
- Tidak setiap pondasi yang runtuh bisa kembali berdiri. Sama halnya dengan suatu kepercayaan, jika kau mengingkarinya, maka akan sulit untuk mendapatkannya kembali. –
__________________________
Di tempat berbeda, di jam pulang sekolah, Evan menunggu seseorang di gerbang sekolah. Sesekali ia menoleh ke dalam, memperhatikan orang yang di tunggunya telah keluar atau belum. Hampir 30 menit ia menunggunya, namun kenapa orang itu masih belum keluar? Bahkan ponselnya tidak dapat di hubungi, hingga ia melihat seseorang yang di kenalnya, dan lekas menghampirinya.
"Liana, kau tidak bersama dengan Rachel?" Evan tampak kebingungan, karena biasanya gadis itu akan keluar bersama dengan temannya.
"Tidak. Rachel pulang lebih cepat."
"Apa yang terjadi? Apakah dia sakit? Beritahu aku alamatnya, dan aku akan menjenguknya. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?"
"Dia tidak sakit. Lagi pula, aku sangat yakin jika dia tidak akan di rumah."
"Jika dia tidak sakit, kenapa dia pulang lebih cepat?" Evan terus mencecarnya dengan sebuah pertanyaan, dan Liana tampak menghela napasnya.
"Dia tidak menggunakan seragam yang seharusnya, karena itulah frau menyuruhnya untuk pulang." Pungkas Liana.
Pria itu terkejut dengan pernyataan gadis di hadapannya. Entah apa maksud dari tidak menggunakan seragam yang seharusnya. Melihat Liana berjalan melaluinya, Evan lekas mengejarnya, dan kembali menahan langkah gadis itu.
"Tunggu, apa maksud dari ucapanmu? Bagaimana bisa dia tidak..."
"... seseorang kembali menjahilinya, dia kehilangan seragamnya setelah pelajaran olahraga. Sebelum keluar, aku pun sudah mencoba mengeceknya lagi, dan ternyata memang tidak ada. Entah siapa yang melakukan hal itu padanya." Liana menyela ucapan pria itu.
"Baiklah, terima kasih Liana."
Gadis itu menganggukkan kepalanya, kemudian bergegas pergi meninggalkannya. Sedangkan Evan, ia terdiam tejenak, dirinya sudah benar-benar tidak mengerti harus melakukan cara apa lagi untuk melindunginya. Merasa tahu kemana gadis itu, Evan segera bergegas meninggalkan sekolah untuk menuju suatu tempat.
Pemberhentian halte membawanya ke sebuah minimarket, dan benar saja jika Rachel masih berada di sana. Dia dapat melihatnya di meja kasir tengah melayani beberapa pelanggan yang datang, sesekali ia melihatnya tengah berbicara dengan rekannya.
Langkah kakinya membawa Evan masuk ke dalam, ia memberanikan dirinya untuk menemui gadis itu, sebelum melangkah masuk, pandangan meluas ke sekelilingnya, takut jika ada yang memperhatikan dirinya.
Ternyata dia sudah lebih dulu berada di sana. Sebenarnya sedekat apa hubungan kalian?
Seakan bersembunyi merupakan keahliannya, Leon menatapi Evan yang tengah berjalan memasuki minimarket tempat Rachel bekerja, hingga akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut. Pikiran, dan hatinya terus mengutuk dirinya, untuk apa juga dia datang ke tempat itu? Sejak kapan dia mengkhawatirkan gadis yang berada di dalam sana? Hal itu membuat Leon merasa kesal.
“Selamat dat...” Rachel tampak terdiam ketika melihat pelanggan yang datang memasuki minimarket tersebut, kemudian rekan yang berada di sisinya pun menoleh menatapnya.
“Selamat datang, dan selamat berbelanja.” Rekannya menyahut seraya tersenyum ke arah pria yang baru saja masuk. “Kau terpaku seperti itu pasti karena melihat ketampanannya, ya? Dia memang sungguh mempesona, namun kita harus tetap profesional, Rachel.” Rutuknya lagi.
Evan mengambil 2 botol kaleng soda dari dalam lemari pendingin yang ada di minimarket itu, setelahnya ia segera berjalan menuju ke kasir agar dapat membayar minuman miliknya. Tangan Rachel terasa kaku saat hendak menscan minuman tersebut.
