Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 05



- Bahkan kau enggan untuk mengingat satu dari sekian banyak hal. Apa semua itu hanya bualan semata? –


••••••••••••


Perlakuan itu membuat Rachel menghela napasnya dengan berat. Ia bahkan mencengkram erat sendok yang berada dalam genggamannya. Kemudian, ia membantingnya secara tiba-tiba, setelah itu ia pun bangun dari posisinya seraya menatap tajam orang yang berada di hadapannya.


“Sebenarnya apa masalahmu denganku? Tempat ini begitu luas, dan bukankah tuan muda sepertimu tidak sepantasnya duduk di tempat seperti ini?”


“Bukan kau yang memutuskan pantas atau tidaknya! Soal itu hanya aku yang bisa menentukannya! Jika aku bilang ingin disini, maka kau harus pergi, gadis beasiswa!”


“Pergi? Sepertinya tadi aku sempat mendengar seseorang melontarkan ‘aku yang menempatinya lebih dulu. Jadi, sebaiknya kaulah yang menyingkir.’ Bukankah itu seharusnya kaulah yang pergi?"


“Astaga lihat gadis itu! Dia bahkan berani melawan tuan Leon. Sungguh gadis tidak tahu diri.” Bisik seseorang seraya menatap ke arah keributan yang terjadi.


“Kau benar! Dia hanya seorang siswa beasiswa, tidak sepantasnya dia berkata seperti itu pada tuan muda Leon. Jika aku jadi dirinya, aku lebih memilih untuk mundur, dari pada aku harus keluar dengan cara yang tidak terhormat!”


“Ha Ha Ha. Kau benar. Sungguh memalukan! Setelah ini, dia pasti akan di benci oleh seluruh siswa.”


Bisikkan-bisikkan itu dapat terdengar di telinga Rachel. Ia semakin mengepalkan kedua tangannya, dan mencoba untuk menahan emosinya agar tidak meledak-ledak. Pandangannya tertunduk ketika mendengar celaan-celaan itu, dan pria di hadapannya hanya tersenyum licik menatapnya.


“Dengarkan aku tuan muda Leon, dan juga kalian semua! Aku memang seorang gadis yang mendapatkan sebuah beasiswa disini. Tanpa itu, aku mungkin tidak akan bisa masuk ke dalam sini, berbaur dengan kalian orang-orang yang memiliki latar belakang yang cukup memumpuni. Aku...”


“... Rachel, sebaiknya kita pergi saja!” Liana memegangi bahu temannya, memintanya untuk tenang. Hingga akhirnya Rachel pun mendengar ajakannya. Sebelum pergi meninggalkan tempat itu, matanya melirik ke salah satu bangku yang ada di dekat jendela, menatapi seseorang yang bahkan tak menghiraukan kejadian tersebut.


Sungguhkah kau tidak mengenaliku? Atau kau hanya berpura-pura untuk tidak mengenalku? Apa dengan mengenalku akan merusak reputasimu?


Rachel terus membatin ketika menatap orang di ujung sana. Yah, ia melihat Evan disana, namun pria itu sama sekali tidak membantunya. Pria itu seakan berubah, dirinya bahkan sudah tak bisa merasakan kehangatan lagi pada pria itu, dia sungguh melupakan semua janjinya. Janji yang telah ia ucapkan sebelum pergi, tidak satu pun ia mengingatnya.


Saat ini, baik Rachel, dan Liana sudah berada di halaman belakang sekolah. Tatapan mata Rachel kosong, semua perkataan serta bisikkan mereka masih membekas di pikirannya. Air mata yang sejak tadi ia tahan pun akhirnya menetes, dan Liana lekas memeluknya saat menyadari hal tersebut.


“Hey, Rachel yang ku kenal adalah seorang gadis yang kuat! Hanya dengan ucapan mereka, jangan sampai membuat tekadmu melemah.” Liana mengusap air mata temannya, dan mencoba memberikan senyum terbaiknya.


“Mereka hanya memikirkan latar belakang saja. Contohnya dirimu, bukankah kau juga masuk karena beasiswa? Tapi, mereka tidak pernah mengusikmu, dan mereka hanya memojokkanku saja. Apa salahnya jika seorang gadis miskin masuk ke tempat ini?”


Semua percakapan mereka terdengar oleh seseorang, dan mendengar hal tersebut sungguhlah memilukan. Gadis ini tidak salah, dia hanya ingin belajar, dan demi ayahnya dia mampu melewati semua rintangan untuk memasuk sekolah itu. Namun, semua penghuni sekolah tidak menerimanya dengan baik.


Liana berniat untuk membelikan air terlebih dulu untuknya, dan ia pun meninggalkan Rachel sejenak. Hingga tak lama setelah kepergiannya, seseorang duduk di sisinya. Orang itu menyilangkan salah satu kakinya dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya serta mata yang tetap tertuju ke depan.


“Kenapa kau bisa masuk ke sekolah ini, Rachel? Kenapa harus sekolah ini?” Sahutnya yang masih tidak merubah posisinya. Gerak tangan Rachel yang awalnya tengah mengusap sisa air matanya pun terhenti ketika mendengar ucapan itu.


“Kenapa? Apa kak Evan juga ingin menyalahkanku?” Rachel membalasnya.


“Sekolah ini tidak pantas untukmu! Lingkungan sekolah serta orang-orang disini juga tidak pantas untukmu!” Tuturnya yang masih menatap ke depan.


“Lalu, siapa yang pantas untuk itu? Apa hanya orang seperti kalian saja yang pantas untuk mendapat pendidikan seperti di sekolah ini? Apa hanya orang dari keluarga yang terpandang saja yang bisa bersekolah di tempat seperti ini?”


“Itu terserah pandanganmu. Tapi satu hal yang harus kau ingat! Ketika di sekolah, anggplah kita tidak saling mengenal satu sama lain. Ini semua demi kebaikanmu!” Sambungnya lagi, dan Rachel segera menolehkan pandangannya ketika mendengar penuturan tersebut.


“Demi kebaikanku atau untuk kebaikanmu? Memang kenapa jika aku mengatakan pada mereka bahwa aku mengenalmu, kak? Apa kau merasa malu mengakui hal tersebut? Apa kau juga berpikiran seperti mereka? Sungguhkah begitu? Apa karena aku ini gadis miskin yang yatim piatu sehingga kau menjauhiku? Jika benar begitu, maka aku akan mencoba melakukan yang kau inginkan.”


Lagi-lagi air mata kembali membasahi pipinya. Satu-satunya orang yang bisa ia harapkan menjadi pelindung sudah benar-benar lenyap. Orang yang selalu ia jadikan sebagai sandaran sudah hilang begitu saja. Sungguh hal yang mengecewakan saat menyadari hal tersebut.


Melihat Rachel pergi membuat Evan menolehkan pandangannya. Tidak, bukan seperti itu yang di maksudkan olehnya. Dirinya mendesah ketika melihatnya pergi. Namun, dalam sekejap ia tak mempermasalahkannya, dan biarlah jika memang gadis itu berpikir demikian tentangnya.


“Sebenarnya apa hubungannya dengan Evan? Apa ketua osis itu mengenalnya?”


Bersambung ...