
- Bersamamu aku bahagia, dan tanpamu aku terluka. -
_________________________________
Genggaman itu terasa begitu erat, Rachel mencoba untuk melepaskan genggaman tersebut, namun Leon tak berniat untuk melakukan hal itu. Tatapannya semakin tajam, dan menuntut jawaban dari gadis di hadapannya.
“Lepaskan tanganku, Leon!” Rachel menyahut seraya berusaha memberontak, akhirnya Leon melepaskannya, namun dia masih tak melepaskan pandangannya.
“Jangan bilang jika itu pemberian Evan?” Tuturnya, dan Rachel pun mengangguk pelan. “Mau kau yang melepasnya dengan suka rela atau aku yang melepasnya dengan paksa?” Tawarnya. Kemudian, gadis itu menggenggam gelang tersebut, hingga Leon kembali menarik pergelangan tangan Rachel, dan mencoba melepaskannya.
“Apa yang kau lakukan? Memang kenapa jika aku menggunakannya? D-dia memberiku ini sebagai hadiah ulang tahunku.” Gumamnya yang menarik tangannya dari genggaman Leon.
Rachel tidak ingin pria di sisinya melepaskan gelang tersebut. Setidaknya dia hanya ingin menghargai pemberian orang lain padanya, lagi pula Evan bukanlah orang lain bagi dirinya, dan Leon tidak bisa melakukan itu kepadanya.
Tidak ingin kalah, Leon terus memaksa gadis itu untuk membuka gelang itu, dan menyingkirkannya, namun Rachel tetap dengan pendiriannya, dia tidak akan melepaskanya, dan meminta Leon untuk mencoba memahaminya.
Emosi Leon kali ini benar-benar tak bisa terkontrol dengan baik, dan hal itu dapat di rasakan oleh Rachel. Dia tidak tahu apa yang sudah membuat pria di sisinya berbuat seperti itu, dia juga tidak tahu apa yang sudah terjadi padanya, karena tidak biasanya pria ittu bersikap seperti demikian kepadanya.
Mencoba meredakan amarahnya, dengan sedikit kecewa, Rachel memilih mengalah, dan melepaskan gelang yang di kenakannya. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, dia langsung memasukkannya ke dalam tas miliknya.
“Aku rasa kau sedang tidak dalam kondisi baik. Jadi, sebaiknya kita pulang saja!” Ucap Rachel yang langsung berdiri, dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Ingin menyahut, namun Rachel sudah menjauh darinya. Pada akhirnya, Leon segera menyusulnya, dan berjalan di belakangnya. Pikirannya benar-benar kacau, dia sendiri bingung kenapa dirinya bisa berbuat seperti itu.
Apa yang sudah ku lakukan? Aku membawanya kesini untuk bersenang-senang, dan juga untuk menebus kesalahanku padanya. Tetapi, aku justru mengacaukannya, aku bahkan membuatnya marah padaku.
Semakin diam, semakin merasa bersalah, dan Leon segera menarik tangan gadis itu hingga berbalik ke arahnya. Rachel memandangnya yang tengah menundukkan pandangannya, namun terlihat jelas dari sorotan matanya bahwa dia tengah menyesali perbuatannya.
“Apa kau sedang memiliki masalah? Kau bisa memberitahuku jika kau mau.” Gumam Rachel mencoba untuk mempersempit jaraknya. “Apa kau sedang memikirkan soal perjodohan itu lagi?” Tambahnya lagi.
“Ibuku memiliki rencana untuk mendekatkan kami, dia ingin aku pergi kencan bersama dengannya ketika liburan sekolah nanti.”
Gadis manapun akan merasa tidak senang jika kekasihnya akan pergi dengan wanita lain selain dirinya, dan mereka pun pasti akan melarangnya agar pasangannya tak melakukan hal demikian, begitu pun dengan Rachel. Dia tidak mungkin membiarkan Leon untuk pergi bersama dengan wanita itu, namun alasan kuat apa yang bisa melarangnya?
Melihat Rachel yang ikut menundukkan wajahnya membuat Leon khawatir, dia takut jika gadis di hadapannya akan berpikiran macam-macam, dan dia tidak ingin jika itu akan berpengaruh pada hubungan keduanya.
“Pergilah! Kau bisa pergi bersama dengannya. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku.”
“Apa maksudmu? Kenapa kau jadi memintaku untuk pergi?”
“Kau tidak menyukai gadis itu, kau juga tidak menginginkan perjodohan itu. Jadi, kenapa aku harus takut jika kau akan berpaling?”
“Aku memiliki ide, aku akan gunakan hal itu untuk memberitahunya, memperjelas semuanya bahwa aku tidak menginginkan perjodohan tersebut. Dengan begitu, aku akan meminta dia untuk mengatakan pada orang tuanya agar membatalkan rencana ini, yah seperti itu, bagaimana?”
Menanggapi penuturan pria di hadapannya membuat Rachel tersenyum, kemudian Leon membalas senyuman tersebut dengan membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Leon benar-benar menyesali perbuatannya, namun Rachel tetap memintanya untuk membawa dirinya pergi dari sana.
“Sebentar!” Sahut Leon yang kembali menahan langkah Rachel ketika gadis itu hendak berjalan.
“Ada apa lagi? Ini sudah hampir sore.” Gumam Rachel.
“Berikan gelang itu padaku!” Leon menengadahkan tangannya, dan gadis itu menatapnya lekat. “Aku tidak akan membuangnya atau merampasnya darimu. Cepat berikan padaku, percayalah!”
Dengan sedikit keraguan, Rachel mengambil gelang miliknya, dan memberikannya pada pria di hadapannya. Dia berharap jika Leon tidak akan merusaknya. Gelang itu sudah berada dalam genggaan Leon, dan dia juga tampak tersenyum saat menggenggamnya.
“Apa yang mau kau lakukan dengan gelang itu?” Rachel menyahut dengan ragu.
Tidak menjawab pertanyaannya, Leon meraih tangan kanan gadis di hadapannya, dan mencoba kembali memasangkan gelang tersebut. Sikapnya membuat Rachel terharu, dan itu membuatnya merasa lega.
“Maafkan keegoisanku, kau boleh memakainya jika kau menyukainya.” Senyuman yang hangat itu membuat Rachel menganggukkan kepalanya. “Sekarang tutup matamu, dan jangan membukanya sebelum aku menyuruhmu!” Imbuhnya lagi.
Setelah memastikan bahwa Rachel telah menutup matanya, Leon segera mengambil sesuatu dari dalam jaketnya. Sebuah kotak yang berukuran kecil di bawa sejak tadi olehnya, dan itu merupakan sesuatu yang sangat ingin diberikan olehnya. Dia juga berharap jika gadis di hadapannya akan menyukainya.
“Sekarang bukalah matamu!” Sesuai dengan permintaannya, Rachel membuka kedua matanya, dan dia terkejut melihat sesuatu yang berada di hadapannya.
“Apa kau menyukainya?” Tutur Leon seraya tersenyum.
Bersambung ...