
- Biarkan kesalahan masa lalu itu menjadi sebuah pelajaran! Kemudian, belajarlah agar tidak mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. -
__________________________________
Setelah itu, keduanya pergi meninggalkan taman, dan Rachel memutuskan untuk pulang. Seperti yang sudah dia katakan pada Evan sebelumnya, bahwa dia ingin menggunakan waktu liburnya untuk beristirahat dirumah.
Setibanya di rumah Rachel, dengan cepat Rachel merebut tas miliknya yang masih berada dalam gendongan Leon. Senyuman Leon terus terukir, dan itu membuat Rachel sedikit tertawa melihat tingkahnya tersebut.
“Sekarang pulanglah!” Rachel sedikit mendorong tubuh pria di hadapannya, wajahnya masih terlihat merah bak tomat yang sudah sangat matang.
“Berikan ponselmu!”
“Hah? Untuk apa?” Gadis itu menatapnya bingung.
“Cepat berikan padaku! Aku tidak akan merusaknya.” Tambahnya yang kemudian Rachel pun menyerahkannya dengan ragu. Setelah mendapatkan ponsel tersebut, Leon mengetikkan sesuatu di dalam ponsel milik Rachel. Seusai dari itu, tak lama ponsel miliknya berdering, kemudian Leon pun mengembalikannya lagi.
“Apa yang kau lakukan pada ponselku?”
“Aku menyimpan nomor ponselku di ponsel milikmu, kemudian aku menyambungkan nomormu padaku. Aku cukup frustasi karena belum memilikinya, dan itu sangat menyebalkan.” Leon menyahut, dan kembali mengukir senyuman miliknya. “Baiklah aku akan pulang sekarang. Selamat beristirahat!”
Leon yang sedang dalam perjalanan pulang dengan rasa bahagia yang terpancar di wajahnya, berbeda dengan kondisi yang terjadi di rumahnya saat ini. Stine, supir yang biasa bertugas mengantar-jemput Leon sepertinya akan segera mendapat masalah.
Entah apa yang di perbuat olehnya sehingga dia di panggil oleh nyonya besar di rumah itu. Merasa tidak melakukan kesalahan apapun, dengan berani pria paruh baya itu mendatangi ruangan atasannya. Mendapat izin masuk, Stine pun segera memasukinya, dan tak lupa membungkukkan tubuhnya sebagai tanda hormat.
“Nyonya memanggilku?” Stine menyahut dengan nada pelan.
“Aku tidak melihat putraku sejak tadi. Bukankah seharusnya dia sudah pulang? Kemana kau membawanya?”
“Ketika menjemputnya, tuan muda meminta saya untuk meninggalkannya, karena ada hal yang ingin dia kerjakan sebelum pulang.”
“Tetapi, tidak seharusnya kau meninggalkannya. Kau ‘kan bisa mengikutinya, jika terjadi sesuatu dengan Leon, kau harus bertanggung jawab, dan aku tidak akan membiarkanmu hidup dengan tenang. Kau mengerti?” Tuturnya dengan nada yang penuh tekanan.
“Ibu, kau tidak berhak mengancamnya seperti itu!” Entah sejak kapan Leon datang, mengetahui bahwa Stine berada di ruangan ibunya, dengan cepat Leon mendatanginya, karena dia tahu jika pegawai di rumahnya sampai harus masuk ke dalam sana, sudah bisa di pastikan jika ibunya sedang memberikan suatu yang buruk pada mereka.
“Leon, senang bertemu denganmu! Ibu sangat merindukanmu, nak.” Wanita itu tampak menghampiri Leon, dan hampir memeluknya, namun dengan cepat Leon menepisnya.
“Hei, ada apa denganmu? Apa seperti itu sikapmu pada ibu? Aku baru saja kembali dari New York, dan kau tidak menyambut ibumu ini?”
Merasa tak terima dengan tindakan putranya, wanita itu segera menyusul langkah Leon yang menjauh dari ruangannya. Dia juga menahan langkah putranya, dan itu berhasil membuat langkahnya terhenti, namun Leon meminta Stine untuk segera kembali pada pekerjaannya.
“Ada perlu apa lagi denganku?” Sahut Leon dengan nada dinginnya.
“Apa harus memiliki keperluan dulu baru bisa bicara denganmu? Aku ibumu, apa kau tidak merindukanku?”
“Ibu salah jika berpikir aku akan merindukanmu, aku lebih berharap jika ibu tak perlu kembali kesini.” Tatapan Leon benar-benar terlihat begitu tajam, setelah melemparkan ucapan itu, Leon segera meninggalkan ibunya, dan bergegas menuju kamarnya.
Alisa Leart, dia merupakan ibu kandung dari Leon. Dia memiliki begitu banyak ambisi, dia bahkan tidak bisa menerima kekalahan dalam hal apapun. Demi mencapai semua keinginannya, dia bisa melakukan hal apa saja. Sejak dulu, Alisa memang sangat sibuk dengan karirnya, sehingga dia tidak memiliki waktu dengan putranya, mungkin itulah alasan Leon bersikap dingin padanya.
“Ibu, bisakah membacakan cerita untukku? Malam ini aku ingin tidur bersama denganmu.” Seorang anak berusia 5 tahun tampak memegangi sebuah buku cerita di tangannya.
“Maaf Leon, ibu harus bertemu dengan teman ibu. Stine akan membacakannya untukmu!” Timpalnya yang kemudian pergi meninggalkannya.
~
“Teman-teman di sekolahku selalu pergi bersama dengan ibunya, maukah ibu mengantarku?” Leon kecil mengutarakan permintaannya dengan wajah yang penuh harap.
“Lain kali saja, ya. Ibu harus mengadakan rapat hari ini.”
~
"Ibu, besok adalah hari ulang tahunku yang ke-8. Ayah akan mengadakan makan malam bersama. Apa ibu bisa kembali kesini?" Leon mencoba menghubungi ibunya yang saat itu sedang berada di luar kota.
"Maaf Leon. Besok merupakan hari dimana pembukaan gedung perbelanjaan yang baru. Ibu tidak janji bisa datang tepat waktu."
Mengingat masa lalunya membuat Leon merasa frustasi. Kenapa bisa dia memiliki orang tua yang selalu sibuk dengan pekerjaannya sampai melupakan dirinya. Apakah itu pantas di lakukan oleh mereka? Jika dari awal tidak berniat untuk mengurusnya, untuk apa juga dia melahirkan dirinya? Terkadang pikiran seperti itu selalu memenuhi otaknya.
Walaupun ibunya tidak begitu perhatian padanya, setidaknya ayahnya berusaha untuk meluangkan waktunya untuk dirinya. Meski begitu, yang di butuhkan Leon saat itu adalah seorang ibu. Dahulu, dia bahkan sering kali di katakan tidak memiliki ibu, dan itu selalu membuatnya berada dalam masalah, karena dia selalu mengakhirinya dengan sebuah perkelahian.
Sesekali Alisa datang untuk menemui guru di sekolahnya, dan meminta keluarga temannya untuk tidak memperpanjang masalahnya. Dia tidak memintanya secara cuma-cuma, dia tak segan untuk memberikan sejumlah uang pada mereka.
“Sejak dulu, bagi ibu, uang adalah segalanya. Dia selalu menilai semuanya melalui materi. Kapan ibuku bisa berubah? Bisakah aku memiliki kehidupan yang normal seperti yang lainnya? Untuk apa aku hidup di tengah keluarga yang berkecukupan, tapi aku harus kehilangan kasih sayang dari keluargaku sendiri.” Gerutu Leon seraya memejamkan kedua matanya.
Bersambung ...