Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 41



- Saat aku mencoba untuk terlihat baik-baik saja. Saat itu juga aku sadar bahwa nyatanya aku tidak dalam kondisi baik. -


_____________________________


Kini, sudah 3 jam Rachel di sana, dan sampai saat itu, dia masih belum bisa menghubungi Leon. Pria itu juga bahkan tidak mengiriminya sebuah pesan atau apapun. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.


Berada di lantai dasar, beberapa pelayan menghampirinya, dan apa yang ingin di lakukan olehnya sampai dia turun sendiri? Kemudian, Rachel mengatakan bahwa ada baiknya mereka membuka kembali restaurant itu untuk umum atau mereka bisa menutupnya.


Terkejut mendengar penuturan Rachel, dan takut akan amarah Leon, mereka mencoba menahan Rachel untuk tetap berada di sana, namun dengan cepat Rachel menolak hal tersebut. Selain itu, dia juga akan menanggung kemarahan Leon jika dia sampai melakukan hal tersebut.


Tanpa mempedulikan apa-apa lagi, gadis itu segera pergi dari sana. Setelah berada di luar, dia kembali membalikkan tubuhnya, dia menatapi restaurant tersebut seraya membayangkan apa yang sudah di lihatnya, namun sayangnya acara itu tak berlangsung seperti apa yang ada di pikirannya.


Langkahnya membawa dia menjauh dari restaurant. Dalam perjalanan, ia melepaskan jepit rambut miliknya. Meski malam sudah hampir larut, untunglah jalanan masih terlihat ramai, namun tetap saja halte bus sudah sangat sepi.


Gadis itu duduk disana seraya menundukkan kepalanya. Hari itu seharusnya menjadi kesan pertama untuknya merayakan hari ulang tahunnya setelah sekian lama, dan dia juga berharap bisa menikmatinya walau hanya dengan Leon sekalipun, namun nyatanya pria itu tidak datang.


Kau mengingkari satu janjimu, Leon.


Lalu, sebuah mobil yang terlihat melaju berhenti begitu saja, pengemudi di dalamnya pun memundurkan mobilnya ketika melihat Rachel duduk disana. Setelah berhenti tepat di hadapannya, orang itu membuka kaca mobilnya.


“Apa yang kau lakukan disana?” Orang itu menyahut, dan itu berhasil membuat Rachel sadar dari lamunannya.


“Kak Evan?” Gumamnya.


“Cepat masuk!”


Tidak menolak, dan tanpa berpikir panjang, Rachel langsung masuk ke dalam mobil itu. Sorotan matanya terlihat tengah kecewa, dan Vero benar-benar tidak berani untuk menanyakan hal tersebut kepadanya.


Dalam perjalanan, keduanya tampak bungkam, tak ada satu patah katapun yang mereka lontarkan. Sesekali, gadis itu mengecek ponselnya, masih tak satu pun pesan yang di terima olehnya, dan itu terasa menyakitkan untuknya.


“Bagaimana kencanmu dengan Leon hari ini?” Evan bertanya dengan penuh keraguan.


“Dia tidak datang, dan aku tidak bisa menghubunginya.” Gumamnya dengan nada pelan.


Walau dengan suara yang pelan, Evan masih sanggup mendengar kalimat yang di lontarkan olehnya, dan hal itu tentu saja membuatnya terkejut. Dia bahkan sampai harus meminggirkan mobilnya ketika mendengarnya.


Sebenarnya apa yang di lakukan olehmu, Leon? Apa kau berniat untuk bermain-main saja dengannya?


Evan tampak menghela napasnya dengan kasar, ingin rasanya ia meninju wajah pria itu. Bisa-bisanya dia tidak menepati janji yang sudah di buatnya. Dia bahkan berani merusak acara yang ingin ia berikan pada Rachel, dan sekarang pria itu justru tidak datang dalam acara yang sudah di buat sendiri olehnya.


“Tidak perlu di pikirkan, kak. Bisakah kau mengantarku pulang?”


“Tidak. Aku tidak akan mengantarmu pulang sebelum kau ikut denganku. Bagaimanapun ulang tahunmu masih belum berakhir, dan mari kita rayakan ini bersama. Kau mau ‘kan?” Sahut Evan dengan senyuman hangatnya.


“Baiklah.”


