Time With You!

Time With You!
Time With You! Bagian 43



- Saat orang lain memilih sesuatu, lalu dia menginginkannya, dan mengatakan bahwa itu indah. Haruskah aku berpendapat yang sama? Memilih hal yang sama itu boleh, tetapi bukan berarti aku juga ingin memilikinya. –


__________________________________


“Tetapi, ibumu memiliki jalan lain untuk masa depanmu, Leon. Hubungan pasti kita tidak akan bisa berjalan dengan baik.”


“Tidak peduli dengan apa yang di pikirkan oleh ibuku. Ini hidupku, dan aku yang menjalani, aku tidak akan membiarkan siapapun untuk mencampurinya.” Sahut Leon yang kemudian membawa Rachel kedalam pelukannya. “Selama kau mau melaluinya bersamaku, maka aku bisa melawan semua rintangan yang menghalangi hubungan kita.” Imbuhnya lagi.


Jam pulang sudah tiba, dan Liana bergegas menghampiri Rachel ketika melihat temannya telah siap meninggalkan ruang kelas. Gadis itu membisikkan sesuatu pada Rachel, dan Leon yang melihat hal tersebut menatapnya tak suka, sedangkan Denis hanya kebingungan dengan sikap Liana kali ini.


“Baiklah. Aku akan meminta izin dari pekerjaanku hari ini.” Tutur Rachel seraya tersenyum.


“Terima kasih banyak, Rachel. Bagaimana jika kita pergi sekarang saja?” Liana membalas dengan senyum yang terukir di bibirnya.


“Yaak! Kau mau membawa Rachel kemana? Denis, tidak bisakah kau pulang bersama dengan kekasihmu ini? Aku tidak akan membiarkan dia membawa Rachel, aku...”


“... aku akan menghubungimu nanti malam.” Rachel menyela ucapan Leon, lalu dia pun segera keluar ruang kelas bersama dengan temannya.


Merasa di abaikan serta tak ada yang mendukung, Leon hanya bisa menghela napasnya, dan Denis menghampirinya seraya menepuk-nepuk punggung Leon. Dengan sedikit tawa kecilnya, Denis duduk di hadapan Leon yang masih sibuk dengan tasnya.


Sampai saat itu, Denis masih tidak menyangka jika temannya akan benar-benar menyatakan perasaannya pada Rachel. Terkadang, dia memastikan mengenai hubungan keduanya, namun Leon selalu memutar balik pertanyaannya.


Mengetahui apa yang sempat terjadi pada keduanya, membuat Denis sedikit gelisah. Dia takut jika hubungan keduanya tidak memiliki sebuah masa depan yang bagus, terlebih ketika mendengar bahwa ibunya Leon ingin menjodohkannya dengan seseorang yang bahkan kekuasaannya tak perlu di ragukan lagi di negara tersebut.


Sama halnya dengan keluarga Leon, keluarga yang ingin di jadikan besan oleh Alira merupakan keluarga yang tak kalah kuat dengan keluarganya. Dengan pernikahan tersebut, bukankah hubungan antar kedua keluarga bisa semakin kuat? Itulah yang di inginkan oleh Alira selaku ibunya Leon.


“Apa Rachel tahu mengenai perjodohan itu?” Denis menyahut, dan mendengar itu membuat gerak tangan Leon berhenti. “Bagaimana kau menjalani hubungan kalian ke depannya? Apa ibumu tahu bahwa kau memiliki gadis lain?” Sambungnya lagi.


“Rachel tahu soal ini, dan aku meminta dia untuk tetap bersamaku. Aku tidak akan mengikuti permintaan ibuku. Sekali saja aku menurutinya, maka dia akan menjadikanku sebagai bonekanya demi mendapatkan keinginannya. Bantu aku merahasiakan hubunganku dengan Rachel dari ibuku.” Sahut Leon yang langsung mengangkat tasnya.


“Lalu, bagaimana dengan ayahmu? Apa dia tahu soal perjodohan itu?”


