Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 32



- Ketika waktu bisa kembali di putar. Aku ingin memutarnya kembali agar bisa bertemu denganmu di awal waktu. Dengan begitu, aku bisa menghabiskan waktu lebih lama bersamamu. –


___________________________


Saat ini, Rachel terlihat masih mencerna setiap kata-kata yang di dengar olehnya. Benarkah Leon juga sampai turun tangan menangani ketiga orang asing itu? Dirinya bahkan sempat berprasangka bahwa Leon yang merencanakannya.


“Kau boleh berpikir buruk tentangku, Rachel. Tetapi percayalah satu hal! Aku sama sekali tidak merencanakan semua itu. Bahkan sampai menyuruh orang asing, kau tidak perlu khawatir, aku akan mencari orang-orang yang sudah melukaimu itu. Sekarang bangun, dan pulanglah!”


Di saat yang bersamaan, dia juga mengingat ucapannya, dan ternyata dia benar-benar membuktikannya. Rachel masih benar-benar tidak menyangka jika Leon sudah banyak membantunya. Namun yang dia lakukan hanya terus berprasangka buruk.


“Rachel! Jawab aku! Apa kau memiliki hubungan dengannya?” Sambar Liana yang kembali mencecarnya.


“Kenapa kau berpikir seperti itu? Aku bahkan tidak tahu apa alasannya melakukan semua itu.” Seru Rachel yang mencoba tenang.


“Kau benar! Kalian bahkan tidak pernah terlihat akur sedikit pun.”


Di tempat yang berbeda, Leon tampak sedikit kesal karena gadis itu tak juga datang. Apa dia melupakannya? Ingin rasanya ia menghubunginya, namun dia tida memiliki kontaknya, dan itu sangat menjengkelkan.


Ketika hendak mencarinya, Rachel tiba dengan napas yang tersengal. Merasa khawatir, Leon segera mendekat ke arahnya, dia juga mencari tahu apa yang sudah terjadi padanya sehingga membuatnya terlambat, dan Rachel hanya menggelengkan kepalanya.


“Rachel. Aku sungguh minta maaf padamu, akulah yang sudah mengambil fotomu saat di cafe, dan aku juga yang sudah memasangnya di papan pengumuman.” Sahut orang itu, dan tentu saja mendengarnya membuat Rachel terkejut.


“K-kenapa kau membawa Wilson kemari, Leon?” Sahut Rachel.


“Bukankah aku sudah berjanji padamu untuk membawanya ke hadapanmu? Dengan begitu kau bisa menghukumnya. Katakan saja apa yang ingin kau lakukan padanya.”


“Aku tidak ingin melakukan apapun padanya. Lagi pula aku sudah melupakannya, selama dia sadar akan kesalahannya, aku rasa itu sudah cukup untukku, namun aku harap kau tidak mengulanginya lagi. Kau boleh pergi.” Rachel tersenyum padanya.


“Terima kasih banyak, Rachel.” Wilson membalasnya, kemudian ia segera pergi meninggalkan halaman belakang.


Setelah temannya itu pergi, tanpa menunggu apa-apa lagi, Rachel juga segera meninggalkan tempat tersebut tanpa bicara sepatah kata pun pada Leon. Merasa di abaikan, Leon menarik lengan gadis itu, dan membuat dia menghadap ke arahnya.


Mendapati perlakuan seperti itu, Rachel memberikan sebuah tatapan yang tajam terhadap pria di hadapannya. Kemudian, Leon hanya menghela napasnya menanggapinya yang kemudian di balas dengan tawa kecil oleh Rachel.


“Maaf.” Gumam Rachel seraya menundukkan pandangannya. Mendengar itu, Leon pun mengernyitkan kedua alisnya. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa gadis itu mengutarakan hal tersebut. “Mengenai ketiga pria asing itu, maaf karena sempat berburuk sangka padamu.”