Mereka tiba di salah satu tempat. Keduanya berada di taman yang terletak di bawah jembatan. Setelah memakirkan mobilnya, keduanya berjalan bersama seraya menikmati angin pada malam itu. Kemudian, mereka duduk di salah satu anak tangga yang menghadap ke arah sungai.


“Tunggu sebentar disini!” Sahut Evan yang langsung berlari meninggalkannya, dan tak membutuhkan waktu yang lama, dia pun segera kembali seraya menyerahkan satu kaleng minuman.


“Terima kasih.” Balas Rachel seraya membuka minuman tersebut. “Bagaimana ujianmu? Apa kau menyelesaikannya dengan baik?” Imbuhnya lagi.


“Aku berharap seperti itu. Bulan depan adalah upacara kelulusanku, kau mau ‘kan datang menghadiri acara itu? Setelah upacara, aku akan berangkat pada esok harinya. Selama aku pergi, kau harus menjaga dirimu baik-baik.”


“Secepat itukah? Kau pergi bukan untuk menghindar dariku bukan?” Rachel mencoba menatap pria di sisinya dengan begitu lekat.


“Sejujurnya, itu menjadi salah satu alasanku untuk pergi. Aku tidak ingin terus melukaimu, karena itu aku ingin...”


“... maafkan aku. Aku sudah benar-benar jahat padamu.”


Mendengar itu justru membuat Evan tersenyum, kemudian dia mengusap puncak kepala gadis di sisinya. Lagi-lagi, Evan kembali meninggalkannya untuk sesaat, dan dia memberikan sesuatu padanya, melihat 3 kotak yang di berikan oleh pria itu membuat Rachel menatapnya kebingungan.


“Kotak pertama untuk hadiah tahun lalu yang tidak bisa ku berikan padamu, kotak kedua untuk hadiahmu tahun ini, dan yang terakhir, aku sangat ingin memberikannya di saat usiamu menginjak 17 tahun. Aku takut tidak memiliki waktu, maka aku akan memberikannya sekarang.”


“Kau sudah menyiapkan semuanya, ya?”


“Maaf karena aku tidak menepati janjiku untuk datang ke Hamburg pada saat itu. Mengingat ulang tahunmu saat itu, ingin rasanya aku pergi kesana, namun kondisi membuatku tak bisa pergi. Aku sangat menyesalinya sampai sekarang.”


“Yang sudah terjadi di belakang tidak perlu di ingat lagi. Lalu, bolehkah aku membuka hadiah-hadiah ini?” Ungkitnya, dan Evan menganggukkan kepalanya.


Di tempat yang berbeda, napas Leon tampak tersengal ketika tiba di restaurant yang sudah di sewa olehnya. Dengan cepat dia berlari menuju lantai atas, setibanya di balkon restaurant, dia melihat para pelayan tengah membereskan semuanya, dan itu tampak menyulut emosinya.


“Apa yang kalian lakukan? Apa aku sudah menyuruh kalian untuk merapikannya?”


“Maafkan kami tuan muda. Tetapi, nona Rachel yang menyuruh kami melakukan ini, dan dia telah pergi 1 jam yang lalu.”


Dengan mengepalkan kedua tangannya, Leon bergegas meninggalkan tempat itu untuk mencari keberadaannya. Dalam perjalanan, dia tak menemukan keberadaannya, gadis itu bahkan tak menerima panggilan darinya, entah apa yang sedang di lakukannya saat ini.


Hingga akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke rumahnya, dengan harapan bahwa gadis itu telah tiba di rumah untuk beristirahat. Nihil, Rachel masih belum tiba di rumah, dan pikirannya semakin kacau di buatnya. Meski begitu, dia memutuskan untuk tetap tinggal disana untuk menunggunya.


30 menit kemudian, sebuah mobil berhenti di depan rumah sewanya, dan Leon dapat mengetahui dengan jelas siapa pemilik mobil itu. Ketika pintu mobil terbuka, dia melihat Rachel tersenyum pada pria yang di dalam sana.


Setelah memastikan Evan pergi, Rachel memutuskan untuk segera masuk ke dalam, namun siapa sangka jika Leon berada di sana. Melihat Rachel membawa kotak pada tangannya tentu saja membuat Leon tampak geram, dan gadis itu juga terlihat tak ingin menjelaskan apapun padanya.


“Apa saja yang sudah kau lakukan bersama pria itu? Bukankah aku sudah melarangmu untuk pergi dengannya? Apa kau tidak mendengarku?”


Bersambung ...