Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 55



- Tidak ada orang yang tidak memiliki masa lalu, namun jadikanlah masa lalumu itu sebagai pijakanmu untuk meraih masa depan yang lebih baik lagi. -


_____________________________


“Berhenti menggigiti penamu, Joy!” Sambarnya yang langsung menarik pena dari genggaman gadis di hadapannya.


“Aawww.” Joy tampak meringis ketika pena itu melukai sudut bibirnya.


Melihat goresan kecil pada sudut bibirnya membuat Evan merasa khawatir, kemudian dia meminta sedikit es batu pada salah satu pelayan untuk mengompres lukanya agar tidak menjadi parah. Pria itu membantunya, dan meletakkan es batu itu ketika pelayan telah memberikannya.


Joy sedikit terlonjak ketika bongkahan es itu menyentuh kulitnya, namun Evan menanggapinya dengan sedikit terkekeh. Wajar saja jika Joy bersikap seperti itu, sesuatu yang dingin menyentuhnya secara tiba-tiba.


•••


Hari itu, Leon menemani Rachel yang saat itu memang tidak di izinkan untuk masuk sekolah terlebih dulu. Mengingat kondisinya yang masih belum benar-benar sembuh membuat Leon melarangnya pergi untuk sekolah maupun untuk melakukan pekerjaan paruh waktunya.


Berani melarang, Leon juga memberitahu pada manager tempat Rachel bekerja bahwa dirinya akan libur untuk beberapa hari. Melihat siapa yang datang untuk meminta izin, tentu saja mereka tak mempermasalahkannya, dan dengan senang hati memberikan izin untuk Rachel.


Bosan harus terus menerus makan sesuatu yang terus di makan selama sakit, Rachel sedikit mendesah, dia ingin makan seperti biasanya, namun Leon masih tidak mengizinkan hal tersebut sehingga pria itu terus menerus membawakan sup untuknya.


“Sore nanti aku berjanji akan membelikan ice cream, bagaimana?”


“Tapi, tenggorokanku sudah mulai membaik, dan aku pun sudah tidak merasa sakit. Setidaknya biarkan aku pergi ke sekolah, ya?” Rachel mencoba membujuknya, namun Leon tak menggubris ucapannya, dan terus menyodorkan satu sendok sup ke mulut gadis di hadapannya.


“Gadis pintar.” Serunya ketika berhasil memasukkan satu sendok makanan ke mulut Rachel.


“Kau tidak ke sekolah selama 4 hari, dan terus di sini. Kau tidak boleh seperti itu.”


“Kau seperti ini karena memakan roti itu, tentu saja aku harus bertanggung jawab, dan caranya dengan apa yang ku lakukan saat ini, yaitu menjagamu serta merawatmu. Jadi, berhenti protes, mengerti?”


“Tidak mengerti. Sungguh semua itu bukanlah karena dirimu, Leon. Apa kau tidak ingat bahwa akulah yang memberikannya padamu? Lagi pula kau ataupun aku tidak tahu bahwa nyatanya aku memiliki alergi pada tuna.”


“Tidak dengar tidak dengar.” Tutur Leon seraya menutup kedua telinganya.


Sifat kekanak-kanakkan Leon terkadang membuat Rachel menghela napasnya. Dia hanya tidak menyangka jika banyak kejutan yang dia terima dari balik sikap dinginnya selama ini. Sampai saat ini pun Rachel masih merasa bingung kenapa Leon memiliki sikap yang sangat dingin, terutama dengan para gadis.


Dia memang tahu bahwa hubungan Leon dengan ibunya kurang baik, tetapi apakah benar hanya karena itulah Leon memiliki sifat seperti itu. Leon bahkan tak memandang siapapun untuk menghukum seseorang, meski dia sering memberi hukuman pada orang, tetapi dia tak sembarang melakukannya, tentu dia pun menyelidikinya terlebih dulu.


Mendengar rengekkannya membuat Denis menghelas napasnya. Sebenarnya dia enggan untuk pergi, karena dia sudah yakin jika Leon pasti berada di sana, dan sudah pasti bahwa pria itu tak menyukai kehadirannya yang tiba-tiba, namun dia juga tidak bisa menolak permintaan Liana.


Dengan membeli beberapa buah-buahan serta makanan kesukaan Rachel selama perjalanan, Liana yang melihat permen gulali di toko seberang pun menatap Denis dengan mengerjapkan kedua matanya berulang kali.


“Apa? Kenapa kau melakukan itu?” Tanya Denis bingung.


“Aku ingin itu.” Dengan cepat Liana menunjuk permen gulali, dan Denis menepuk dahinya sendiri. Jika Rachel banyak di kejutkan oleh sikap Leon yang di luar dugaan, begitu juga dengan Denis. Dia sangatlah terkejut ternyata Liana memiliki sikap yang ke kanak-kanakkan sama halnya dengan Leon.


“Kau sudah besar, dan masih menyukai permen gulali?”


“Memang kenapa? Apa ketika sudah besar tidak boleh menyukainya? Jika tidak ingin membelikannya katakan saja. Aku bisa jalan sendiri, dan membelinya.” Ucapnya yang langsung menyebrangi jalan.


Melihat adanya motor yang melaju dengan kecepatan tinggi, Denis segera menarik lengan Liana hingga gadis itu jatuh dalam pelukannya. Liana yang terkejut pun menatap tajam ke arah pria itu, bagaimana pun itu sangatlah tiba-tiba.


“Kenapa kau menarikku begitu saja?” Rutuknya.


“Bodoh! Jika aku tidak menarikmu, kau akan celaka karena pengguna sepeda motor tadi.” Timpal Denis yang mulai sedikit frustasi ketika menanggapi sikap gadis di hadapannya.


“Terima kasih.” Liana membalas dengan menundukkan pandangannya, dan melihat itu justru membuat Denis luluh, hingga akhirnya dia membawa Liana ke dalam pelukannya. Lalu keduanya berjalan untuk membeli permen gulali yang di inginkan oleh Liana.


25 menit kemudian Liana tiba di rumah Rachel. Kedatangannya membuat Leon terkejut, dan Denis mendapatkan tatapan yang begitu tajam dari temannya itu. Enggan menanggapinya, mereka lekas masuk ketika Rachel telah memberikan izin.


Setibanya di dalam, Liana kembali memeluk Rachel dengan erat. Dia benar-benar merindukannya, hingga akhirnya Leon pun menarik lengan Liana agar berhenti memeluk Rachel terus menerus. Keduanya kembali berdebat, dan melihat itu membuat Rachel memundurkan langkahnya.


“Mereka selalu bertengkar setiap kali bertemu.” Gerutu Denis ketika melihat Liana, dan Leon beradu argumen.


“Tidak perlu pedulikan mereka. Lebih baik bantu aku menyiapkan makanan yang di bawa oleh kalian.” Rachel sedikit terkekeh, namun akhirnya Denis pun memilih ikut bersama dengan Rachel.


Mencuci beberapa buah serta menghidangkan makanan kecil di piring, Rachel, dan Denis tampak kompak menyiapkan semuanya. Ketika sudah siap, mereka kembali, dan pertengkaran antara Leon serta Liana pun masih berlangsung.


“Awas saja jika kau masih berani memeluk Rachel seperti tadi.” Sahut Leon yang masih tidak terima.


“Memang kenapa? Aku lebih lama kenal dengan Rachel di banding denganmu, karena itu kau tidak berhak memerintahku seperti itu, kau paham?” Timpal Liana yang tak mau kalah.


Bersambung ...