari kami akan sangat berguna.”
“Benarkah? Tanpa poin darimu pun aku tidak akan merasa terancam.”
“Sekolah ini memiliki peraturan, apa kau masih belum paham secara keseluruhannya? Tanpa poin dari organisasi kami, maka pihak sekolah tidak bisa menaikkan siswa ke semester selanjutnya, dan aku tidak memandang kenal atau tidak untuk memberikan poin tersebut, tak terkecuali dirimu! Walau kau anak dari pemilik sekolah ini sekali pun, saat kau bertindak di luar aturan, maka aku akan memberikan poin minus untukmu, permisi!” Setelah mengatakan semua itu, Evan lekas meninggalkan tempat tersebut.
“Aku rasa mereka memang memiliki hubungan lain.” Leon menggumam seraya menatap punggung Evan yang semakin menjauh.
Jam pulang sudah berbunyi, tanpa berpikir panjang lagi, Rachel segera mengganti pakaiannya di toilet sekolah. Setelah itu, ia menyematkan jaketnya, dan pergi meninggalkan sekolah. Seseorang memperhatikannya, secara diam-diam orang tersebut mengikutinya dari belakang, dan langkahnya terhenti ketika melihat gadis itu memasuki salah satu restaurant keluarga.
Tidak lama kemudian, Rachel mulai melayani setiap pelanggan yang datang, dan orang tersebut masih memperhatikan apa yang tengah di kerjakan olehnya. Orang itu masih menatap Rachel dari luar restaurant, dan ia sungguh tak menyangka jika gadis itu masih gadis yang sama, tidak ada yang berubah darinya.
Evan, dialah yang sejak tadi menatapnya dari kejauhan. Ingin rasanya ia menghampiri gadis itu, namun dia takut jika siswa sekolahnya melihat keberadaan atau kedekatan yang terjadi pada mereka, sehingga ia harus mengurungkan niatnya.
Saat malam menjelang, Rachel segera pamit dari tempat tersebut. Tak lupa bagi mereka mengucapkan terima kasih padanya sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan tempat tersebut. Setelah berada di luar restaurant, Rachel mencoba merenggangkan otot-ototnya yang terasa begitu pegal.
Ketika mencoba merenggangkan kepalanya ke kanan, dan ke kiri. Pandangannya terhenti saat melihat seseorang yang di kenalnya. Seketika ia menghentikan aktifitasnya, dan mengatur posisinya untuk berdiri tegak. Tak ingin terjadi perkelahian saat itu, Rachel segera pergi dari sana, namun sayangnya orang itu menahan langkahnya.
“Sedang apa kau di sini? Kenapa kau keluar dari restaurant itu? Aah aku rasa kau menguntitku, ya?” Sahut orang itu, mendengar hal tersebut tentu saja membuat Rachel mengernyitkan dahinya. Bagaimana mungkin dia bisa mengatakan hal tersebut? Lagi pula untuk apa Rachel menguntit orang itu?
“Dengar tuan muda Leon! Bukankah akulah yang datang lebih dulu di banding dirimu? Jadi, menurutmu siapa yang menguntit?” Decak Rachel dengan nada kesalnya. Kemudian, gadis itu pun membalikkan tubuhnya, ia sungguh ingin pergi dari hadapannya.
“Apa salahnya jika aku mengetahui restaurant ini? Selama tempat itu dapat memberikan pekerjaan padaku. Kenapa aku harus berpura-pura tidak tahu? Sudahlah, aku lelah, dan tidak ingin berdebat denganmu. Sampai jumpa!” Ungkapnya seraya melambaikan tangannya.
“Ha Ha Ha. Jadi, hanya untuk bekerja ya? Benar juga. Lagi pula tidak mungkin untukmu membeli makanan yang ada di restaurant ini ‘kan? Kau tidak akan sanggup untuk membayarnya.” Leon melebarkan tawanya, dan mendengar itu membuat Rachel menghentikan langkahnya, tangannya ia turunkan, lalu secara bersamaan ia mengepalkan kedua tangannya.
“Meski aku sanggup membayarnya, aku akan berpikir 2 kali untuk membelinya. Menurutku, masih ada hal yang lebih penting dari makanan mewah itu, lagi pula untuk apa menikmati makanan mewah jika hanya seorang diri? Itu akan tetap terasa tidak menyenangkan untukku, permisi!”
“Teruslah bersikap seperti itu, Rachel! Dengan begitu, kau tidak akan bisa tertindas!” Evan membatin ketika melihat hal itu.
Dengan geram Rachel meninggalkannya. Namun, kata-kata tersebut mampu membungkam Leon, kata-kata yang di lontarkan sangatlah menohok hatinya. Bagaimana tidak? Semua yang di ucapkan bagaikan sindiran untuknya.
Apa yang di katakan oleh gadis itu memanglah benar. Setiap hari, Leon memang selalu menikmati makanan mewah di rumahnya. Namun, dia hanya menikmati itu seorang diri, ayah serta ibunya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Sejak kecil Leon terbiasa hidup seperti itu, maka dari itu ia tidak begitu dekat dengan kedua orang tuanya. Yang mereka pikirkan sejak dulu hanyalah tentang uang, dan uang. Sehingga karakter itu juga yang terbentuk pada pola pikir Leon. Baginya uang memang segalanya, namun ia sedikit membenci akan hal tersebut. Akibat uang, dia tidak bisa menikmati kehangatan keluarga yang ia dambakan.
Setelah memastikan bahwa Rachel pergi, Evan pun segera meninggalkan tempat tersebut. Setidaknya ia tahu aktifitas apa yang di lakukan olehnya setelah sepulang sekolah. Hujan pun turun, dan untunglah Rachel membawa payung. Bodohnya, ia melupakan hal tersebut, ia meninggalkannya di restaurant itu.
Merasa belum jauh, ia memutuskan untuk kembali. Siapa sangka jika langkahnya di hadang oleh seorang pria yang berdiri di bawah guyuran air hujan dengan tatapan yang begitu kosong. Entah apa yang ada di pikiran pria itu. Namun, tiba-tiba saja ia hampir terjatuh dalam pelukan Rachel.
“Bodoh! Apa yang kau lakukan?” Rutuknya kesal. Mencoba membangunkan pria itu, tak di sangka-sangka jika pria itu memejamkan kedua matanya. “Astaga, apa kau pingsan? Kenapa harus merepotkanku?” Sambungnya lagi.
Apa yang harus ia lakukan kali ini? Entah apa yang terjadi padanya? Dirinya bahkan tidak tahu dimana pria ini tinggal? Kenapa juga ia harus pingsan di tempat seperti itu? Dan kenapa juga hal itu terjadi ketika tengah bersamanya.
Hujan semakin deras, dan jam terus berputar. Akhirnya dia pun memutuskan untuk membawa pria ini menuju tempat tinggalnya. Dengan berat hati ia menghentikan taksi yang lewat, dan meminta supir taksi tersebut membawa mereka ke alamat yang sempat di tunjukkan oleh Rachel.
Bersambung ...