
- Ketika jauh darimu aku sadar bahwa kebersamaan itu mahal, dan tak ternilai harganya. -
________________________________
Melihat Leon beserta gadis yang tengah bersamanya duduk di salah satu tempat yang kosong membuat para pengunjung, dan beberapa pegawai memperhatikan keduanya. Bagi mereka, Leon serta gadis itu benar-benar terlihat serasi.
Mencoba untuk menghindarinya, Rachel memutuskan untuk tidak pergi melayaninya, lagi pula temannya pun tengah berada di sana untuk mencatat pesanan mereka. Rachel lebih memilih berjalan menuju dapur, dan mencoba membantu pekerjaan yang ada disana.
“Di lihat dari dekat, ternyata tuan muda benar-benar sangat tampan sekali. Jantungku terus berdebar akibat itu.” Sahut salah seorang pegawai yang baru saja kembali dari meja yang di tempati Leon. “Mereka hanya memesan kopi.” Gumamnya lagi.
“Kenapa kau berlebihan seperti itu, Araya?” Wanita yang lebih tua dari Araya menyahut seraya tertawa kecil. “Ini sudah siap! Cepat antarkan!” Pintanya seraya memberikan baki.
“Rachel, kau saja yang antar!”
“Hah? Kenapa aku? Bukankah kak Araya menyukai tuan muda itu?” Rachel mencoba menggodanya, dan lagi-lagi wajah Araya memerah akibat ucapannya.
“Jika aku yang mengantarnya, aku takut akan menjadi bencana.”
Berbeda dengan mereka yang tengah berdebat, Leon masih menyilangkan kedua tangannya seraya memandangi ke segala arah. Dia berharap jika tidak akan bertemu dengan Rachel saat itu, tanpa sadar dia justru mengajak gadis di hadapannya untuk pergi menuju cafe yang mana tempat tersebut merupakan tempat Rachel bekerja.
“Aku rasa aku harus meluruskan sesuatu!” Sahut Leon yang kini mencoba membenarkan posisi duduknya, dan gadis di hadapannya mulai menatapnya. “Mari batalkan perjodohan ini, Flora!” Imbuhnya lagi.
Sepertinya gadis itu tak terkejut ketika mendengar kalimat yang baru saja keluar dari bibir Leon. Dia benar-benar tampak tenang, dan seolah hal itu bukan hal yang serius. Meski begitu, beberapa menit kemudian dia tersenyum ketus pada Leon, dan sikapnya itu membuat Leon kebingungan.
Setelah mendapati pernyataan pria di hadapannya, Flora mencoba untuk duduk dengan posisi tegak seraya menautkan kedua tangannya di atas meja, dia menatap Leon dengan tatapan yang begitu tajam, dan Leon pun membalas tatapan tersebut, tampak jelas bahwa sorotan Leon penuh dengan tanya.
“Kau pikir aku menginginkan perjodohan ini? Tujuanku menyetujui pergi bersamamu pun hanya untuk memintamu membatalkannya. Baguslah jika kita memiliki pemikiran yang sama.” Flora menaikkan sebelah sudut bibirnya.
Mengetahui bahwa gadis itu menginginkan hal yang sama membuat Leon tak mempercayainya. Tidak di sangka jika dia akan menyetujuinya dengan mudah. Sejak awal, dirinya sudah merasa takut bahwa Flora akan menolak untuk membatalkannya, dan mengadukan semuanya pada ibunya, namun siapa sangka jika itu kebalikannya?
Setelah melalui perdebatan yang cukup lama, akhirnya Rachel harus mengalah, dan membawa pesanan tersebut. Ketika menyimpan pesanan itu, Leon sangat terkejut ketika tahu bahwa memiliki jadwal saat itu, karena bukankah seharusnya dia berada di restaurant? Lalu kenapa bisa berpindah tempat?
“Selamat menikmati.” Gumam Rachel. Kemudian, dia segera berbalik untuk meninggalkan mereka, namun dengan cepat Leon menahan langkahnya.
