
- Bisakah kita membuang kenangan buruk yang berada di masa lalu? Dan bisakah kita membuat kenangan baik untuk hari ini, dan hari yang akan datang? –
________________________________
“K-kau b-bisa memilihnya sendiri. Y-yang jelas aku ingin mendengar jawaban atas semua pertanyaan yang ku berikan.” Rachel tampak gelagapan menanggapi pertanyaan pria di hadapannya. Bagaimana tidak? Jarak Leon dengannya begitu dekat, meski dia mencoba memundurkan langkahnya, Leon akan kembali memperkecil jaraknya.
“Aku rasa aku memiliki 1 jawaban yang akan menjawab semua pertanyaanmu.” Kali ini, Leon kembali menegakkan tubuhnya yang semula dia bungkukkan agar dapat sejajar dengan gadis di hadapannya.
“A-apa itu?”
“Sebelum aku menjawabnya, kau harus lebih dulu menjawab pertanyaanku.”
“Mana boleh seperti itu? Aku sudah memberikan pertanyaannya padamu, dan kau harus menjawabnya lebih dulu. Setelah itu, barulah kau bisa bergantian mengajukan pertanyaan.” Sahut Rachel yang tak ingin kalah.
“Karena jawabanku bergantung pada jawabanmu, Rachel.” Leon menatapnya dengan begitu lekat, namun sorotannya itu terasa begitu hangat bagi Rachel, dan ini benar-benar pertama kalinya gadis itu merasakan sesuatu yang berbeda dari pria di hadapannya. “Jika kau tidak ingin, abaikan saja! Tetapi, jangan salahkan aku jika aku juga tidak akan memberi jawabannya padamu.”
Walaupun sebenarnya aku begitu takut untuk mengajukan pertanyaanku, namun aku juga ingin tahu bagaimana perasaanmu padaku, Rachel.
Kini, Leon menyunggingkan sebuah senyuman ketika melihat gadis di hadapannya terlihat sedang memikirkan sesuatu. Tidak kunjung membuka suara, Leon pun menghela napasnya, dan akhirnya memilih untuk meninggalkan tempat itu.
Mungkin ini bukan waktu yang tepat.
Meski begitu, Leon tak merasa kesal. Setidaknya dia bisa berbicara dengan santai saat bersama dengan Rachel, dan itu sudah lebih dari cukup untuknya. Selain itu, mendengarnya menolak pernyataan dari Evan juga benar-benar sangat membuatnya tenang.
“Baiklah, ajukan pertanyaanmu itu.” Sahut Rachel. Peryataannya itu membuat langkah kaki Leon terhenti, sebuah senyuman terukir di bibirnya, dan ia membalikkan tubuhnya.
“Rachel. Sejauh ini, semenjak pertemuan kita sampai sekarang...” Gumamnya seraya kembali menghampiri gadis itu. “... bagaimana pikiranmu tentangku? Apa kau membenciku?” Timpalnya saat sudah berdiri tepat di hadapan Rachel.
Mendengar pertanyaannya membuat Rachel sedikit bingung. Kenapa dia harus mengutarakan pertanyaan seperti itu? Apa benar jika jawaban yang di berikan olehnya bisa menjawab semua pertanyaan yang sebelumnya ia berikan pada pria itu?
Namun, pertanyaannya itu justru membuatnya sedikit mengerti ketika mengingat setiap tindakan-tindakan yang selalu di berikan Leon terhadap dirinya. Rachel terus menyimpulkan setiap kejadian-kejadian ketika bersama dengan pria itu, dan kesimpulannya itu membuat Rachel menatap Leon dengan begitu lekat. Dia juga takut jika itu hanyalah perasaannya saja.
"Hey gadis beasiswa! Apa yang kau lakukan disana? Apa kau ingin kembali di skors karena telat masuk jam pelajaran?"
"M-maaf."
“Kau tidak melihat blazerku? Lagi pula, membolos satu kali bukanlah hal yang buruk.”
