Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 23



- Katakanlah! Katakan semua kecemasan yang kau rasakan! Karena akulah yang akan menghilangkan kecemasan itu untukmu -


_____________________________


Ketika dirinya berjalan untuk menuju restaurant, tiba-tiba saja seseorang menariknya menuju salah satu gang yang ada disana. Hal itu benar-benar mengejutkan untuknya, bahkan ia sendiri tidak mengenali siapa orang-orang yang berada di hadapannya.


“Ternyata dia gadis manis. Tetapi, kenapa dia begitu di benci?” Salah satu orang itu mendekatkan wajahnya pada wajah Rachel, dengan cepat ia memalingkan pandangannya. “Beraninya kau memalingkan wajahmu dariku!” Pungkasnya lagi.


“S-sebenarnya s-siapa kalian? Dan mau apa kalian? Aku harus pergi.” Langkahnya mencoba meninggalkan tempat itu beserta ketiga orang yang berada disana, namun dengan cepat salah seorang dari mereka menarik pergelangan tangannya.


“Gadis manis, sebaiknya kau menurut pada kami. Karena jika tidak, kami tidak akan menjamin keselematanmu.” Lagi-lagi seringaian itu membuatnya bergidik ngeri. Lalu ia melihat seseorang yang di kenalnya dari luar gang tersebut.


“L-Liana?” Teriaknya sehingga sang punya nama menoleh pada sumber suara. Ia terkejut melihat Rachel berada di sana dengan di kerumuni oleh orang yang begitu asing. “Liana aku mohon bantu aku, aku...” Belum menyelesaikan kalimatnya, Liana langsung berlari meninggalkannya, dan Rachel benar-benar tidak menyangka hal itu akan terjadi.


“Ha Ha Ha. Orang yang kau kenal bahkan tidak mempedulikanmu. Sebaiknya bermain saja dengan kami.”


Apa dia sudah benar-benar membenciku? Apa dia akan pergi untuk memanggil seseorang?


Pikiran Rachel benar-benar kacau saat ini, ia juga sangat ketakutan saat tangan orang-orang di hadapannya mulai menyentuhnya. Hari sudah mulai sore, dan di musim dingin seperti itu tidak banyak orang yang melewati tempat tersebut, teriakkannya bahkan terasa sia-sia, karena tidak satu pun yang datang menghampirinya. Bahkan berontakkannya pun tidak di pedulikan oleh ketiga pria dewasa tersebut.


Berkali-kali Rachel mencoba lari dari mereka, dan ia bahkan memberanikan diri untuk memukul salah satu dari mereka demi membela dirinya sendiri, namun yang di dapatkan hanyalah sebuah kekerasan. Sudut bibirnya bahkan terlihat memar akibat ulah ketiga pria itu yang terus berusaha menghalangi kepergiannya, bukan hanya itu, seragamnya sampai terkoyak karenanya.


“Aku mohon biarkan aku pergi. Aku bahkan tidak memiliki apapun yang bisa kuberikan pada kalian!” Nada suaranya sudah mulai terdengar serak.


“Kau memang tidak memiliki apapun selain tubuh mungilmu serta wajah cantikmu, tetapi orang di balik ini memiliki apa yang kami butuhkan, nona manis.”


“Orang di balik ini? S-siapa yang kalian maksud?”


“Bodoh! Apa yang kau katakan? Sudah sebaiknya kita hentikan saja! Dia pun sudah terlihat kacau.” Bisik salah seorang pada rekannya, dan di balas anggukkan oleh yang lainnya.


“Dengar gadis manis! Jika kita bertemu lagi di situasi yang lain, aku harap bisa bermain denganmu lebih dari ini, karena tampaknya aku sangat menyukaimu.” Seringainya lagi yang kemudian meninggalkan Rachel disana seorang diri.


Napasnya yang sempat tersekat pun sedikit lega saat ketiga pria asing itu pergi. Tangisannya pecah di saat bersamaan, kedua tangannya menutupi wajahnya yang tengah terisak. Pikirannya benar-benar kosong, dan itu sangat menakutkan untuknya.


Kemudian, ia menyambar jaket miliknya yang sempat terlepas akibat tarikan pria tadi, dia menutupi tubuhnya, dan segera meninggalkan tempat tersebut. Selama perjalanannya menuju halte, saat berada di bus, ia terus menundukkan pandangannya. Hari itu ia bahkan tidak pergi bekerja, namun ia mencoba memberi kabar pada mereka, dan mengatakan bahwa dia tengah tak sehat.