“Aku tidak tahu soal itu. Mengingat ayah tidak mengatakan apa-apa padaku, aku rasa ayah tidak mengetahuinya. Ayah selalu menjadi pihak terakhir yang diberitahu oleh ibu, dia tidak ingin ayah merusak semua rencananya. Sudahlah, sebaiknya kita pulang saja!”


Yah, hubungan orang tua Leon memang terbilang sudah tak harmonis sejak lama. Keduanya selalu mempeributkan hal kecil. Sejak dulu, Alira selalu mengejar karirnya, dia bahkan selalu tak memiliki waktu dengan putranya.


Berbeda dengan suaminya, Tom. Sesibuk apapun dia dengan pekerjaannya, dia selalu menyempatkan diri untuk bermain bersama dengan putranya. Meski lelah dengan bisnisnya, ketika tiba di rumah, dia selalu berusaha untuk bermain sebentar dengan Leon terlebih dahulu, namun semua itu tak bertahan lama. Hingga Leon memasuki sekolah menengah pertama, ayahnya memilih untuk pindah ke New York.


Malam telah tiba, Leon terlihat tengah berbaring di ranjangnya dengan kedua mata yang terpejam. Libur sekolah akan segera tiba, entah apa yang akan di lakukan olehnya selama libur, dia ingin menyibukkan dirinya, agar ibunya tidak bisa mengajaknya pergi menemui keluarga itu lagi.


Makan malam telah selesai di langsungkan. Alira berbicara banyak soal perjodohan antara putranya dengan putri dari keluarga yang di undangnya. Gadis itu pun tampak diam mendengarkan saat orang tuanya membahas soal perjodohan keduanya.


Sama halnya seperti Leon, gadis itu juga terlihat tak menginginkan perjodohan itu. Tanpa mempedulikan pembicaraan mereka, Leon terus memperhatikan jam yang melingkar di tangannya. Pikirannya kacau, dia terus memikirkan Rachel, dan juga mencemaskannya.


“Bagaimana jika saat liburan sekolah kita melakukan kemah? Dengan begitu kita bisa memberikan waktu pendekatan bagi anak kita.” Sahut Alira dengan memegang gelas di tangannya.


“Aku rasa itu sebuah ide bagus.” Timpal pria di hadapannya.


“Aku tidak ada waktu untuk membicarakan hal seperti ini. Aku harus pergi sekarang, permisi!” Dengan mengabaikan pertemuan itu, Leon segera pergi meninggalkan rumahnya.


Mengingat semua itu membuat Leon merasa penat. Dia harus memikirkan cara untuk membatalkan perjodohan itu. Bagaimana pun dia tidak ingin meninggalkan Rachel. Bagi dirinya, Rachel adalah orang pertama yang melihat dirinya seperti pria biasa, bukan dari pria yang memiliki latar belakang yang hebat.


Mendengar ponselnya berdering, Leon membuka kedua matanya secara perlahan. melihat nama yang tertera pada layar ponselnya, sebuah senyum terukir di bibirnya. Tidak ingin membuat orang di seberang sana menunggunya, dia segeraa menerima panggilan tersebut.


“Dari mana saja kau hari ini? Apa yang kau lakukan bersama dengan Liana? Tidak bisakah kau memberitahuku?”


“Apa yang terjadi padamu? Suaramu terdengar sedikit aneh, apa kau sakit?” Rachel tampak khawatir ketika mendengar suara Leon yang sedikit serak.


“Aku baik-baik saja. Kau belum menjawab pertanyaanku, Rachel.”


“Liana ingin memberikan sesuatu pada Denis, dan dia juga ingin memberiku sesuatu untuk hadiah ulang tahunku.”


Hadiah ulang tahun? Ah, aku bahkan lupa untuk memberikannya. Setelah tak menepati janjiku, aku bahkan tak memberikan apapun padanya.


“Leon. Apa kau sungguh baik-baik saja?”


“Besok tidak perlu datang ke restaurant! Aku akan mengatakan pada manager Shaw bahwa besok kau akan pergi bersama denganku. Bersiaplah! Aku akan menjemputmu pukul 8 pagi.”


“Kemana kita akan pergi? Apakah harus sepagi itu?”


Bersambung ...