Melihat Leon memegang pergelangan tangan seorang pelayan membuat Flora begitu tercengang. Apa yang pria itu lakukan? Bisa-bisanya dia menahan seorang pelayan, apa dia sudah kehilangan harga dirinya? Pikiran itu terus berputar di otaknya.
“Kau dengar itu? Seorang pelayan cafe memiliki hubungan yang luar biasa dengan tuan muda Leon.”
“Kau benar. Gadis itu sangat luar biasa.”
“Apakah yang dikatakan tuan muda Leon benar? Dia pasti hanya menjadikan gadis itu sebagai tameng bukan?”
“Aku rasa begitu. Demi menggagalkan perjodohan, tentu saja dia harus memiliki alasan yang kuat.”
“Atau mungkin gadis itu memiliki hutang pada tuan Leon, dan memintanya untuk bekerja sama."
“Ya, itu bisa juga terjadi.”
Bisikkan-bisikkan itu terus terdengar, bahkan beberapa pegawai cafe begitu terkejut mendengar penuturan Leon. Bukan hanya mereka, Rachel sendiri pun merasakan kekhawatiran berlipat-lipat. Bagaimana bisa pria itu mengatakan hal yang sensitif di depan umum?
Bagi Rachel, ucapannya itu bukanlah ide yang bagus. Penuturannya pasti akan merugikannya, dan membuat orang lain membencinya serta berpikir yang tidak-tidak soal dirinya, itu sangat tidak menguntungkan untuknya. Hal buruk lainnya, mungkin dia akan di jauhi oleh para pegawai cafe.
“Kau tidak perlu menggunakan pelayan cafe itu sebagai alasan, Leon. Bukankah aku sudah menyetujui untuk membatalkannya? Lagi pula, alasanku membatalkannya pun karena aku memiliki seseorang yang sangat berarti untukku. Jadi, berhenti bermain-main dengan gadis itu!” Timpal Flora seraya membenarkan tasnya. “Aku rasa ini sudah selesai, aku akan pergi. Setelah itu, aku akan mengatakan pada ayahku untuk tidak melanjutkan perjodohan gila ini!”
Dengan sombongnya Flora bangun dari duduknya, tak lupa untuknya menyelipkan selembaran uang di dalam bill yang terdapat di mejanya saat itu. Belum benar-benar meninggalkan tempatnya, Flora memandangi Rachel, dan tangan Leon pun tampak masih memegangi gadis itu.
“Aku akan memberikan sedikit tips juga untukmu! Anggap saja sebagai ganti rugi karena sudah menjadi bahan perbincangan.” Flora kembali menyahut seraya menyunggingkan senyum sinisnya, kemudian dia bergegas pergi.
“Berhenti disitu, Flora! Apa kau tahu bahwa sikapmu itu merendahkannya? Apa kau pikir aku bercanda dengan ucapanku?” Leon menundukkan pandangannya, namun kalimatnya itu benar-benar terdengar dingin serta menusuk, Flora bahkan menghentikan langkahnya, dan kembali untuk menoleh.
“Hah? Apa kau sudah kehabisan akal? Berhentilah bercanda, Leon!” Tutur Flora seraya menyilangkan kedua tangannya.
“Kenapa juga aku harus bercanda denganmu? Apa aku memiliki alasan untuk melakukan itu?” Kini, Leon berdiri, dia juga menggenggam erat tangan Rachel, namun Rachel mencoba untuk melepaskan diri, karena dia mulai merasakan sebuah tatapan yang sangat mematikan dari orang-orang di sekelilingnya.
“Ck. Kau mungkin bisa menerimanya dengan tangan serta hati terbuka. Namun, bagaimana dengan ibumu? Mengingat ibumu sangat memikirkan kasta keluarganya, aku rasa dia akan mempersulit hubungan kalian. Aku benar-benar penasaran, sangat menantikan kelanjutan hubungan kalian.” Celetuknya dengan nada mengejek, setelah itu dia pun benar-benar pergi meninggalkan tempat tersebut.
Bersambung ...