Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 40



- Siapa bilang bahwa merasa kecewa itu tidak di perbolehkan? Selagi tidak berlarut terlalu lama di dalamnya, maka kekecewaan itu akan menumbuhkan kekuatan dalam diri kita. -


___________________________


Sepulang sekolah, Evan tampak berdiri di depan gerbang sekolah, dan Rachel yang melihat itu pun menghentikan langkahnya. Leon yang berada di belakangnya pun merasa kebingungan. Saat melihat tatapannya tertuju pada seseorang di depan sana, Leon segera menggenggam tangan Rachel dengan erat.


“Sebaiknya kita pergi duluan saja.” Denis berbisik pada Liana, kemudian mereka pun segera meninggalkan mereka.


Rachel menatap Leon, dan Leon hanya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, seolah dia berkata bahwa dia yang akan mengatakan semuanya pada pria itu. Merasa sedikit tenang, Rachel mengikuti langkah pria di sisinya untuk melalui gerbang sekolah.


Jantungnya berdegub semakin cepat ketika jaraknya dengan gerbang sekolah semakin dekat, bahkan genggamannya semakin terasa erat, dan Leon dapat merasakan hal tersebut. Ketika keduanya tiba di gerbang sekolah, Leon membawa Rachel seolah tak melihat orang yang tengah berdiri disana, namun Evan tampak menahan pergelangan tangan Rachel, hingga keduanya pun menghentikan langkahnya.


Sebenarnya apa yang di lakukan olehnya? Apa dia ingin bersaing dengan Leon? Jika saja gadis itu tidak memiliki hubungan dengan Leon, aku pasti sudah memberimu banyak pelajaran, akibat kehadiranmu, Evan memutuskan pertunangannya denganku.


Elena yang melihat mereka pun merasa geram. Dia benar-benar tidak terima harus berpisah dengan Evan, selain itu dia juga tidak senang melihat Rachel berada di tengah antara Leon, dan juga Evan. Itu sungguh menjengkelkan untuknya, hingga dia memutuskan untuk pergi.


“Bisakah melepaskan tanganmu darinya?” Leon mengangkat tangan Evan, dan menepisnya agar pria itu tidak menyentuh gadis yang tengah bersamanya saat ini.


“Aku tidak ada urusan denganmu, Leon! Urusanku dengan Rachel.”


“Urusan Rachel, maka urusanku juga.” Kini, tatapannya semakin tajam ke arahnya.


“Maafkan aku, kak. Aku rasa aku tidak bisa pergi denganmu, karena aku akan pergi dengan Leon pada hari itu.” Dengan ragu Rachel menjawabnya, dan Evan sedikit kecewa saat menerima jawaban darinya.


“Kau sudah dengar? Jika begitu jangan mengganggunya lagi! Bukankah kau juga sudah pernah mengatakan bahwa kau akan berhenti mengganggunya? Kau benar-benar tidak menepati ucapanmu sendiri.” Leon mengutarakannya dengan nada sinis, lalu dia segera membawa Rachel untuk pergi dari sana.


Stine sudah menunggu sejak tadi, dan Leon meminta Rachel untuk segera masuk ke dalam. Seperti biasa, Leon akan mengantarkannya menuju tempat bekerjanya saat ini, yah saat ini dia memiliki jadwal bekerja di restaurant keluarga milik Leon.


Setibanya disana, ia langsung mengganti seragamnya agar bisa mengganti seragam restaurant, tak lupa juga dia mengikat apron miliknya pada pinggangnya. Leon yang memutuskan untuk tetap tinggal disana merasa kesal ketika melihat Rachel mengukir senyumannya pada orang lain.


Cih. Dia bahkan dengan suka rela tersenyum di hadapan banyak orang. Apa-apaan ini? Apa saat ini dia sedang tebar pesona?


Leon terus saja merutuk, merasa tingkat kesabarannya sudah hampir meledak-ledak. Dia langsung berdiri dari tempatnya, dia juga langsung menghampirinya, dan menarik lengan gadis itu dari sana. Rachel yang semulanya tengah memegangi baki di tangannya itu pun hampir terjatuh, sikap Leon sangatlah mendadak untuknya.


“Apa yang kau lakukan, Leon? Aku tidak ingin di pecat hanya karenamu, ya!”


“Lalu ada apa? Aku pikir kau sudah pulang." Gerutunya yang mencoba membenarkan letak apronnya.


“Berhenti tersenyum pada mereka semua, terutama pada pelanggan pria. Mereka akan merasa senang jika kau terus seperti itu, beberapa dari mereka merasa...”


“... itu sudah menjadi pekerjaanku, Leon. Jika aku tidak tersenyum, bagaimana restaurant ini akan berkembang? Jika kami semua melayaninya dengan ramah, bukankah restaurant ini akan mendapat pujian?”


“Terserah kau saja!” Rutuknya yang langsung meninggalkan Rachel. Melihat ekspresi Leon membuat Rachel sedikit terkekeh.


-2 minggu kemudian-


Petang itu, Rachel tampak tengah bersiap. Setelah mendapat pesan yang di kirimkan oleh Leon pada pagi harinya sungguh membuat dirinya merasa tidak sabar untuk menunggu waktu malam. Tidak tahu apa yang akan di lakukan oleh Leon di tempat itu.


“Temui aku di restaurant Rown pukul 7 malam nanti. Aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu disana.”


Begitulah pesan yang di terima olehnya. Hingga ketika dia telah siap dengan persiapannya, dia segera bergegas untuk menuju ke tempat tersebut. Dalam perjalanan senyumnya terus terukir tanpa henti, dia benar-benar merasa penasaran dengan apa yang akan di lakukannya, dan itu membuatnya merasa sangat berdebar.


Hanya membutuhkan waktu 40 menit, dia sudah tiba di restaurant yang di maksud oleh Leon. Setibanya dia disana, pelayan disana menyambutnya, dan mengantarnya untuk menuju lantai paling atas pada restaurant tersebut.


Saat berada di balkon restauran itu, semua tampak indah, dia sangat terharu ketika melihatnya. Ini merupakan pertama kali untuknya, namun dimana Leon? Pria itu masih belum terlihat, padahal dia berharap bahwa Leon sudah tiba lebih dulu darinya.


“Tuan muda Leon menyiapkan semua ini untukmu, nona. Dia bahkan menyewa restaurant ini hanya untukmu, dia pasti sangat mencintaimu. Mungkin tuan Leon sedang dalam perjalanan, anda bisa menunggunya disana, dan katakan pada kami jika anda membutuhkan sesuatu.” Salah seorang pelayan menyahut dengan nada yang benar-benar sopan.


“Baiklah, terima kasih.” Rachel membalasnya dengan sebuah senyuman.


Mereka meninggalkannya, dan Rachel menunggu kehadiran Leon seraya memandangi langit yang di penuhi oleh bintang. Sesekali dia juga memandangi lampu-lampu gedung yang terlihat dari tempatnya saat ini.


Sudah hampir 2 jam Rachel mununggunya, kue yang berada di meja pun sudah terlihat hampir meleleh karena sudah terlalu lama berada di ruangan terbuka. Mencoba meraih ponselnya, tak ada satu pun pesan yang di terima olehnya saat itu, hingga dia memutuskan untuk menghubunginya lebih dulu.


“Tidak bisa di hubungi? Ada apa ini?” Ucapnya gusar.


Bersambung ...