“Bisakah kita bicara sebentar?” Ucap Evan setelah membayar minuman yang di belinya. Mendengar pernyataannya membuat rekan kerja Rachel langsung menatap ke arahnya.
"K-kau mengenal pria tampan ini?" Rekannya berbisik, dan dibalas sebuah anggukkan kecil oleh Rachel.
“Kak, aku keluar sebentar.” Tutur Rachel yang kemudian mengikuti langkah Evan, dan mereka duduk di salah satu kursi yang berada di luar minimarket.
Rachel tampak menundukkan pandangannya, dan Evan masih menatapnya dengan begitu lekat. Tidak lama kemudian, pria itu mengeluarkan minuman yang dibelinya dari dalam plastik, dan memberikannya pada Rachel.
Hanya menatap kedua matanya saja sudah membuat Evan tahu apa yang tengah di rasakannya sekarang. Seakan tidak bisa menyembunyikan apapun darinya, Rachel bingung harus mengatakan apa padanya.
“Maafkan aku.” Gumam Evan, dan hal itu membuat Rachel menatapnya. “Sejak awal aku memang memintamu untuk menjauhiku serta berlaku seolah tak mengenalku saat berada di sekolah, aku melakukan semua itu demi melindungimu. Tetapi, siapa sangka jika hal yang ku rasa benar semuanya hanya sia-sia. Ada atau tanpa adanya aku, kau tetap mendapat perlakuan yang buruk dari mereka.” Sambungnya.
“Apa kedatanganmu hanya untuk mengatakan itu, kak?” Mendengarnya membuat Evan menganggukkan kepalanya. “Kau tidak perlu meminta maaf atas perbuatan yang tidak kau lakukan sama sekali. Untuk memasuki tempat itu, aku sudah menyiapkan segalanya. Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu lagi.” Ucap Rachel mencoba tersenyum ke arahnya.
“Mulai hari ini jangan sembunyikan semuanya sendiri. Katakan padaku jika ada yang mengganggumu lagi, kau mengerti?”
“Lebih baik sekarang pulanglah! Aku akan kembali bekerja.” Imbuh Rachel yang kemudian masuk ke dalam, dan Evan tahu jika apa yang di ucapkannya tidaklah sesuai dengan yang di rasakan oleh hatinya.
Kini, kau tampak enggan untuk membagi luka yang kau rasakan. Sejak awal, ini memang kesalahanku! Jika saja saat di pertemuan kita aku tidak mengabaikanmu, mungkin kau tidak akan seperti sekarang. Disini, akulah yang paling bersalah.
Evan tampak mentertawakan dirinya sendiri akibat perbuatan yang di lakukannya saat itu, dan ingin rasanya ia mengulang kembali waktu untuk memperbaiki kesalahannya.
Ketika petang menjelang, Rachel kembali menuju restaurant keluarga untuk melanjutkan pekerjaan paruh waktu yang ia miliki. Tidak di sangka jika restaurant itu tengah ramai pelanggan, dan manager di tempat itu segera memintanya untuk cepat mengganti seragamnya.
Bagi Rachel, orang-orang di restaurant tersebut sudah bagaikan keluarga baginya. Mereka tampak peduli dengan dirinya, dan itu membuat kekosongan pada Rachel seakan terisi. Karena itulah dia selalu merasa senang jika berada di tempat itu.
Wajah cerianya kembali seolah beban dalam bahunya telah lenyap. Senyumannya pun terlukis begitu tulus di wajahnya sehingga membuat pekerjaannya pun terasa ringan meski banyak pelanggan yang datang, dan membuat mereka yang ada disana kerepotan.
Cih, ternyata dia sangat manis jika tengah tersenyum seperti itu.
Seseorang kembali memperhatikannya dari kejauhan, dan tanpa sadar ia juga tersenyum saat melihat gadis itu. Ketika menyadari sesuatu, ia merasa bingung dengan dirinya, dan apa yang terjadi padanya? Dia bahkan tersenyum hanya karena melihat gadis tersebut. Tidak ingin lebih lama lagi di persembunyiannya, ia segera pergi meninggalkan tempat itu.
Bersambung ...
Kyushine mengucapkan 1 syawal 1441 H. Taqoballalahu minna wa minkum. Selamat hari raya idul fitri bagi yang menjalankan💙
Maaf daku jika ada salah kata untuk para readers sekalian💙