“Astaga aku pikir ada apa. Aku benar-benar tidak menyalahkanmu jika kau memiliki pemikiran seperti itu, Rachel. Selain itu, mereka sudah berani melukaimu, jadi mereka pantas mendapatkan hukumannya.”


“Tentu. Tetapi, kau tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa lagi. Selama ada aku, aku pasti akan melindungimu. Bukan hanya itu, dimana pun kau berada, aku pasti bisa menemuimu.” Ucapnya dengan tatapan yang begitu lembut.


Pernyataan Leon terdengar begitu tulus, dan tidak terlihat kebohongan di kedua matanya. Namun, tetap saja hal itu membuatnya takut. Dia tidak tahu apa dirinya bisa mempercayai orang lain lagi setelah apa yang sudah di alaminya.


“Kau tidak perlu khawatir, bukankah ada aku? Aku akan selalu melindungimu, dan selama ada aku, aku pastikan jika kau aman.”


Yah, Evan juga pernah mengatakan hal yang sama, pria itu juga pernah menjanjikan hal yang sama pada dirinya. Namun, pada akhirnya, tidak ada yang pria itu lakukan padanya ketika bertemu kembali.


Melihat kecemasan pada wajah Rachel membuat Leon bertanya-tanya, ada apa gerangan dengan ekspresi itu? Leon terus bertanya pada hatinya, apa dirinya telah mengucapkan hal yang salah? Tetapi dia merasa tidak ada, lalu ada apa dengan Rachel?


“Ada apa? Apa yang kau pikirkan? Apa kau tidak memercayaiku?” Leon menyahut seraya menggenggam kedua bahu gadis di hadapannya.


“Bukan seperti itu. Sebelum kau, ada seseorang yang pernah membuat janji seperti itu, dia berjanji akan melindungiku apapun yang terjadi, namun pada akhirnya dia tidak melakukan apa-apa.”


Apa pria itu Evan? Tidak salah lagi, itu pasti dia.


“Untuk terakhir kalinya, apa aku bisa memercayai orang lain? Apa aku bisa memercayaimu, Leon? Ketika aku menyerahkannya, apa kau benar-benar bersedia untuk menjaganya?” Rachel kembali mengutarakan isi hatinya. Dia hanya tidak ingin terulang untuk kedua kalinya.


“Yah. Aku akan menjaganya dengan sangat baik. Seandainya pertemuan kita sedikit lebih awal, mungkin aku bisa membuktikannya padamu, dan kau...”


“... terima kasih. Jika begitu aku harus pergi sekarang. Aku harus bekerja, jika tidak pergi sekarang, aku pasti akan terlambat. Sampai jumpa!” Rachel yang bergegas pergi pun kembali di tahan oleh Leon, hingga hal tersebut membuat Rachel merasa kesal.


“Aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum kau memberiku sebuah jawaban.” Sahut Leon dengan menatapnya tajam.


“Jawaban? Memang kapan kau memberiku pertanyaan?” Rachel mencoba mengingatnya seraya mengernyitkan keningnya, dan memutar bola matanya ke atas.


“Kau jangan berpura-pura menjadi bodoh, Rachel! Kau berhutang jawaban padaku, apa kau tidak mengingatnya? Jika kau tidak mengingatnya, jangan harap kau bisa pergi dari sini.”


Rachel terus berpikir, entah jawaban apa yang di inginkan oleh pria di hadapannya. Gadis itu meletakkan jari telunjuknya pada dahinya, dia memejamkan kedua matanya, mencoba untuk mengingat-ingat jawaban apa yang belum di berikan olehnya, dan dari pertanyaan yang mana. Hingga kemudian, dia membuka kedua matanya secara tiba-tiba.


“Bagaimana? Apa kau sudah mengingatnya sekarang?” Sahut Leon dengan nada sinisnya, dia juga sedikit menyeringai ketika menatapnya.


Bersambung ...