Di bawah guyuran air yang mengalir, Rachel kembali meneteskan air matanya, dan membayangkan hal tadi sangatlah menakutkan untuknya. Dia bahkan merasa kecewa pada Liana yang saat itu diam tak bergeming sedikit pun, sedikit harapannya bahwa temannya itu pergi untuk mencari pertolongan, namun harapannya tidak seperti yang di pikirkan olehnya.


Ia memegangi kepalanya, dan mencoba mencari cara membenarkan seragamnya, namun tidak terpikirkan olehnya bagaimana memperbaikinya, karena sobekkan itu memang tidak bisa di perbaiki, dan harus mendapat ganti. Kemudian, dia mencoba untuk menghubungi pihak sekolah untuk memberinya pengertian.


“Maafkan kami, Rachel. Tetapi, peraturan tetaplah peraturan, dan kami tidak mungkin mengabaikannya hanya karena satu orang. Aku harap kau mengerti.”


“Lalu, bagaimana aku bisa mengikuti pelajaran?”


“Kau tenang saja. Aku akan meminta pembimbingmu memberikan setiap materinya kepadamu melalui teman kelasmu.”


“Aku tidak memiliki siapapun disana, kepala sekolah. Tetapi, jika boleh ku sarankan, bisakah untuk memberikanku sebuah rekaman, dan berikan rekaman itu pada Evan Valter?”


“Tentu saja. Aku akan menghubungi Evan.”


Setidaknya ia bisa sedikit merasa lega. Seragam itu tidak bisa di beli dengan harga yang murah, dan itu harus membuatnya bekerja lebih keras lagi agar bisa membeli seragamnya, dengan begitu ia bisa mengikuti pelajaran seperti sebelumnya.


Sedangkan di sekolah, Denis memperhatikan tempat kosong yang berada di dalam kelasnya. Bagaimanapun dia adalah seorang ketua kelas, dan ia harus mengetahui apa yang terjadi dengan teman-teman di kelasnya. Liana yang duduk tepat di belakang Denis pun menyadari hal tersebut, dan dia mengikuti arah pandang Denis.


Liana juga tak kalah bingung, gadis itu tidak datang, dan tidak biasanya dia belum datang, bahkan pelajaran akan segera di mulai. Lalu, Denis menoleh ke belakang seraya menatapi Liana, tatapannya seakan tengah mengintrogasinya saat ini.


“Apa kau tahu kemana Rachel pergi? Apa dia tidak masuk hari ini?” Denis mencecarnya, dan Liana tampak menundukkan pandangannya. “Kau adalah satu-satunya teman yang dia miliki, apa kau juga tidak tahu apa yang terjadi dengannya?” Timpalnya lagi.


Mendengar kalimat ‘apa yang terjadi dengannya’ membuat sesuatu terlintas di pikiran Liana saat ini. Benar, yaitu kejadian saat pulang sekolah. Apa karena hal itu Rachel tidak masuk ke sekolah? Apa terjadi sesuatu sehingga membuatnya tidak bisa masuk? Apakah dia terluka? Semua itu terus berkecamuk jadi satu di pikirannya.


“Liana, aku sedang bicara denganmu!” Denis menyadarkannya hingga membuat sang punya nama terkejut.


“A-aku tidak tahu. Dia tidak menghubungiku.”


Leon yang memperhatikan mereka pun segera keluar dari ruang kelasnya setelah mendengar jawaban dari Liana. Denis yang melihat sikap temannya itupun menyunggingkan senyumnya, seakan dia tahu apa yang tengah di rasakan, dan di pikirkan olehnya.


Entah kenapa, Leon sangat merasa khawatir pada gadis itu, karena dia juga tahu jika gadis itu tidak akan membolos, dan ketidakhadirannya saat ini sudah dipastikan jika ada yang sudah terjadi padanya. Leon menuju ruang keamanan, dan melihat kapan gadis itu keluar dari sekolah.


Tidak bisa menjangkau lebih jauh, dia pun menyuruh anak buahnya untuk mengecek setiap cctv pada setiap jalan di dekat sekolahnya, dengan harapan ia bisa menemukan sesuatu. Hatinya terus mengatakan jika gadis itu tengah berada dalam masalah, karena itulah Leon sangat merasa tidak nyaman.


“Apa kau menyukai gadis itu, Leon?” Denis menepuk bahunya saat melihat kegelisahan yang begitu jelas pada temannya.


Bersambung ...