
- Tunggulah aku! Aku pasti akan datang untuk memenuhi janjiku padamu. -
___________________________________
“Seorang adik kecil yang sempat singgah di hatiku.” Tutur Evan seraya mengukir senyumannya, dan melihat hal itu membuat Joy kembali pada tempat duduknya.
“Tampaknya hubungan kalian tetap baik-baik saja setelah berpisah.” Celetuk Joy sembari menyeruput minuman miliknya, namun tatapan Evan masih tetap di depan layar ponselnya, pria itu bahkan terlihat tengah mengetik sesuatu, mungkin dia sedang membalas pesan wanita itu.
“Hubungan kami tetap berjalan baik. Lagi pula, dia menolakku ketika aku menyatakan perasaanku yang sebenarnya.” Evan terkekeh, dan langsung menyimpan ponselnya di atas meja.
“Menolakmu? Luar biasa, ternyata pria tampan, dan baik sepertimu bisa di tolak oleh seorang wanita.” Joy masih terus menggodanya seraya tersenyum tipis. “Setelah itu, apa kau tidak berniat untuk membuka hatimu lagi untuk orang lain? Tidak mungkin ‘kan kau terus menyendiri seperti ini? Apa kau ingin menjadi lajang seumur hidupmu? Hingga akhirnya tidak ada yang menginginkanmu.”Tambahnya seraya tertawa kecil.
“Kenapa harus cemas dengan hal tersebut? Jika memang terjadi, aku tinggal memintamu untuk menikah denganku, mudah bukan?” Evan menaikkan kedua alisnya berulang kali, dan mendengar hal itu tentunya membuat Joy tersedak. “Lihat! Kau bahkan sampai terharu seperti itu.” Imbuhnya lagi seraya terkekeh.
“Terharu apanya? Siapa juga yang ingin menikah denganmu? Sudah cepat bantu aku menyelesaikannya!” Tutur Joy dengan wajah yang sudah terlihat merah merona.
Berbeda dengan Evan yang tengah sibuk mentertawai wanita di hadapannya. Seorang wanita di tempat lain yang saat itu tengah membaringkan tubuhnya pun langsung menyambar ponselnya ketika mendengar notifikasi masuk.
Mendapat pesan darimu bagaikan mimpi, Rachel. Kabar baik untukku disini, bagaimana denganmu disana? Aku harap kau tidak menangis hanya karena merindukanku, kkk. Apa yang membuatmu memikirkanku? Apa kau sedang merayuku agar kembali ke sisimu? Ah ya, hubungi di nomor ini jika kau begitu merindukanku +1347-7689432.
Dengan cepat Rachel menyimpan nomor yang telah di berikan oleh Evan melalui emailnya. Dia cukup senang jika pria itu masih menggunakan email lamanya, ketika hendak menghubunginya, dia pun kembali menyimpan ponselnya.
Bayangan Leon menghampirinya begitu saja, sehingga dia pun tak bisa menghubungi Evan, setidaknya dia harus menghargai perasaan pria itu, meski dia sendiri tidak tahu bagaimana perasaan Leon terhadap dirinya saat ini. Pria itu bahkan tidak menghubunginya sama sekali.
•••
Ujian telah berlangsung sejak beberapa hari yang lalu, dan sampai hari ujian tiba, baik Leon maupun Rachel masih tak saling menghubungi. Rachel yang enggan menghubunginya karena tidak ingin mengganggunya, walau terkadang ada rasa gundah di hatinya, sedangkan Leon tak menghubunginya karena dia takut jika Rachel masih marah padanya.
Dalam kelas saat itu, Leon tampak tenang ketika sedang mengerjakannya. Denis yang kebetulan mendapat ruangan yang sama dengannya pun sesekali meliriknya. Melihat raut wajah Leon saat ini tidak seperti sebelumnya, mendengar kabar dari Liana bahwa temannya itu lama tak berhubungan dengan Rachel membuatnya tak percaya.
Sesekali pandangannya teralih ke arah Jasmine yang saat itu duduk tepat di depan Leon. Ada sedikit rasa khawatir yang melanda dalam diri Denis saat ini. Meski dirinya hanya sekedar berteman dengan Rachel, tetap saja dia tidak bisa membiarkan wanita sebaik Rachel di permainkan oleh temannya sendiri.
“Aku ingin nona Rachel yang melayani kami!” Sahut salah seorang pelanggan.
“Tetapi, dia juga sedang sibuk. Sementara, biar aku yang handle, dan aku akan memintanya untuk mengantar pesanan kalian.”
“Jika dia tidak ingin melayani kami, maka kami akan keluar. Lebih baik mencari tempat lain.” Tuturnya lagi yang hendak pergi.
“Selamat sore, ada yang ingin kalian pesan?” Rachel yang mendengar kegaduhan pun segera mendatangi mereka ketika selesai menghidangkan pesanan milik pelanggan lain. “Biar aku saja yang tangani.” Rachel berbisik pada rekannya dengan senyuman hangatnya.
“Untunglah kau datang, aku serahkan padamu.” Timpalnya seraya menepuk bahu wanita itu, kemudian dia pun bergegas meninggalkan meja tersebut untuk melayani pelanggan lainnya.
Kedua pelanggan disana merasa senang karena akhirnya Rachel datang. Kejadian seperti itu bukanlah pertama kalinya bagi mereka yang bekerja di sana, meski begitu karyawan disana tidak pernah iri pada Rachel, mereka justru cukup senang, karena semenjak kehadirannya di restaurant tersebut, keadaan restaurant justru semakin ramai dengan kedatangan pelanggan.
Jam terus berlalu, dan Leon yang sudah siap pulang itu pun tampak di tahan oleh seseorang. Denis yang berada di belakang mereka pun ikut menghentikan langkahnya, dan memperhatikan mereka. Melihat Leon tersenyum pada wanita di belakangnya membuat Denis sedikit merasa kesal.
Sejak kapan dia bisa mudah membagikan senyuman seperti itu pada wanita lain selain Rachel? Aku yang sudah berteman lama dengannya saja tidak pernah di berikan senyuman hangat miliknya itu.
Denis terus merutukinya, dan ingin rasanya ia membawa temannya itu pergi dari wanita yang berada di hadapan Leon saat ini.
“Jadi, bisakah kita pergi untuk makan malam? Setelah ini kita akan libur selama 3 bulan bukan? Bukankah sebaiknya kita perlu bersenang-senang?” Wanita itu menyahut dengan tersenyum penuh harap.
“Maafkan aku. Tetapi aku harus menemui seseorang yang penting untukku. Selamat berlibur, Jasmine.” Sahut Leon yang langsung berjalan meninggalkannya.
Ck. Aku pikir Leon akan menerima tawarannya. Lihat saja apa yang akan ku lakukan jika kau sampai menerima ajakannya itu.
Denis tampak puas melihat jawaban temannya itu. “Leon, tunggu aku!” Teriaknya yang langsung berlari menghampirinya, dia bahkan merangkul bahu sahabatnya ketika tiba di sisinya.
Bersambung ...