Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 28



- Semanis, dan seindah apapun yang dilakukan di masa lalu. Saat sebuah perpisahan sudah menghampiri, apa yang terjadi di belakang hanya akan menjadi sebuah ‘kenangan’. –


___________________________


“Jangan melakukan hal bodoh, kak! Jika kau ingin melakukannya sekalipun, lalu bagaimana caramu untuk mengetahui apa kau mendapatkan keinginanmu kembali atau tidak?” Tutur Rachel tanpa membalikkan tubuhnya.


Setelah mengatakan semua itu, Rachel kembali melanjutkan perjalanannya. Sedangkan Evan hanya bisa menghela napasnya ketika mendengar apa yang telah di lontarkan oleh gadis itu. Dia sudah sangat merasa frustasi menghadapi hal tersebut, entah harus bagaimana lagi agar dirinya bisa bicara dengannya.


Saat gadis itu sudah tidak terlihat, Evan memutuskan untuk pergi dari tempatnya, dan dia akan memikirkan cara lain demi mendapatkan keinginannya tersebut. Tidak peduli dengan cara apapun, selama dia bisa mengembalikan kepercayaan Rachel, Evan akan melakukannya.


Rachel yang sudah berada di depan rumahnya terkejut ketika melihat sebuah paper bag tergantung di pintunya. Matanya meluas, dan langkahnya mulai mendekati pintu untuk melihat apa isi paper bag tersebut. Dengan ragu dia mengambilnya, saat melihat isinya dia begitu terkejut.


“S-siapa yang sudah meletakkan seragam-seragam ini? Ini bahkan masih baru, dan kenapa banyak sekali?” Rachel terlihat kebingungan menatapi isi paper bag itu.


Melihat jalanan begitu sepi, Rachel membawanya masuk. Ingin rasanya ia mengenakan seragam-seragam tersebut, karena setelah melihatnya, ukurannya pun sesuai dengan miliknya. Namun, dia tidak bisa melakukan hal itu, itu bukanlah miliknya, dan dia berpikiran bahwa ada seseorang yang tidak sengaja menyimpannya.


Ketika hendak merapikannya kembali, terdapat secarik kertas di dalamnya. Lalu, Rachel mengambil kertas tersebut, dan membuka lipatannya. Sebelum membacanya, Rachel meletakkan seragam yang semula berada di pangkuannya menjadi di atas kasur lantai miliknya.


“Seragam untukmu, Rachel! Gunakanlah, dan kembalilah sekolah esok hari!”


“Ini untukku? Tetapi, sebenarnya siapa yang sudah mengirimkannya? Aku tidak tahu siapa yang dirimu, namun aku sangat berterima kasih padamu.” Gumam Rachel.


Malam itu, Leon tampak tengah duduk di salah satu cafe, dia seperti tengah menunggu seseorang disana. Wajahnya yang tenang, dan dingin dengan kedua mata yang di biarkan terpejam benar-benar membuat para gadis yang berada di sana memandanginya, ingin rasanya mereka mendekatinya, namun tidak ada keberanian sedikitpun.


Merasakan ada seseorang yang berdiri di hadapannya, Leon membuka kedua matanya, dan orang yang di tunggu pun telah datang. Kemudian, dia membenarkan posisi duduknya, dan tak lupa juga untuk menyuruh orang di hadapannya duduk, dia juga memperbolehkan orang itu untuk memesan sesuatu lebih dulu sebelum masuk ke dalam topik pembicaraan.


“Tidak perlu berbasa-basi! Apa maksudmu mengirimkan foto itu padaku?” Ucapnya geram, dan Leon pun sedikit menyeringai mendengar penuturan orang di hadapannya.


“Kenapa tidak mengecilkan suaramu? Apa kau ingin orang-orang mendengar perbuatan kotormu, Elena?” Leon memajukan sedikit tubuhnya, dan berbicara dengan nada yang pelan, namun bola matanya berputar seakan mengingatkan bahwa banyak tamu yang tengah memperhatikan keduanya. “Siapa mereka?” Timpalnya dengan tatapan yang mengintrogasi.


“Apa maumu?”


“Ha Ha Ha. Melihat reaksimu yang begitu panik, benar-benar membuatku memiliki kesimpulan sendiri, lho.” Lagi-lagi Leon menyeringai, dan sedikit menyeruput segelas espresso miliknya.


“A-aku tidak mengenali mereka, aku tidak tahu siapa mereka, dan aku tidak mengerti apa maksud ucapanmu itu.” Elena terus mengelak, namun Leon benar-benar begitu tenang menanggapinya.


“Berhenti bermain-main denganku, Elena! Jika kau tidak mau berkata jujur, jangan salahkan aku jika aku memberitahu orang tuamu beserta keluarga tunanganmu. Mungkin kau bisa menerkanya apa yang akan terjadi, kau pasti juga sudah mengetahui bagaimana Evan tak menyukaimu? Dengan adanya kejadian ini, bukankah Evan akan menggunakan kesempatan itu untuk memutuskan hubungannya denganmu?"


