Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 26



- Saat seluruh makhluk yang hidup mencoba melukaimu. Maka, akulah satu-satunya orang yang akan melindungimu –


________________________


Saat berada di pertigaan jalan, Rachel begitu terkejut saat seseorang telah menghadang jalannya. Semula yang wajahnya tertunduk membuat gadis itu menengadahkan kepalanya, mengetahui siapa yang berdiri di hadapannya, gadis itu kembali melanjutkan langkahnya, namun orang itu tidak membiarkannya untuk pergi.


“Kenapa kau selalu menghindariku, Rachel?” Tutur orang itu, dan Rachel tak membalikkan tubuhnya sama sekali. “Apa dalam pandanganmu, aku ini adalah orang yang benar-benar jahat, dan tidak memiliki hati nurani?” Imbuhnya lagi.


“Tuan muda Leon. Aku sudah sering kali mengatakannya padamu bukan? Kau, dan aku tidak memiliki hubungan yang dekat, jadi kenapa kau bisa berkata bahwa aku selalu menghindarimu? Kata-kata itu sangat tidak cocok walau hanya sebagai perumpamaan sekalipun.”


“Tatap aku ketika sedang bicara!” Leon menarik paksa pergelangan tangan Rachel agar gadis itu bisa berbalik untuk menghadapnya. “Apa hanya orang-orang yang memiliki hubungan dekat saja yang boleh...”


“... sebenarnya apa maumu? Aku mohon berhentilah menggangguku! Kau begitu menginginkan aku pergi dari sekolah bukan? Dan itu sudah benar-benar terwujud, dengan begitu kau tidak perlu repot lagi mencari akal untuk mengerjaiku.” Rachel menyela ucapan pria itu seraya menghempaskan genggaman tangan pria itu.


“Apa maksudmu? Sejak kapan aku berniat untuk mengerjaimu?”


“Kau tidak perlu menutupinya dariku lagi, Leon. Bermula seragamku yang hilang dari loker, kemudian menyebarkan fotoku di papan pengumuman ketika tengah bekerja, dan terakhir kau menyuruh orang asing untuk...” Tak ingin mengingatnya, Rachel berjongkok disana seraya menutupi wajahnya.


Apa seburuk itukah pandanganmu terhadapku?


“Kalian sangat menginginkanku pergi dari sekolah. Kenapa? Memang apa yang sudah aku perbuat pada kalian sehingga kalian membenciku? Apa aku pernah mengusik kalian? Atau karena aku ini gadis miskin? Apa seorang gadis miskin tidak boleh mendambakan sekolah yang layak?” Isaknya.


Tangisannya membuat Leon ingin memeluknya, namun ia tidak bisa melakukan hal seperti itu. Jika saja dia melakukannya, gadis itu pasti akan berpikir yang tidak-tidak mengenai dirinya. Namun, ada kejadian yang memang tidak ketahui olehnya, yaitu soal foto Rachel yang terpasang di papan pengumuman.


Leon mengepalkan kedua tangannya, dan berjanji akan membereskan hal yang terlewat itu. Kali ini, dia tidak akan membiarkan siapapun untuk menyentuh Rachel lagi. Jika itu kembali terjadi, dirinya berjanji bahwa tidak ada kata aman bagi pelaku yang melakukannya.


“Kau boleh berpikir buruk tentangku, Rachel. Tetapi percayalah satu hal! Aku sama sekali tidak merencanakan semua itu. Bahkan sampai menyuruh orang asing, kau tidak perlu khawatir, aku akan mencari orang-orang yang sudah melukaimu itu. Sekarang bangun, dan pulanglah!” Gumam Leon menatapi gadis itu. Tidak ingin menambah lukanya, Leon memutuskan untuk pergi dari hadapannya.


Keesokan paginya di sekolah, Leon berjalan di lorong sekolah dengan wajah yang terlihat begitu menakutkan, dan membuat siapapun yang melihatnya merasa takut. Bahkan Denis sendiripun merasa bingung dengan apa yang terjadi pada temannya saat ini.


Belum tiba di ruang kelasnya, Leon menghentikan langkahnya di tengah-tengah lorong, dan hal tersebut membuat siswa lain menatapnya kebingungan. Denis yang masih berdiri di sisinya itupun hanya bisa memandang temannya.


“Leon, apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan ini?” Denis berbisik, namun Leon hanya memberikan tatapan yang benar-benar tidak di mengerti.


“Tidak ada yang mau mengaku? Baiklah, aku akan mencari tahunya sendiri. Dengar! Setelah ini, tidak ada satupun yang boleh mengerjainya atau bahkan sampai melukainya! Jika kalian tidak berbuat baik padanya, maka kalian akan berhadapan langsung denganku, dan disini hanya aku satu-satunya orang yang boleh menindasnya!”


“Apa kau sudah gila?” Denis terus saja merutukinya.


“Diam! Sebaiknya kau cari tahu saja, di antara Wilson, dan Farel, siapakah yang sudah berani memotret Rachel secara diam-diam. Beritahu aku setelah mendapatkannya!”


Setelah mengatakan semua itu, Leon kembali melanjutkan langkahnya, dan menuju ruang kepala sekolah. Dia benar-benar ingin tahu dengan jelas apa alasan gadis itu tidak masuk ke sekolah, dia hanya ingin memastikan bahwa gadis itu tidak masuk bukanlah karena alasan mengundurkan diri dari sekolah.


Kepala sekolah menceritakan apa yang ingin di dengar olehnya, dan Leon menghela napasnya saat mendengar alasannya, namun dia juga sedikit lega saat mendengarnya. Kemudian, ia memutuskan untuk keluar dari gedung sekolah, ia bahkan berpikir untuk membolos pada hari itu, dan pergi untuk menuju suatu tempat.


Berada di sebuah toko seragam milik sekolah, Leon kebingungan saat harus memilih ukurannya, hingga salah satu pegawai disana menghampirinya. Tidak memiliki banyak waktu, Leon meminta pegawai itu membawakan data ukuran siswa yang bersekolah di Saphhire Ocean High School.


Menemukan nama Rachel, dengan cepat Leon menunjukkan ukuran yang terdapat pada buku tersebut. Dia bukan hanya meminta pegawai itu membungkus satu saja, dia memintanya untuk membungkus 5 seragam sekaligus, dan juga tak lupa memberikan seragam musim panas.


Selesai di kemas, Leon segera membayarnya. Hingga tak lama kemudian, ponselnya berdering, dan itu berasal dari bawahannya. Dirinya berharap jika bawahannya memberikan sebuah kabar baik untuknya, dengan begitu ia bisa melakukan tindakan selanjutnya.


“Ketiga orang itu sudah bersama denganku, tuan.” Ungkapnya.


“Aku serahkan mereka padamu, Alex! Tetapi, jangan lakukan apapun sebelum mereka memberitahu apa motifnya melakukan tindakan konyol seperti itu.”


“Aku sudah menanyakan hal itu, dan mereka merupakan orang suruhan.” Alex menyeru seraya menatapi ketiga pria di hadapannya dengan tatapan yang mematikan.


“Jadi, siapa orangnya? Apa aku mengenalnya?”


Bersambung ...