Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 34



- Jangan menyembunyikan apapun dariku! Setitik saja kau berbohong, kau akan menyesalinya suatu saat nanti. –


______________________________


“Aku rasa, sejak awal memang tidak seharusnya aku memintamu untuk melakukannya denganku. Jika begitu lupakan saja apa yang ku katakan padamu, maafkan keegoisanku.” Liana bangun dari posisinya, ketika ia hendak melangkahkan kakinya, dengan cepat Denis menahan tangannya.


“Kenapa kau menyimpulkan sesuatunya dengan sembarangan, Liana? Aku hanya bertanya, jadi kau tersinggung dengan pertanyaanku itu?” Tuturnya kebingungan.


“Pertanyaanmu seolah...”


“... baiklah maafkan aku. Aku hanya penasaran saja. Tetapi, jika kau tidak ingin menjawabnya, kau tidak perlu memikirkannya, oke?”


“Aku tidak tahu kapan tepatnya aku menyukaimu. Hanya saja, ketika kau memberikan perhatian lebih pada Rachel, ketika kau tersenyum padanya, ketika kau lebih memilih banyak berbicara bersama dengannya, aku tidak begitu menyukainya, aku merasa cemburu dengan semua itu, aku...”


“... Ha Ha Ha. Tidak ku sangka ternyata aku memiliki penggemar sejak lama.” Denis terkekeh seraya menarik gadis itu ke dalam pelukannya.


- 1 bulan kemudian -


Pagi itu merupakan semester awal di lakukan di sekolah, dan tampaknya para siswa benar-benar serius menjawab setiap pertanyaan yang tertera pada lembar soal. Dengan hati-hati mereka menjawab setiap soalnya, dan Rachel merasa bahwa hari-harinya sedikit lebih tenang.


Gadis itu tak lagi merasakan tekanan dari para siswa yang berada disana, dengan begitu ia bisa dengan leluasa melakukan banyak hal tanpa harus takut di cela oleh mereka, dan yah semua itu berkat Leon, berkat pria itu dia bisa merasakan ketenangan.


Waktu sudah hampir berakhir, dan Rachel segera meninggalkan mejanya serta meninggalkan lembaran soal yang sudah selesai dia kerjakan. Kemudian, hal itu di susul oleh Leon, dengan cepat dia mencari keberadaan gadisnya. Setelah berada di luar, dia benar-benar tidak menemukannya, dan dengan cepat ia mencari keberadaannya.


“Bisa bicara denganmu sebentar?” Sahut seseorang yang tak sengaja bertemu dengan Rachel. Menanggapi itu membuat Rachel menganggukkan kepalanya, ketika hendak mengikuti langkahnya, Leon datang, dan menahannya dengan cara memegang tangan Rachel.


“Kau mau kemana, Rachel?” Sambar Leon dengan menatapnya lekat. “Dan kemana kau mau membawanya? Bukankah hubungan kalian sudah benar-benar berakhir, Evan?” Imbuhnya lagi dengan nada yang terdengar begitu dingin, dia bahkan memberikan tatapan yang begitu tajam pada pria di hadapannya.


“Aku tidak pernah membuat hubungan apapun dengannya. Jadi, kenapa kau bisa menyebut bahwa hubungan kami berakhir? Membicarakan soal hubungan, lalu apa hubungan kau dengannya? Aku rasa kalian juga tidak memiliki hubungan apapun. Lagi pula, Rachel bersedia untuk ikut bersamaku!” Evan tak kalah menatapnya, dan Rachel benar-benar bingung berada di antara mereka.


“Kenapa kau sangat percaya diri ketika mengatakan bahwa kami tidak memiliki hubungan apapun? Aku rasa, aku harus memberitahumu satu hal. Aku menyukainya, dan aku sudah mengatakan hal itu di hari yang sama saat kau mengutarakannya. Apa kau tidak penasaran dengan jawaban yang dia berikan padaku?” Ucap Leon yang terus memanasi keadaan di sana. “Jawabannya adalah...”