“Aku membencimu, sangat membencimu...” Rachel menarik napasnya dalam-dalam, dan Leon tersenyum miris mendengar jawaban darinya.
“... begitu yaa.” Leon bergumam dengan nada yang sangat pelan seraya membalikkan tubuhnya.
“Tetapi bukan kau yang ku benci, Leon.” Ucapnya lagi, dan hal itu benar-benar membuat Leon bingung. Sebenarnya apa yang di maksud olehnya?
Aku tidak salah dengar ‘kan? Tadi dia berkata jika dia membenciku, namun beberapa detik kemudian dia mengatakan bukan aku yang di bencinya? Kenapa dia menciptakan teka-teki di setiap ucapannya?
Leon benar-benar frustasi akan hal tersebut.
“Aku membenci sikapmu yang begitu dingin. Kau memang selalu bicara dengan kata-kata yang menyakitkan, tetapi setelah ku pikir-pikir, kau tidak pernah menjatuhkanku seperti yang lainnya. Jadi, aku merasa jika kau sebenarnya bukanlah orang yang jahat.”
“Lalu?” Leon masih mencecarnya, karena dia merasa jika Rachel belum memberikan jawaban yang memuasnya.
“Mengingat bagaimana sikapmu padaku, a-apa kau mencoba melindungiku?” Rachel tampak ragu mengatakan hal tersebut, dia bahkan tidak berani menatap Leon untuk saat ini. Meski begitu, Leon sudah merasa puas dengan jawaban darinya, pria itu bahkan menyimpulkan sebuah senyumannya saat melihat wajah Rachel memerah.
“Kenapa kau memiliki pemikiran seperti itu, Rachel? Bukankah kau juga mencurigaiku mengenai kejadian-kejadian buruk yang kau alami?”
“A-aku juga tidak tahu. Aku berpikir seperti itu, karena kau yang paling cocok untuk melakukan hal tersebut. Bahkan para siswa disini begitu membanggakanmu, dan juga kau tidak pernah mengatakan apapun. Terlebih soal kejadian foto di cafe, bukankah kau juga berada disana pada saat itu?”
“Benar. Tetapi mengenai hal itu bukan aku yang melakukannya. Aku bahkan tidak mengetahui soal kejadian itu, meski begitu aku sudah menemukan orangnya. Aku akan menyerahkannya padamu, dan kau bisa katakan padaku, apa yang ingin kau lakukan pada orang tersebut.”
Lagi-lagi Leon melakukan hal di luar dugaannya, dan pikirannya masih bertanya-tanya kenapa dia harus melakukan semuanya. Pria itu bahkan tidak menjawab pertanyaannya dengan baik, kali ini Rachel sudah benar-benar frustasi menghadapi Leon.
“Aku sudah menjawab pertanyaanmu, Leon. Jadi, apa kau bisa menjawab pertanyaan dariku? Kenapa kau melakukan semua itu padaku? Apa sebenarnya niat terselubungmu padaku? Jadi, apa kau berbuat demikian hanya untuk melindungiku? Jika benar, kenapa kau selalu... mmph.”
Belum menyelesaikan ucapannya, Leon menarik Rachel, dan menciumnya begitu lembut. Tidak seperti Evan, entah kenapa Rachel tidak memberontak sedikitpun saat mendapati perlakuan seperti itu. Dia memejamkan kedua matanya, namun air matanya kembali menetes.
Leon seakan memberikan jawaban dari ciuman itu. Rachel merasakan kehangatan serta ketulusan darinya, namun dia juga tidak tahu apa itu hanya perasaannya saja atau bukan? Jika semua itu hanya perasaannya saja, apa yang sebenarnya di inginkan oleh pria di hadapannya saat ini.
“... kau terlalu banyak bicara, Rachel.” Gumam Leon seraya tersenyum ke arahnya, lalu ia menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. “Apa kau sudah mendapatkan jawabanmu? Aku sudah menjawab semua pertanyaanmu melalui tindakanku barusan.” Timpalnya lagi.
Bersambung ...