Ucapan yang di lontarkan oleh Leon sangatlah benar. Elena sendiri juga memang mengetahui bagaimana perasaan Evan padanya, terlebih ketika mendengar pria itu mengatakan bahwa dia menyukai Rachel. Dia benar-benar tidak ingin melepaskan Evan, dan membiarkan Rachel bahagia bersama dengannya.


“Itu yang akan terjadi jika aku tidak jujur. Lalu, apa yang akan kau lakukan jika aku mengatakan yang sebenarnya?”


“Mudah saja! Aku akan merahasiakan hal ini, namun kau harus memberitahu aku apa hubungan Evan dengan Rachel. Bukankah kau mengetahuinya?"


“Mereka memang benar orangku. Aku melakukannya karena aku tidak menyukai gadis miskin itu, dia selalu menempel pada Evan. Setelah aku telusuri apa hubungan mereka, aku berkesimpulan bahwa gadis miskin itu sengaja datang ke sekolah agar bisa terus bersama dengan tunanganku.”


“Jadi, apa yang sudah kau ketahui tentang mereka?”


“Mereka saling mengenal sejak kecil, keduanya tumbuh besar bersama. Mereka berasal dari kota Hamburg, namun orang tua Evan harus datang kemari, karena ingin putranya memasuki Saphire Ocean High School. Hanya itu yang aku ketahui tentang mereka.”


“Baiklah. Setelah dari sini, temui aku di jalan araya, disana aku akan menyerahkan ketiga orang itu padamu, dan aku ingin kau yang mengurus mereka!” Sahut Leon yang langsung berjalan meninggalkan cafe itu.


•••


Hari itu, Rachel sudah kembali ke sekolah, dan entah kenapa, sejak pagi dia merasa bahwa sekolah sedikit tenang. Meski masih banyak yang memberikan tatapan yang begitu tajam ke arahnya, namun setidaknya mereka tidak bicara yang macam-macam.


Kemudian, langkahnya terhenti ketika seseorang menghadang jalannya. Ingin rasanya ia menyapa orang tersebut, namun dia takut jika orang itu akan lebih menjauh darinya. Maka dari itu Rachel memutuskan untuk kembali melangkah ke ruang kelasnya dengan membawa buku yang sebelumnya dia pinjam dari perpusatakaan sekolah.


“Apa kau masih marah padaku?” Gumamnya, dan Rachel segera membalikkan tubuhnya seraya menatap orang di hadapannya. “Maafkan aku. Aku memang egois, dan sikapku beberapa waktu lalu pasti membuatmu bingung, dan aku juga minta maaf soal kejadian di gang saat itu. Aku sangat takut, pikiranku seakan kosong, lalu...”


“... aku sudah melupakan hal itu, Liana.” Rachel tersenyum ke arahnya, kemudian Liana langsung memeluknya.


“Terima kasih, Rachel.”


“Tetapi, bisakah kau beritahu aku apa yang terjadi padamu saat itu?”


“I-itu, itu karena aku cemburu padamu. Denis selalu menghampirimu, dan...”


“... kau menyukainya?” Bisik Rachel, dan Liana mengangguk pelan. Lagi-lagi sebuah senyuman terukir di bibir Rachel, dia juga mengatakan pada Liana bahwa Liana tak perlu mencemaskan apapun, karena dirinya juga tidak memiliki hubungan apapun dengan Denis.


“Aku tahu itu, Rachel. Karena itu aku sangat menyesali sikap kekanak-kanakkanku itu.”


Keduanya terus berbincang satu sama lain, sesekali Rachel menggodanya, dan itu membuat Liana sedikit merasa malu. Tidak jadi pergi ke kelas, Liana mengajak Rachel menuju kantin, dan disana juga terlihat Denis tengah menikmati makanannya.


Denis yang tengah duduk seorang diri membuat Rachel menyuruh Liana untuk menghampirinya, setidaknya untuk sekedar berbasa-basi. Liana mendengarkan saran dari temannya, dan berjalan mendekat ke arah pria itu.


Ketika Liana pergi dari sisinya, Rachel meninggalkan kantin, hingga seseorang menariknya, dan membawanya menuju atap sekolah. Mencoba melepaskan diri, namun genggaman itu terasa begitu erat, dan entah apa yang di inginkan oleh orang itu kepadanya.


“Maaf karena membawamu dengan paksa, aku sudah kehabisan akal harus dengan apalagi agar bisa bicara denganmu.” Tidak ingin mempedulikan ucapannya, Rachel mencoba untuk pergi dari tempat itu, namun lagi-lagi orang itu menahannya, dia bahkan berani menciumnya. Merasa tidak pantas, Rachel mendorongnya, dan sebuah tamparan pun mendarat di pipi orang itu.


“Apa yang kau lakukan?” Tutur Rachel dengan nada kesalnya.


Bersambung ...