“... cukup Leon!” Rachel menyela ucapan pria di sisinya, dia juga menghempaskan tangan Leon saat itu. “Ingatlah satu hal! Aku bahkan belum memberikan jawaban atas pernyataanmu itu!” Tambahnya lagi, dan mendengar itu membuat Evan tersenyum sinis ke arah Leon.


Melihatnya pergi membuat Rachel menatapnya. Dia ingin mengejarnya, namun Evan menahan tangannya saat itu. Ada hal yang harus benar-benar di sampaikan olehnya kali ini, namun mengingat sikap Leon yang pergi begitu saja membuat Rachel merasa khawatir.


“Maaf kak, kita bicara lain kali saja, ya.” Sahut Rachel yang mencoba menyusul Leon.


Tanpa mereka sadari, seseorang tengah memperhatikannya. Setelah itu, dia membalikkan tubuhnya untuk menemui orang lain. Mendengar pernyataan Leon sungguh membuat orang itu terkejut, dan dia harus menyampaikan kabar ini secepat mungkin.


Setibanya di ruang kelas, ketika salah seorang baru saja keluar, dengan cepat orang itu menariknya. Kedua matanya meluas, kemudian dia membisikkan sesuatu pada telinga orang yang sempat di tariknya. Hingga mereka pun terkejut secara bersamaan.


“Apa kau tidak salah dengar, Liana?” Sahut orang itu penasaran.


“Tentu saja tidak. Namun, Rachel belum memberikan jawaban apapun pada Leon. Tidak ku sangka jika pria itu menyukai temanku, tidak heran jika dia melakukan banyak hal untuknya. Benar ‘kan, Denis?” Timpal Liana yang di balas anggukan oleh Denis.


Kau sungguh pandai menyembunyikan perasaanmu, Leon.


Denis sedikit terkekeh mendengar kabar tersebut. Walau bagaimanapun, dia juga ikut merasa senang jika akhirnya pria itu mau terbuka dengan perasaannya. Selain itu, dia juga berharap jika Rachel tidak akan membuatnya kecewa, karena tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Leon jika hal itu terjadi.


Kali ini Rachel tampak mencari keberadaan Leon, dan entah kenapa langkah kakinya membawa dirinya untuk menuju halaman belakang sekolah. Seakan sudah memiliki sebuah ikatan, benar saja jika Leon tengah berada disana.


Sebuah senyum terukir di bibir Rachel, kemudian dia pun melangkah untuk mendekat ke arahnya. Setelah itu, ia segera duduk di sisi pria itu tanpa mengatakan sepatah kata pun, sama halnya dengan Leon, dia juga tidak berkata apa-apa saat menyadari kedatangannya.


Leon bukan hanya bungkam. Ketika mengetahui Rachel tengah duduk di sisinya, dia justru menjauhinya dengan berjalan meninggalkan gadis itu seorang diri. Leon tampak benar-benar marah kali ini, dan Rachel hanya bisa menghela napasnya melihatnya seperti sekarang.


Bel berbunyi, dan ujian pelajaran terakhir di hari itu pun akan segera di mulai. Akhirnya, Rachel memutuskan untuk kembali ke ruang kelasnya, ternyata Leon pun sudah berada disana. Liana serta Denis memperhatikan keduanya dengan begitu lekat, dan rasanya apa yang di dengarnya memang benar terjadi.


Ketika lembaran mulai di bagikan, para siswa segera mengerjakannya dengan begitu tenang. meski terlihat tenang, berbeda dengan Leon yang pikirannya terasa begitu gusar. Dia terus merutuki dirinya sejak tadi, dia benar-benar kesal dengan kejadian sebelumnya, kejadian ketika dia tengah beradu argumen dengan Evan.


Bisa-bisanya dia mengatakan hal tersebut. Kenapa dia tidak diam saja sih? Kenapa dia tidak mendukungku untuk memanasinya. Aahh sungguh menyebalkan!


Bersambung ...