
- Tidak mengenalnya di awal, mungkin merupakan keputusan yang benar –
•••••••••
Setelah turun dari taksi, ia segera membayarnya. Ia sedikit kesal karena harus mengeluarkan banyak uang untuk membayar taksi. Namun, tidak mungkin juga untuknya menggunakan bus dalam keadaan seperti itu. Dengan susah payah Rachel memapah pria itu hingga masuk ke dalam rumah sewanya.
Lalu, Rachel membaringkan tubuh pria itu di kasur lantai yang di milikinya. Tak sengaja menyentuh wajah pria itu, tidak di sangka jika pria di hadapannya mengalami demam, dan hal tersebut semakin membuatnya bingung.
“Apa yang harus ku lakukan? Dia akan semakin demam jika masih menggunakan pakaiannya itu.” Rachel mengacak-ngacak rambutnya ketika memikirkan semua itu. “Tidak! Ini tidak bisa di biarkan! Aku harus melakukan sesuatu, tapi apa?” Rutuknya lagi.
Kemudian, ia menghela napasnya, dan mengaturnya secara perlahan. Mau tidak mau, dia harus melakukannya. Dengan terpaksa ia harus melepaskan pakaian pria itu, namun tanpa memandangnya sedikit pun. Setelah berhasil melepaskannya dengan susah payah, Rachel langsung melemparkan selimut ke arah tubuh pria itu sehingga bukan hanya tubuhnya saja yang tertutup, melainkan wajahnya juga.
Kini, Rachel dapat bernapas dengan lega. Lalu, ia menurunkan selimut miliknya secara perlahan agar wajah pria itu terlihat. Setelah itu, Rachel mengambilkan handuk kecil beserta mangkuk yang berisikan air di dalamnya, ia akan mengompresnya, dan berharap jika itu akan membuat demamnya turun.
Sembari menunggunya, Rachel membuka bukunya, dan mengerjakan soal latihan yang berada di bukunya. Setelah mengganti kompresan, ia kembali membaca bukunya, hingga kantuknya pun datang, dan buku yang berada dalam genggamannya ikut terjatuh.
Ketika pagi menjelang, pria tersebut membuka matanya secara perlahan, dan menyadari ada sesuatu di dahinya, ia langsung mengambilnya serta menyimpannya. Dirinya merasa terkejut ketika dia tak menggunakan pakaian pada tubuhnya, rasa terkejutnya kembali berlipat ketika menyadari ada seorang gadis duduk di sisinya dengan posisi duduk menyandar dengan kedua mata yang masih terpejam.
“KAU? Apa yang kau lakukan padaku?” Sahut orang itu, dan mendengar keributan membuat Rachel membuka kedua matanya.
“Astaga jam berapa ini?” Rachel menyahut dengan gusar seraya melihat jam yang tertancap pada dinding rumahnya.
“HEY! Apa kau tidak mendengarku? Apa kau bisa memberikan alasan yang bagus untuk perbuatanmu ini? Jika tidak, aku bisa menuntutmu dengan tuduhan pelecehan.” Tutur orang itu dengan kesal, dan Rachel baru sadar jika dia memang membawa seseorang ke rumahnya.
“Benar-benar tidak tahu terima kasih!” Rachel menggerutu seraya memberikan tatapan sinis pada pria itu.
“Apa maksudmu?” Dengan cepat pria mengenakan pakaian yang berada di sisinya.
“Kau pingsan di tengah hujan, dan aku terpaksa membawamu kemari karena aku tidak tahu dimana tempat tinggalmu. Maaf jika tidak ku bawa ke rumah sakit, rumah sakit membutuhkan biaya masuk, meski kau orang berada, tetap saja mereka akan meminta uang itu padaku, dan aku tidak memilikinya.”
“Tindakan tak senono apa yang kau maksudkan? Dengar! Aku sungguh tidak melihat tubuhmu itu, aku memiliki cara sendiri untuk melepaskan pakaian basah dari tubuhmu itu. Satu lagi yang harus kau tahu, karena kaulah aku harus mengeluarkan tabunganku hanya untuk membayar uang taksi!”
“Hanya uang taksi, kenapa harus sampai kesal seperti itu? Itu hal kecil untukku, berapa yang sudah kau keluarkan? Aku bisa menggantinya 10x lipat untukmu.” Sahutnya seraya mengeluarkan dompet dari dalam sakunya. “Ah aku tidak memiliki uang tunai, gunakan saja black cardku untuk menggantinya. Aku tahu jika kau pasti juga bingung bukan harus sarapan apa pagi ini? Ah atau kau juga bingung bagaimana caramu berangkat sekolah? Ingin tumpangan dariku? Oh atau sebenarnya semua ini sudah di rencakan olehmu?” Lanjutnya.
Mendengar semua penuturannya membuat Rachel menundukkan pandangannya. Kenapa dia harus mengenal pria satu ini? Setiap pertemuannya akan berakhir dengan sebuah perseteruan yang berujung menyakitkan hati serta perasaannya.
“Leon, kau tahu? Aku sungguh menyesal karena sudah menolongmu! Aku menyesal sudah membawamu ke rumahku. Jika kau sudah merasa baikkan, sebaiknya segera keluar dari rumah ini, dan bawa black cardmu itu!” Rachel melemparkan kartu itu, dan segera beranjak dari sana. “Ah ya satu lagi, aku tidak akan membocorkan hal ini, membocorkan soal tuan muda yang menginap di rumah sewa seorang gadis miskin.” Sambungnya lagi.
Rachel memasuki toilet yang ada di rumahnya. Saat pintu itu tertutup, ia duduk di balik pintu tersebut seraya membenamkan kepalanya di antara lututnya. Air matanya menetes di sana, namun ia menahan rasa sesak itu.
“Ayah, ibu, aku merindukan kalian.” Ujarnya.
- 1 minggu kemudian –
Ketika hari libur menjelang, Rachel akan kembali di sibukkan dengan 2 pekerjaan paruh waktunya. Mulai pagi hingga sore, ia akan bekerja di salah satu supermarket, dan dari sore hingga malam menjelang, ia akan kembali pada restaurant keluarga itu.
Dalam perjalanan menuju supermarket, Rachel memutuskan untuk menggunakan bus. Saat hari libur, bus masih begitu ramai di tempat tersebut, sehingga ia tidak menemukan tempat duduk ketika sudah berada di dalam bus.
Mengejutkan, ia bertemu dengan Evan di dalam bus itu. Namun, ia bersikap seolah tak melihatnya sedikit pun. Ia segera memasangkan earphone pada telinganya, dan menyalakan musiknya, mencoba mengalihkan semuanya. Hingga bus pun mendadak berhenti, dan hal itu membuat tubuh Rachel hampir terjatuh, untunglah ada Evan yang menahannya.
“Terima kasih.” Ulas Rachel yang segera menjauh dari jarak tubuh itu. Dahulu, keduanya terlihat begitu dekat satu sama lain, sampai sulit untuk di pisahkan. Namun, kali ini, keduanya tampak seperti orang yang tidak saling mengenal.
Hal itu memang menyakitkan. Melihat Rachel turun dari bus tersebut, membuat Evan kembali mengikutinya. Pertemuannya di dalam bus memang memang suatu kebetulan, namun ketika menyadari kehadirannya sungguh membuat Evan penasaran akan gadis itu.
“Sebenarnya apa yang mau dia lakukan di pagi hari ketika sedang libur? Kenapa dia terlihat begitu rapi sekali?” Gumamnya penasaran.
Bersambung ...